Otomotif / Mobil
Jum'at, 17 Juli 2026 | 08:36 WIB
Ilustrasi pekerja yang merakit mobil di pabrik. [Antara]
Baca 10 detik
  • Lonjakan permintaan chip untuk pusat data AI menyebabkan harga chip DRAM dunia melonjak 450 persen sejak September 2025.
  • Produsen mobil global seperti Ford dan Volkswagen terpaksa meningkatkan anggaran serta menyesuaikan proyeksi pembelian bahan baku hingga 2027.
  • Gangguan pasokan ini berdampak universal dan diprediksi akan terus menekan stabilitas produksi otomotif dunia hingga tahun 2028 mendatang.

Suara.com - Setelah industri otomotif sempat terguncang oleh krisis chip akibat pandemi COVID-19, kini masalah serupa muncul lagi. Bedanya, kali ini bukan virus yang jadi biang keladi, melainkan ledakan permintaan chip dari sektor AI.

Perusahaan teknologi berlomba membangun pusat data, menyerap pasokan chip DRAM dalam jumlah masif, dan membuat harga melonjak tajam.

Konsultan Kearney melaporkan harga spot chip DRAM naik sekitar 450 persen antara September 2025 hingga Januari 2026.

Laporan dari Carscoops menyatakan bahwa produsen mobil seperti Ford, General Motors, Volkswagen, Stellantis, Renault, dan BMW sudah mengantisipasi dampak ini.

"Saat ini rantai pasok chip memori masih utuh. Jika ada tantangan, kami siap bereaksi fleksibel dengan langkah terarah," kata seorang juru bicara VW.

Kenaikan harga chip mulai terasa sejak akhir 2025 dan semakin parah memasuki semester pertama 2026. Lonjakan ini terjadi cepat, membuat banyak pabrikan mobil harus menyesuaikan proyeksi pembelian bahan baku untuk tahun 2026 dan 2027.

Fenomena ini terjadi secara global, terutama di Eropa dan Amerika Serikat, di mana pabrikan mobil besar berbasis.

Namun dampaknya bisa meluas ke Asia, termasuk Indonesia, karena rantai pasok chip bersifat internasional.

Hampir 90 persen pasokan DRAM dunia dikendalikan oleh Samsung, Micron, dan SK Hynix, sehingga tekanan harga berlaku universal.

Baca Juga: Usai Tuai Kritik, Samsung Klarifikasi Isu Penghapusan Data Samsung Health

Ilustrasi chipset. [Unsplash]

Permintaan chip melonjak karena pusat data AI membutuhkan kapasitas memori besar untuk melatih model kecerdasan buatan.

Produsen chip lebih memilih menjual ke perusahaan AI yang berani membayar lebih tinggi.

Akibatnya, industri otomotif yang juga bergantung pada chip memori ikut terjepit. Joachim Kahmann dari Stellantis menilai gangguan ini bersifat sementara, dengan prediksi kondisi bisa membaik pada 2028.

Dampak ke Produksi Mobil

  • Ford & GM: Sudah menambah anggaran pembelian bahan baku ratusan juta dolar untuk 2026.
  • VW: Mengklaim rantai pasok masih aman, tapi siap melakukan langkah antisipasi.
  • Stellantis: Meningkatkan proyeksi pembelian chip untuk 2026–2027, namun produksi belum terganggu.
  • Renault: Optimis industri akan beradaptasi lewat investasi dan ekspansi kapasitas.
  • BMW: Mengandalkan kontrak jangka panjang dengan pemasok, sehingga belum ada tanda-tanda gangguan produksi.

Meski pabrikan berusaha menenangkan pasar, laporan dari ZVEI menegaskan tekanan harga chip tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Dengan kapasitas produksi chip yang butuh waktu bertahun-tahun untuk ditambah, ancaman terhadap stabilitas produksi mobil tetap nyata.

Load More