- Lebih dari 73 persen penderita diabetes di Indonesia belum terdiagnosis dan baru berobat setelah mengalami komplikasi berat.
- Faktor utama keterlambatan deteksi meliputi tidak adanya gejala mencolok, budaya berobat saat sakit, serta skrining yang belum rutin.
- Pemerintah dan BPJS Kesehatan menyediakan layanan skrining gratis guna mencegah peningkatan kasus serta komplikasi diabetes mematikan.
Suara.com - Data terbaru yang diungkap Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Em Yunir, dalam Forum Jurnalis Kesehatan pertengahan Juli 2026 cukup mengejutkan.
Lebih dari 73 persen penderita diabetes di Indonesia belum terdiagnosis. Artinya, jutaan orang saat ini hidup dengan kadar gula darah tinggi tanpa mengetahuinya, dan banyak dari mereka baru datang ke fasilitas kesehatan setelah muncul komplikasi berat seperti stroke, gagal ginjal, serangan jantung, atau kebutaan akibat retinopati diabetik.
Yang membuat angka ini ironis adalah kenyataan bahwa Indonesia sebenarnya punya modal besar untuk mencegahnya.
BPJS Kesehatan sebagai skema jaminan kesehatan nasional, dan jaringan puskesmas yang menjangkau hingga pelosok negeri.
Lalu mengapa deteksi dini tetap gagal menjangkau mayoritas penyandang diabetes?
Seberapa Besar Masalahnya?
Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI), sekitar satu dari sepuluh penduduk Indonesia kini hidup dengan diabetes.
International Diabetes Federation (IDF) mencatat jumlah penyandang diabetes di Indonesia sudah melampaui 20 juta jiwa, dan diperkirakan angka ini akan menembus lebih dari 30 juta orang pada 2045.
Yang lebih mencemaskan, laporan IDF terbaru menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia untuk jumlah kasus diabetes yang tidak terdiagnosis. Diperkirakan, sekitar 15 juta orang dewasa hidup dengan diabetes tanpa menyadarinya.
Baca Juga: Remaja Indonesia Hadapi Ancaman Kesehatan Mental, Kecemasan dan Depresi Jadi Temuan Utama
Prof. Yunir menggambarkan proses kerusakan organ pada diabetes yang tak terkendali seperti argometer taksi yang terus berjalan makin cepat seiring tingginya kadar gula darah.
Diabetes jarang berjalan sendiri, karena kerap disertai hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, hingga kebiasaan merokok yang memperberat risiko komplikasi.
Jika deteksi dini tetap macet, konsekuensinya bukan hanya soal kesehatan individu, tapi juga beban fiskal. Sebab, semakin banyak kasus yang baru ketahuan saat sudah masuk stadium komplikasi, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung sistem kesehatan.
“Tujuan pengobatan diabetes bukan sekadar membuat gula darah normal, tetapi menjaga fungsi organ tubuh tetap baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang,” kata Prof. Yunir.
Mengapa Banyak yang Tidak Terdeteksi?
Setidaknya ada tiga faktor utama yang saling berkelindan.
1. Diabetes sering datang tanpa gejala mencolok
Stereotipe gejala diabetes seperti sering haus, sering buang air kecil hingga berat badan turun drastis, sebenarnya baru muncul pada tahap yang sudah cukup lanjut. Banyak penyandang diabetes tipe 2 di fase awal justru merasa sehat-sehat saja, sehingga tidak ada dorongan untuk memeriksakan diri.
Prof. Yunir menegaskan, mayoritas orang yang tidak terdiagnosis benar-benar tidak menyadari kondisinya.
“Hingga akhirnya terdeteksi saat berobat penyakit lain atau masuk kondisi gawat darurat,” tutur Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PP PERKENI) itu.
2. Budaya berobat saat sakit, bukan sebelum sakit
Kebiasaan medical check-up rutin belum jadi norma di masyarakat Indonesia. Pola pikir yang masih dominan adalah "ke dokter kalau sudah sakit," bukan "cek kesehatan supaya tidak sakit." Akibatnya, banyak orang baru menyentuh fasilitas kesehatan ketika penyakitnya sudah berat dan komplikasi sudah berjalan.
“Jangan ke dokter, nanti ketahuan. Jangan diperiksa, nanti ketahuan. Mendingan nggak diperiksa. Kan kita nggak tahu. Itu pola pikir yang harus diubah,” kata Prof. Yunir lagi.
