-
AS memperkuat kekuatan militer di Timur Tengah untuk memperluas opsi serangan ke Iran.
-
Pengerahan jet F-35, pangkalan medis, dan status siaga pengebom B-1 mengindikasikan perang masif.
-
Donald Trump menyatakan gencatan senjata batal usai aksi saling serang di Selat Hormuz.
Suara.com - Iran terus melipatgandakan kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah untuk menyokong opsi serangan lanjutan. Langkah agresif ini diambil Presiden Donald Trump guna memperluas gempuran terhadap Iran.
Mobilisasi persenjataan canggih ini memicu ketegangan baru yang berpotensi menyeret kawasan dalam perang terbuka. Eskalasi militer Amerika Serikat kian tak terbendung usai kesepakatan damai kedua negara runtuh di tengah jalan.
Langkah konkret terlihat dari pengerahan armada jet tempur siluman F-35 generasi kelima dan jet F-16 dari Eropa. Amerika Serikat mendistribusikan jet-jet pemburu tersebut ke posisi tempur strategis di Timur Tengah.
Tak berhenti di situ, pasukan operasi khusus dan skuadron udara tambahan turut diterjunkan dalam sepekan terakhir. Pengebom B-1 di Inggris bahkan sudah masuk status siaga tempur untuk operasi berskala masif.
Kesiapan logistik medis juga disiagakan secara masif di fasilitas militer Landstuhl, Jerman. Sebanyak 150 dokter militer dikirim untuk mengantisipasi korban luka dalam pertempuran.
Situasi panas ini berawal ketika kedua belah pihak sejatinya sempat menandatangani memorandum penghentian konflik pada 18 Juni lalu. Kesepakatan itu seharusnya mengakhiri ketegangan bersenjata yang telah membara sejak 28 Februari.
Namun, perdamaian singkat tersebut mendadak sirna ketika militer Amerika Serikat kembali menggempur Iran pada 8 Juli. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim serangan udara itu dilancarkan demi membalas aksi Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.
Iran langsung merespons gempuran tersebut dengan merudal pangkalan-pangkalan militer milik Amerika Serikat di Timur Tengah. Eskalasi aksi balasan ini membakar habis sisa-sisa diplomacy yang sebelumnya dibangun.
Merespons gempuran balasan tersebut, Presiden Donald Trump kemudian menyatakan bahwa "gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran tidak lagi berlaku."
Baca Juga: Alasan Donald Trump Calonkan Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB
Pernyataan tegas tersebut menutup pintu diplomasi dan mengembalikan kedua negara ke zona perang terbuka. Latar belakang perselisihan di jalur pelayaran vital Selat Hormuz kini memicu ancaman krisis keamanan global yang jauh lebih besar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Hari Anak Nasional 2026, Gubernur Khofifah Dorong Pemenuhan Hak Anak sebagai Investasi Bangsa
-
Satu Pakaian, Sejuta Harapan: CSR ibis Styles Bogor Pajajaran Bersama Yayasan Gemilang Indonesia
-
Nanik Tetap Jabat Komisaris Pertamina Usai Mundur dari BGN, Tunjangannya Lebih Besar
-
Selat Hormuz Bakal Jadi 'Neraka Dunia', Ranjau Tanker Siap Meledak Kapan Saja
-
Harga Tiket Piala Presiden 2026 Murah Meriah, Seharga Dua Gelas Kopi!
-
Siapa itu Sudaryono Kepala BGN? Ini Profil, Silsilah Keluarga, dan Kekayaannya
-
4 HP Midrange Samsung Terbaru 2026 dari Paling Murah hingga Spek Mirip Flagship
-
BNI Perkuat Program Pencegahan Stunting pada Hari Anak Nasional
-
MUI Usul Zakat Jadi Kredit Pajak, Bos DJP: Harus Berlaku Adil untuk Semua Umat Beragama
-
FIGC Rela Jebol Rekening Demi Rekrut Pep Guardiola Latih Timnas Italia