-
Menteri Pertahanan AS mengajukan tambahan anggaran $87 miliar akibat pembengkakan biaya perang Iran.
-
Persidangan Senat berlangsung panas diwarnai penolakan anggaran dari kubu Demokrat dan demonstran.
-
Eskalasi konflik Iran terus memakan korban jiwa tentara AS serta mengancam kesiapan pertahanan.
Suara.com - Pembengkakan tagihan perang di Timur Tengah memaksa Departemen Pertahanan Amerika Serikat memohon suntikan dana darurat dari Kongres. Esalasi pertempuran dengan Iran kini telah menguras anggaran pertahanan AS hingga puluhan miliar dolar hanya dalam kurun waktu beberapa bulan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa kelangsungan operasi dan kesiapan tempur prajurit berada dalam posisi sangat rentan. Kebutuhan dana darurat tersebut mendesak untuk segera disetujui guna mencegah kelumpuhan operasional armada militer.
Sedikitnya $87 miliar dana segar diajukan kepada Senat dengan porsi terbesar dialokasikan khusus untuk pengerahan pasukan di Timur Tengah. Penambahan anggaran ini menjadi sinyal kuat bahwa konflik bersenjata di kawasan tersebut masih jauh dari kata usai.
Dalam persidangan bersama Komite Alokasi Senat, Hegseth membeberkan besarnya dana yang telah dihabiskan militer sejak pertempuran meletus. Ia menyebutkan angka fantastis yang terus meningkat signifikan jika dibandingkan dengan perhitungan beberapa bulan sebelumnya.
"Tanpa dana ini, kita menghadapi kekurangan kritis yang mengancam kemampuan kita untuk juga sekadar membayar anggota layanan kita, dengan cepat mengisi kembali peralatan dan amunisi, dan mempertahankan operasi vital tanpa gangguan," ujar Hegseth dikutip dari BBC Internasional, Rabu (22/7/2026) pagi.
Hegseth menegaskan bahwa efisiensi penggunaan anggaran akan diprioritaskan demi memperkuat daya tempur pasukan di lapangan.
"Setiap dolar yang dialokasikan akan digunakan untuk membangun fleksibilitas pasukan militer AS dan memperkuat perdamaian melalui kekuatan."
Sesi pendengaran pendapat tersebut diwarnai ketegangan tinggi akibat unjuk rasa penolakan perang serta perdebatan panas dengan anggota dewan. Pertemuan ini menandai kemunculan perdana Hegseth di Capitol Hill pasca-meningkatnya kembali intensitas baku tembak di Timur Tengah.
Kritik tajam mengalir dari kubu oposisi yang mempertanyakan rasionalitas pengajuan anggaran raksasa di tengah kesulitan ekonomi domestik. Senator Demokrat Kirsten Gillibrand menyindir keras kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kesejahteraan rakyatnya sendiri.
Baca Juga: Iran Terancam Balasan Fatal karena Bunuh Tentara Donald Trump
Gillibrand mempertanyakan mengapa Hegseth meminta puluhan miliar dolar untuk perang yang menurut presiden telah dimenangkan, sementara warga AS tidak mampu memberi makan keluarga mereka.
Suasana sidang makin memanas ketika Senator Demokrat Gary Peters melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Pentagon. Peters secara terbuka menyebut Hegseth sebagai kegagalan dan menilai pemerintah telah menciptakan perang tanpa akhir yang baru.
Hegseth merespons tuduhan tersebut secara menohok di hadapan para anggota Senat. Hegseth mengatakan kepada Peters kasihan kamu, seraya menambahkan bahwa senator asal Michigan itu mengidap sindrom kegilaan Trump.
Merespons pertanyaan mengenai dampak buruk jika usulan anggaran ditolak, Hegseth mengisyaratkan adanya efisiensi ketat yang merugikan. Ia menyebutkan bahwa program pelatihan prajurit terancam dipangkas sambil melemparkan kesalahan atas ketimpangan anggaran ini kepada pemerintahan Presiden Joe Biden sebelumnya.
Di sisi lain, sejumlah sumber internal meyakini bahwa kalkulasi pengeluaran nyata militer AS di lapangan jauh lebih tinggi dari angka resmi. Estimasi yang disampaikan pemerintah dinilai belum mencakup kerusakan infrastruktur dan pangkalan militer yang hancur diterjang serangan balik.
Sebelumnya, pengeluaran mingguan awal agresi militer AS telah menembus belasan miliar dolar sebelum kesepakatan gencatan senjata sempat tercapai. Namun, pecahnya kembali pertempuran pekan lalu memupus harapan damai dan memicu lonjakan biaya operasi baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
Terkini
-
Biaya Perang AS vs Iran Beberapa Bulan Tembus Rp 670 Triliun, untuk Bayar Apa Saja?
-
TNI AD Tegaskan Babinsa Tak Punya Wewenang Awasi Wajib Pajak, Publik Diminta Tak Resah
-
Posisi Duduk di Sidang Kabinet Disorot, Gerindra Bantah Isu Prabowo-Gibran Retak
-
Eksekusi Cambuk di Simeulue, Dua Terhukum Jalani Hukuman di Depan Umum
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
5 HP Murah RAM 8 GB dan Memori 256 GB yang Sudah Support NFC, Mulai Rp1 Jutaan
-
Perbaikan Kualitas Aset Perkuat Keyakinan JPMorgan terhadap BBRI
-
"Broken X. Fang", Kisah Mengharukan tentang Rasa Bersalah dan Cinta Nenek
-
Strategi Mikro BRI Tuai Pengakuan, JPMorgan Naikkan Rekomendasi BBRI
-
FIFA Hapus Kartu Merah Leandro Paredes Usai Cekik Bek Spanyol!