3. Skrining belum menjadi kebiasaan rutin di layanan primer
Pemeriksaan gula darah pada kelompok berisiko seperti orang dengan obesitas, hipertensi, atau riwayat keluarga diabetes, belum berjalan secara sistematis di banyak puskesmas dan klinik.
Fokus pelayanan primer secara historis masih condong ke arah kuratif, yakni menangani pasien yang sudah datang dengan keluhan, bukan secara proaktif menjaring orang-orang berisiko yang belum merasa sakit.
“Itu harus diketahui lebih awal, supaya kita bisa lebih sayang kepada keluarga kita. Untuk menjaga, jangan sampai kualitas hidup orang tuanya menurun, anak-anaknya kececeran,” sorot Prof. Yunir.
Apakah Sistem BPJS Sudah Mendukung Deteksi Dini?
Sebenarnya BPJS Kesehatan memiliki instrumen untuk ini. Ada fitur Skrining Riwayat Kesehatan yang bisa diakses lewat aplikasi Mobile JKN, situs web resmi skrining, atau layanan WhatsApp Pandawa.
Berdasarkan Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 3 Tahun 2024, skrining ini dirancang untuk mendeteksi risiko 14 jenis penyakit, termasuk diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, dan gagal ginjal kronis.
Mulai 1 Januari 2026, BPJS bahkan mewajibkan seluruh peserta berusia 15 tahun ke atas untuk mengisi skrining ini minimal setahun sekali, dengan konsekuensi administratif berupa potensi kendala akses layanan di FKTP bila belum mengisinya.
Hingga 16 Mei 2026, jumlah peserta yang telah mengikuti skrining mencapai 10,4 juta orang, melampaui target tahunan yang ditetapkan sebanyak 6,6 juta peserta.
Dari total peserta yang telah menjalani skrining, sebanyak 4.967.525 orang atau sekitar 49,46 persen teridentifikasi memiliki risiko kesehatan tertentu, termasuk diabetes.
Untuk kelompok berisiko diabetes, orang dengan indeks massa tubuh di atas 25, riwayat keluarga diabetes, atau usia di atas 40 tahun, BPJS menanggung pemeriksaan gula darah sewaktu maupun gula darah puasa secara gratis di FKTP.
Namun di sini lah pertanyaannya jadi tajam. Kalau instrumennya sudah ada dan bahkan sudah diwajibkan, mengapa jutaan penyandang diabetes tetap lolos dari deteksi?
Beberapa faktor yang kerap disebut sebagai penyebab rendahnya efektivitas skrining ini adalah belum meratanya sosialisasi bahwa layanan ini gratis dan wajib.
Skrining berbasis kuesioner mandiri juga sangat bergantung pada kejujuran dan pemahaman peserta saat mengisi, berbeda dengan pemeriksaan gula darah aktual yang dilakukan tenaga kesehatan.
Artinya, skrining berbasis riwayat baru mengidentifikasi risiko, bukan mengonfirmasi diagnosis. Peserta yang terindikasi berisiko tetap harus datang ke FKTP untuk pemeriksaan gula darah lanjutan, dan di titik inilah banyak yang berhenti di tengah jalan.
Sementara dari data BPJS Kesehatan saja, baru 2.284.456 orang dari peserta berisiko yang menindaklanjuti dengan pemeriksaan ke FKTP.
Preventif vs Kuratif: Masalah Lama Sistem Kesehatan Indonesia
Ini sebenarnya persoalan struktural yang sudah lama dikenal dalam sistem kesehatan Indonesia, bias kuat ke arah kuratif dibanding preventif.
Pendekatan preventif meliputi hal-hal sederhana seperti cek gula darah rutin, edukasi pola makan sehat, dorongan olahraga, dan skrining terarah pada kelompok berisiko. Biayanya relatif kecil dan hasilnya baru terasa jangka panjang, sehingga sering kalah prioritas dibanding kebutuhan mendesak.
Pendekatan kuratif meliputi rawat inap, cuci darah (hemodialisis) untuk gagal ginjal, operasi mata akibat retinopati, hingga amputasi akibat luka diabetes yang tidak sembuh.
