News / Nasional
Selasa, 21 Juli 2026 | 16:42 WIB
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz]
Baca 10 detik
  • Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka duduk sejajar dengan menteri pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026).
  • Pergeseran posisi duduk ini memicu spekulasi publik mengenai pergeseran hierarki serta distribusi kekuasaan dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
  • Pihak Istana menyatakan perubahan tata letak tersebut murni kebutuhan teknis penggunaan teleprompter saat Presiden Prabowo memaparkan data program kerja.

Suara.com - Pemandangan tidak biasa tersaji dalam ruang Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Senin (20/7/2026). Fokus perhatian tertuju pada konfigurasi tempat duduk pimpinan nasional.

Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, yang biasanya menempati kursi di sisi kanan Presiden Prabowo Subianto, tampak bergeser.

Gibran tidak lagi berada di meja pimpinan utama, melainkan duduk sejajar dengan deretan menteri kabinet.

Pergeseran posisi fisik ini memicu tafsir politik liar di tengah masyarakat. Dalam tradisi protokoler kepresidenan Indonesia, posisi duduk bukan sekadar urusan estetika ruangan, melainkan simbol hierarki dan distribusi kekuasaan.

Ketika simbol tersebut berubah, publik menangkap adanya pergeseran peta kewenangan politik yang sedang terjadi di jantung pemerintahan.

Reduksi Kekuasaan atau Sekadar Teknis?

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, dengan cepat memberikan klarifikasi untuk meredam spekulasi.

Menurutnya, pergeseran posisi duduk Gibran hanya disebabkan oleh faktor teknis penyelenggaraan sidang dan tidak memiliki kaitan dengan posisi konstitusional seorang wakil presiden. Namun, penjelasan ini tidak serta-merta diterima oleh para analis politik.

Bagi pengamat politik sekaligus aktivis Forum Sipil Bersuara, Hamdi Putra, fenomena ini membawa pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar urusan tata letak kursi.

Baca Juga: Posisi Duduk Gibran Bergeser di Sidang Kabinet, Sinyal Hubungan Tak Lagi Satu Irama dengan Prabowo?

Hamdi menilai ada perubahan signifikan dalam cara kekuasaan dikelola di era Prabowo saat ini.

"Saya lihat itu bukan sekadar perubahan teknis protokol rapat, tapi ada pesan politik kuat tentang hierarki kekuasaan di istana," kata Hamdi, Selasa (21/7/2026).

Menurut Hamdi, dalam sidang-sidang kabinet sebelumnya, posisi wapres selayaknya mendampingi presiden sebagai representasi dwitunggal kepemimpinan.

Namun, pemisahan Gibran dari meja pimpinan utama memberikan kesan bahwa peran wakil presiden sedang didefinisikan ulang dalam struktur pengambilan keputusan.

"Ada simbol politik bahwa bobot kekuasaan Wapres Gibran tereduksi," kata dia.

Pusat Komando di Tangan Prabowo

Load More