-
Seruan pembunuhan terhadap Donald Trump menggema langsung dalam upacara pemakaman massal Ayatollah Khamenei.
-
Negosiasi penghentian perang dan jalur energi Selat Hormuz resmi ditangguhkan akibat situasi yang memanas.
-
Calon Pemimpin Tertinggi baru Iran absen dari upacara karena diduga terluka akibat serangan udara.
Suara.com - Ratusan ribu pelayat di Iran Tehran menyerukan kematian Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran. Eskalasi retorika ini berpotensi membekukan negosiasi damai yang tengah berjalan guna menghentikan konflik bersenjata bilateral.
Provokasi langsung dari atas panggung utama ini menjadi penanda runtuhnya diplomasi informal di tengah duka nasional Iran. Gelombang sentimen anti-Barat kembali mencapai puncaknya melalui orasi yang disebarluaskan ke seluruh penjuru ibu kota.
Slogan-slogan radikal tertulis jelas pada berbagai poster dan coretan dinding di sepanjang rute pemakaman kenegaraan tersebut. Massa menuntut pembalasan ekstrem kepada para musuh bebuyutan rezim Tehran, termasuk Perdana Menteri Israel.
Penyair Mohammad Rasouli bertindak sebagai pemandu yang membakar amarah massa di bawah pengeras suara raksasa. Pekikan permusuhan terus berkumandang seiring sang provokator mempertanyakan status hidup kepala negara Amerika Serikat.
"Mengapa pria paling bajingan di dunia itu masih hidup?" tanya Rasouli kepada massa.
Sorak-sorai massa menyambut kalimat tersebut seolah mengamini bahwa perdamaian global tidak lagi membutuhkan kehadiran Trump. Rasouli kembali menegaskan retorikanya yang disambut dengan kepalan tangan ratusan ribu warga berpakaian hitam.
"Dunia bukan lagi tempat yang baik untuk," Trump, lanjut sang penyair di depan khalayak.
Ulama syiah senior berusia 97 tahun, Ayatollah Jafar Sobhani, kemudian memimpin ibadah salat jenazah di Grand Mosalla. Prosesi sakral ini dihadiri langsung oleh jajaran putra mendiang Khamenei serta Presiden Masoud Pezeshkian.
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf beserta Panglima Garda Revolusi Jenderal Ahmad Vahidi tampak hadir di barisan depan. Begitu pula dengan Esmail Qaani, komandan Pasukan Quds yang bertanggung jawab atas operasi luar negeri.
Baca Juga: Iran Ancam Jet Tempur Amerika Serikat Lewat di Udara Selat Hormuz
Namun, ketidakhadiran penerus takhta kekuasaan Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memicu spekulasi besar mengenai kondisi internal rezim. Sosok yang diproyeksikan menjadi Pemimpin Tertinggi baru itu dikabarkan bersembunyi akibat luka pasca-serangan udara Israel.
Lautan manusia pada hari kedua pemakaman ini jauh lebih masif dibandingkan upacara pelepasan di hari pertama. Di saat bersamaan, Donald Trump memberikan pidato kenegaraan memperingati hari jadi Amerika Serikat yang ke-250 di Washington.
Trump mengklaim keunggulan mutlak militer negaranya atas musuh-musuh geopolitik di Timur Tengah dan Amerika Latin. Ia sesumbar telah melumpuhkan kekuatan pertahanan lawan dalam operasi militer komprehensif beberapa waktu lalu.
"Kita telah meraih kesuksesan yang luar biasa," ujar Trump saat membahas kekuatan militernya.
Respons agresif Trump ini melengkapi klaim penghancuran total yang pernah ia lontarkan terhadap peradaban Iran. Pemerintah federal Amerika Serikat sendiri mengakui telah melacak ancaman pembunuhan terhadap pejabat mereka sejak beberapa tahun terakhir.
"Anda lihat Venezuela, Anda lihat Iran. Kita menyapunya, menyapu bersih militer mereka," tambah Trump.
Perseteruan akut ini berakar dari keputusan masa lalu Trump yang memerintahkan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada tahun 2020. Meskipun Iran membantah plot pembunuhan sistematis saat ini, propaganda internal mereka terus menempatkan Trump sebagai target utama.
Mendiang Ayatollah Ali Khamenei sendiri tewas akibat serangan udara fatal pada permulaan meletusnya perang tersebut. Kematian figur sentral ini otomatis menunda proses diplomasi pengamanan Selat Hormuz yang sangat vital bagi pasokan energi dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif