News / Nasional
Jum'at, 17 Juli 2026 | 10:29 WIB
ilustrasi curhat ke AI (Pexels/Matheus Bertelli)
Baca 10 detik
  • Yayasan Digital Resilience Indonesia menemukan bahwa 59,4 persen Gen Z di Indonesia sering mencurahkan persoalan pribadi kepada teknologi AI.
  • Anak muda memilih chatbot sebagai ruang aman karena merasa bebas berbicara tanpa takut dihakimi dibandingkan berinteraksi dengan sesama manusia.
  • Meskipun dianggap sebagai ruang alternatif, mayoritas responden menyatakan bahwa AI masih gagal memahami kedalaman emosi manusia secara menyeluruh.

Suara.com - Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini tak hanya dimanfaatkan untuk mencari informasi atau membantu pekerjaan. Bagi sebagian generasi muda Indonesia, AI juga mulai menjadi tempat mencurahkan persoalan pribadi.

Temuan tersebut terungkap dalam riset Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI). Riset menunjukkan sebanyak 59,4 persen Gen Z di Indonesia mengaku pernah curhat kepada AI. Topik yang paling banyak dibahas mulai dari pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan hingga persoalan keluarga.

Direktur Eksekutif DiRI, Farabi Ferdiansah mengatakan, fenomena tersebut menunjukkan chatbot kini telah menjadi ruang alternatif bagi anak muda untuk mencari bantuan maupun sekadar berbagi cerita.

"Dalam riset kami, sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah 'curhat' kepada AI. Hal ini menunjukkan bahwa chatbot telah menjadi ruang alternatif untuk mencari bantuan, berdiskusi, maupun berbagi persoalan pribadi," ujar Farabi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (17/7/2026).

Ia menjelaskan, banyak responden mengaku menghabiskan waktu lebih dari 10 menit dalam satu sesi percakapan dengan AI.

"Alasannya karena merasa lebih bebas berbicara kepada AI dan tidak takut dihakimi," katanya.

Senada, Peneliti DiRI sekaligus Direktur Digital Media Research and Consulting, Haris Fatwa menilai fenomena tersebut mencerminkan adanya krisis ruang aman bagi anak muda.

"Gen Z sebenarnya terliterasi soal bias dan halusinasi AI, tetapi mereka tetap memilihnya sebagai tempat bercerita. Hal ini mengindikasikan tingginya krisis ruang aman dan ketiadaan pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata, sehingga mereka rela menoleransi risiko demi mendapatkan responsivitas dan validasi instan," ujar Haris.

Meski demikian, Haris mengingatkan AI bukan pengganti hubungan antarmanusia. Riset itu sendiri juga menemukan kalau 70,2 persen responden mengeluhkan bahwa AI masih gagal menangkap kedalaman emosi manusia.

Baca Juga: Hackathon Digital Cooperatives 2026 Cetak Inovasi AI untuk Percepat Digitalisasi Koperasi Indonesia

Dilihat dari jenis kelamin, distribusi tingkat kepercayaan atau intensitas penggunaan AI untuk curhat menunjukkan perbedaan yang relatif kecil. Pada responden laki-laki, sebanyak 31,9 persen berada pada kategori trust rendah, 37,7 persen pada kategori sedang, dan 30,4 persen pada kategori tinggi. 

Pada responden perempuan, distribusinya adalah 33,3 persen rendah, 38,3 persen sedang, dan 28,4 persen tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa laki-laki sedikit lebih banyak berada pada kategori trust tinggi, tetapi selisihnya tidak besar, sehingga secara umum pola kepercayaan terhadap AI pada kedua kelompok cenderung serupa.

Load More