News / Internasional
Minggu, 19 Juli 2026 | 11:43 WIB
Mojtaba Khamenei menegaskan tanda tangan Donald Trump tidak bernilai setelah Amerika Serikat melanggar kesepakatan damai.

Di tengah situasi yang genting ini, masyarakat domestik diminta untuk tetap solid di belakang jajaran pemerintahan. Komponen bangsa diharapkan tidak goyah dan tetap memberikan kepercayaan penuh kepada otoritas tertinggi negara.

Warga Iran diimbau untuk tetap waspada dan aktif saat pertempuran terus berlangsung. Kesetiaan kolektif ini dianggap sebagai modal utama untuk mempertahankan kedaulatan dari agresi asing.

Ancaman Penutupan Jalur Maritim

Krisis ini diprediksi akan semakin parah seiring munculnya laporan pergerakan dari kelompok pejuang Houthi di Yaman. Kelompok ini dilaporkan siap menutup akses maritim Bab al-Mandeb yang mengarah ke Laut Merah demi membela Teheran.

Jika blokade selat itu benar-benar terjadi, jalur perdagangan logistik internasional dipastikan akan lumpuh. Dampak langsungnya adalah guncangan pada pasar energi dunia, lonjakan inflasi, serta tekanan politik internal bagi Donald Trump.

Konfrontasi bersenjata ini pada dasarnya juga memicu gelombang protes dan ketidakpuasan di dalam negeri Amerika Serikat sendiri. Mayoritas warga Washington mulai merasakan dampak buruk dari kebijakan luar negeri yang agresif tersebut.

Kebijakan militer ini sangat tidak populer di AS dan telah menimbulkan kerugian ekonomi bagi warga Amerika. Anggaran negara yang terkuras untuk perang memicu sentimen negatif dari pembayar pajak di sana.

Sebagai informasi, nota kesepahaman (MoU) yang difasilitasi Qatar dan Pakistan awalnya dirancang sebagai landasan untuk menyudahi perang secara permanen. Namun kini, opsi damai tersebut telah musnah setelah kedua belah pihak saling melempar tuduhan pelanggaran.

Baca Juga: Inflasi AS Melandai, Indodax Ungkap Dampaknya terhadap Pergerakan Pasar Kripto Global

Load More