News / Internasional
Kamis, 23 Juli 2026 | 10:26 WIB
Langkah konkret terlihat dari pengerahan armada jet tempur siluman F-35 generasi kelima dan jet F-16 dari Eropa. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • AS memperkuat kekuatan militer di Timur Tengah untuk memperluas opsi serangan ke Iran.

  • Pengerahan jet F-35, pangkalan medis, dan status siaga pengebom B-1 mengindikasikan perang masif.

  • Donald Trump menyatakan gencatan senjata batal usai aksi saling serang di Selat Hormuz.

Suara.com - Iran terus melipatgandakan kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah untuk menyokong opsi serangan lanjutan. Langkah agresif ini diambil Presiden Donald Trump guna memperluas gempuran terhadap Iran.

Mobilisasi persenjataan canggih ini memicu ketegangan baru yang berpotensi menyeret kawasan dalam perang terbuka. Eskalasi militer Amerika Serikat kian tak terbendung usai kesepakatan damai kedua negara runtuh di tengah jalan.

Langkah konkret terlihat dari pengerahan armada jet tempur siluman F-35 generasi kelima dan jet F-16 dari Eropa. Amerika Serikat mendistribusikan jet-jet pemburu tersebut ke posisi tempur strategis di Timur Tengah.

Tentara Iran berpatroli. [Shutterstock]

Tak berhenti di situ, pasukan operasi khusus dan skuadron udara tambahan turut diterjunkan dalam sepekan terakhir. Pengebom B-1 di Inggris bahkan sudah masuk status siaga tempur untuk operasi berskala masif.

Kesiapan logistik medis juga disiagakan secara masif di fasilitas militer Landstuhl, Jerman. Sebanyak 150 dokter militer dikirim untuk mengantisipasi korban luka dalam pertempuran.

Situasi panas ini berawal ketika kedua belah pihak sejatinya sempat menandatangani memorandum penghentian konflik pada 18 Juni lalu. Kesepakatan itu seharusnya mengakhiri ketegangan bersenjata yang telah membara sejak 28 Februari.

Namun, perdamaian singkat tersebut mendadak sirna ketika militer Amerika Serikat kembali menggempur Iran pada 8 Juli. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim serangan udara itu dilancarkan demi membalas aksi Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.

Iran langsung merespons gempuran tersebut dengan merudal pangkalan-pangkalan militer milik Amerika Serikat di Timur Tengah. Eskalasi aksi balasan ini membakar habis sisa-sisa diplomacy yang sebelumnya dibangun.

Merespons gempuran balasan tersebut, Presiden Donald Trump kemudian menyatakan bahwa "gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran tidak lagi berlaku."

Baca Juga: Alasan Donald Trump Calonkan Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB

Pernyataan tegas tersebut menutup pintu diplomasi dan mengembalikan kedua negara ke zona perang terbuka. Latar belakang perselisihan di jalur pelayaran vital Selat Hormuz kini memicu ancaman krisis keamanan global yang jauh lebih besar.

Load More