Biaya kuratif ini jauh lebih mahal, dan justru menjadi salah satu beban klaim terbesar BPJS Kesehatan setiap tahun, terutama untuk cuci darah kronis yang harus dijalani seumur hidup.
Logikanya sederhana, satu kali cek gula darah jauh lebih murah dibanding satu bulan cuci darah.
Tapi selama sistem insentif dan budaya layanan kesehatan masih lebih responsif terhadap pasien yang sudah sakit ketimbang proaktif menjaring yang berisiko, pola ini akan terus berulang dan biaya yang seharusnya bisa dicegah terus membengkak di ujung hilir.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan pun sudah mengambil kebijakan lewat perluasan layanan skrining agar dapat meminimalisir risiko diabetes.
“Tidak hanya mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah komplikasi turunannya secara menyeluruh. Melalui program Cek Kesehatan Gratis, masyarakat dapat memeriksakan gula darah secara berkala,” jelas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi.
Dampak Jika Terlambat Diketahui
Diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat memicu:
- Gagal ginjal, yang berujung pada kebutuhan cuci darah rutin
- Penyakit jantung, termasuk risiko serangan jantung
- Stroke
- Retinopati diabetik, yang bisa berujung pada kebutaan permanen
- Amputasi, terutama akibat luka kaki diabetik yang sulit sembuh
- Penurunan kualitas hidup secara menyeluruh, dari kemampuan bekerja hingga kemandirian sehari-hari
Semua komplikasi ini pada dasarnya bisa dicegah atau ditunda signifikan jika diabetes terdeteksi dan dikelola sejak dini.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Menunggu sistem berbenah bukan berarti individu tidak bisa bertindak lebih dulu. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Cek gula darah minimal setahun sekali jika berusia di atas 35 tahun, atau lebih sering bila memiliki faktor risiko
- Lakukan skrining lebih rutin bila memiliki obesitas, hipertensi, atau riwayat keluarga diabetes
- Manfaatkan fitur Skrining Riwayat Kesehatan BPJS lewat Mobile JKN. Layanan ini gratis dan bisa diisi dari rumah.
- Bila hasil skrining menunjukkan risiko tinggi, segera tindak lanjuti dengan pemeriksaan gula darah aktual di FKTP, jangan berhenti di tahap kuesioner saja
Di luar itu, BPJS Kesehatan pun sudah memanfaatkan sistem pengingat digital secara berkala melalui pesan WhatsApp, yang dikirim langsung kepada peserta yang terdeteksi memiliki risiko kesehatan. Bukan tanpa alasan, kebijakan diterapkan semata-mata untuk meningkatkan kepatuhan peserta dalam melakukan pemeriksaan lanjutan.
Angka 73 persen bukan sekadar statistik yang lewat begitu saja. Di baliknya ada jutaan orang yang mungkin saat ini sedang hidup dengan "gula siluman".
Kadar gula darah tinggi yang diam-diam merusak ginjal, jantung, mata, dan pembuluh darah mereka, tanpa suara, tanpa gejala yang jelas, sampai suatu hari tubuh mengirim tagihannya sekaligus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Waspada! KPAI Ungkap Anak Indonesia Kini Terjebak 'Industri Kecemasan' dan 'Candu Digital'
-
Alarm Diabetes Indonesia: Skrining BPJS Belum Mampu Menjangkau Jutaan Kasus Tersembunyi?
-
Sekolah Masih Kekurangan Guru, PGRI Tolak Anggaran Pendidikan Dipangkas demi MBG
-
Lawan Hama Wereng, Petani Boyolali Andalkan Teknologi Drone
-
Kasus TPPU Memasuki Babak Baru: Eks Jampidsus Masuk Daftar Panggil, Kejagung Terbitkan Sprindik ke-4
-
BUMI Hingga BULL Jadi Saham Rekomendasi di Tengah Gejolak Minyak, Cek IHSG Hari Ini
-
Revisi UU Pemilu Harus Perkuat Demokrasi, Bukan Sekadar Ubah Aturan
-
Sepatu On Cloud Ori Apakah Dijual di Shopee? Begini Cara Membeli Produk Asli yang Aman
-
IU Tunda Konser dan Perilisan Album Baru, Imbas Kondisi Kesehatan Memburuk
-
Tiga Titik Putaran Balik di Cakung-Cilincing Bakal Ditutup Setiap Sore Sampai Arus Lalin Lancar