-
Rusia diduga merekrut puluhan ribu warga asing dari negara miskin untuk perang Ukraina.
-
Modus perekrutan dilakukan lewat janji gaji tinggi hingga penipuan lowongan kerja sipil.
-
Para korban dijadikan tameng hidup di garis depan pertempuran hingga memicu kecaman internasional.
Pengalaman traumatis itu meninggalkan bekas luka fisik berupa serpihan logam di kakinya yang kini memicu kecacatan permanen. Ketakutan serta cacat fisik membuat Mondol semakin kesulitan menyambung hidup di kampung halamannya.
Peneliti dari organisasi hak asasi manusia menyoroti bahwa tindakan ini memenuhi unsur pelanggaran hukum internasional. Jika perekrutan melibatkan unsur manipulasi dan eksploitasi, praktik ini dapat dikategorikan sebagai perdagangan orang.
"Target perekrutan adalah orang-orang yang hidup dalam kondisi ekonomi, sosial, dan hukum yang rentan. Caranya beragam, mulai dari iming-iming pekerjaan, penipuan, hingga pemaksaan," ujar Ilja Nusow dari FIDH.
Namun, pemerintah Rusia secara tegas membantah keterlibatan mereka dalam aktivitas perekrutan ilegal warga asing. Pihak Moskow mengklaim seluruh personel asing yang bergabung bertindak atas kemauan sendiri.
"Para sukarelawan ikut serta dalam operasi militer khusus ini sepenuhnya sesuai hukum Rusia," ujar Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.
Meskipun Kremlin membantah, tekanan diplomatik dari berbagai negara terdampak seperti India dan Nepal terus bermunculan. Kendati ada pembatasan di beberapa wilayah, jaringan perekrutan diperkirakan terus beroperasi mencari target baru.
"Jumlah warga asing yang direkrut terus meningkat, bukan menurun," kata Nusow menegaskan tren yang masih berlangsung.
Perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan menciptakan krisis kebutuhan personel militer dalam jumlah besar bagi pasukan Moskow. Untuk menghindari mobilisasi warga lokal yang berpotensi memicu gejolak politik dalam negeri, strategi perekrutan dialihkan ke luar negeri.
Badan Intelijen Militer Ukraina (HUR) mencatat lebih dari 27 ribu warga asing telah masuk dalam skema tempur Rusia. Diperkirakan belasan ribu warga dari kawasan berkembang akan terus diserap hingga akhir tahun ini melalui berbagai saluran informal.
Baca Juga: Siapa yang Paling Dirugikan Jika Perang AS - Iran Makin Besar dan Meluas?
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Teknologi Biometrik Kemkomdigi Siap Putus Rantai Judi Online dan Mafia Scam Digital
-
Sisi Gelap Filipina, Orangtua Suruh Anak Sendiri Lakukan Adegan Dewasa, Video Dijual ke Pria Nakal
-
Review dan Tes Infinix Hot 40 Pro RAM 12 GB, HP Rp2 Jutaan Beneran Kuat Main Game Berat?
-
3 Kulkas Sharp 2 Pintu Termurah yang Hemat Listrik dan Anti Bau
-
Terancam Gagal Bayar, Purbaya Siapkan Tambahan Anggaran Rp 20 Triliun ke BPJS Kesehatan
-
Izin Hutan Kuansing Bermasalah, Pejabat Kemenhut dan ATR/BPN Dicecar KPK
-
Prabowo Libatkan TNI-Polri dalam Operasional Kopdes Merah Putih, Penyaluran Bansos Bakal Terpusat
-
Berapa Tarif Hotman Paris sebagai Pengacara?
-
6 Cara Mengakali Salah Shade Bedak agar Tetap Menyatu dengan Warna Kulit
-
Dedemit Kepala Putus yang Menyamar Menjadi Penjual Bakso Keliling