-
Dua wanita Indonesia disekap di Myanmar dengan kondisi luka fisik dan tangan terikat.
-
Pelaku meminta tebusan Rp 220 juta serta mengancam akan menjual organ tubuh korban.
-
BP3MI meminta masyarakat menghindari lowongan kerja luar negeri ilegal yang marak di media sosial.
Suara.com - Dua wanita asal Indonesia menjadi korban penyekapan brutal oleh sindikat perdagangan orang di Kota Myawaddy, Myanmar. Tragedi memilukan ini mencuat setelah rekaman video yang memperlihatkan kondisi mengenaskan mereka viral di media sosial.
Ayu yang berasal dari Agam, Sumatera Barat, dan Susi warga Tanjungpinang, Kepulauan Riau, terlihat mengalami luka fisik. Tangan mereka terikat erat dan bagian kaki dipenuhi luka akibat penganiayaan berat.
Jaringan kriminal yang menyekap kedua korban ini secara terang-terangan memeras pihak keluarga. Mereka menuntut uang tebusan sebesar Rp 220 juta agar kedua perempuan tersebut bisa dibebaskan.
Ancaman yang dilayangkan para pelaku pun sangat sadis dan tidak berperikemanusiaan. Jika uang tidak diberikan, korban akan dicambuk dan organ tubuh mereka terancam dipotong untuk dijual.
Merespons situasi darurat ini, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Barat bergerak cepat. Pihak berwenang langsung melakukan pelacakan terhadap rekam jejak keberangkatan para korban.
Kepala BP3MI Sumbar, Jupriyadi, membenarkan salah satu korban bernama Ayu.
"Ayu diketahui pernah mengurus paspor di Kantor Imigrasi Tangerang."
"Mereka berangkat melalui Malaysia dan Thailand hingga akhirnya masuk ke Myanmar. Di sanalah kemudian terjadi peristiwa yang menimpa mereka," ujarnya, Kamis lalu.
Langkah diplomasi internasional kini tengah diupayakan oleh pemerintah demi menyelamatkan nyawa kedua warga negara Indonesia tersebut. Koordinasi lintas instansi telah berjalan secara intensif guna mendesak tindakan penyelamatan di lapangan.
Baca Juga: Terkuak Motif Penyekapan di Bekasi: Pelaku Cemburu, Siksa Korban Dibantu Karyawan
BP3MI Sumbar kini telah menggandeng Pemerintah Kabupaten Agam dan Kepolisian Daerah Sumatera Barat. Mereka bersama-sama mendorong pemerintah pusat untuk segera mendesak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon.
Kasus ini menjadi alarm keras mengenai masih maraknya jalur pemberangkatan kerja ilegal ke luar negeri. Para mafia penyalur tenaga kerja memanfaatkan celah perbatasan untuk mengelabui petugas.
Jupriyadi menduga, keberangkatan kedua korban wanita itu dilakukan melalui jalur nonprosedural yang kerap dimanfaatkan jaringan perekrut ilegal untuk membawa calon pekerja migran.
Masyarakat diminta untuk lebih jeli dan tidak mudah tergiur oleh tawaran pekerjaan di luar negeri yang beredar di internet. Modus penipuan berkedok lowongan kerja di media sosial sering kali berakhir dengan penyiksaan.
"Jangan mudah percaya pada informasi di media sosial karena 99 persen hanya berisi iming-iming yang berpotensi menjerat masyarakat," tegasnya.
Secara regulasi, pemerintah sama sekali tidak memberikan izin penempatan tenaga kerja untuk negara Myanmar. Absennya hubungan kerja resmi ini membuat jaminan keselamatan pekerja di sana menjadi nihil.
"Pemerintah Indonesia secara tegas melarang bekerja di Myanmar karena tidak ada perjanjian kerja sama. Oleh sebab itu, keberangkatan secara tidak resmi sangat berisiko dan berpotensi membuat seseorang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang," tuturnya.
Kasus penyekapan pekerja migran Indonesia di Myawaddy, Myanmar, terus berulang akibat maraknya penipuan lowongan kerja daring (online scams). Wilayah Myawaddy merupakan zona konflik terisolasi di Myanmar yang kerap menjadi markas operasi sindikat kriminal internasional.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah menetapkan moratorium penempatan pekerja ke negara tersebut demi alasan keselamatan. Namun, sindikat ilegal terus memanfaatkan rute transit di Malaysia dan Thailand untuk menyelundupkan warga negara Indonesia secara nonprosedural.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
PPA Sulsel: Pelaku Kekerasan Anak Harus Diproses Hukum
-
Dampingi UMKM hingga Raih Izin Resmi, Inilah Upaya BRI Perkuat Ekonomi Lokal
-
Potret Akses Pendidikan di Aceh Barat, Guru dan Siswa Seberangi Sungai Lewat Kabel Baja
-
Cara Cabut Berkas Motor Terbaru, Ini Syarat dan Langkah Praktisnya Biar Nggak Ribet
-
Oppo Find X10 Series Dikabarkan Direvisi, Pro Max Berpotensi Gantikan Varian Ultra
-
Dikira Rehat Saat Cari Nafkah, Sopir Truk Tebu di Malang Ditemukan Meninggal dalam Kabin
-
Mengejar Pajak Motor Sampai Pertamina, Giliran Koruptor Hanya Kias Semata
-
4 Zodiak yang Menarik Keberuntungan Melimpah Hari ini 21 Juli 2026
-
Sering Delay? INACA Ungkap Mengapa Penerbangan di Indonesia Begitu 'Unik' dan Sulit Tepat Waktu
-
Leandro Paredes Cekik Pemain Spanyol, FIFA Janjikan Investigasi Mendalam