News / Internasional
Jum'at, 24 Juli 2026 | 11:06 WIB
Tentara Rusia (DW)
Baca 10 detik
  • Rusia diduga merekrut puluhan ribu warga asing dari negara miskin untuk perang Ukraina.

  • Modus perekrutan dilakukan lewat janji gaji tinggi hingga penipuan lowongan kerja sipil.

  • Para korban dijadikan tameng hidup di garis depan pertempuran hingga memicu kecaman internasional.

Suara.com - Jerat kemiskinan global kini dimanfaatkan Rusia untuk memperkuat pasukan tempur di garis depan Ukraina. Ribuan pemuda dari negara berkembang terjebak janji manis pekerjaan sebelum akhirnya dikirim ke medan perang.

Praktik berbahaya ini menyasar kelompok masyarakat yang berada dalam posisi rentan secara ekonomi dan hukum. Jaringan perekrutan internasional bekerja masif dengan menawari gaji menggiurkan hingga penipuan kontrak kerja sipil.

Fenomena tragis tersebut terungkap dari kesaksian keluarga korban serta laporan lembaga pemantau hak asasi manusia internasional. Penyelidikan menunjukkan adanya pola sistematis dalam merekrut warga asing untuk memperkuat posisi militer Rusia.

Sebuah truk terlihat hancur dan terbakar di jembatan yang menghubungkan Severodoonetsk dan Lysychansk, Luhansk, Ukraina Timur pada 28 Mei 2022. (FOTO: The Moscow Times/TASS)

Charles Mutoka, 72 tahun, harus menelan kenyataan pahit setelah kehilangan putranya, Oscar Khagola Mutoka, dalam konflik tersebut. Mantan prajurit Kenya itu pergi ke Rusia pertengahan 2025 dengan alasan berburu lapangan kerja.

"Yang paling menyakitkan adalah saya tidak tahu apakah dia benar-benar dimakamkan, di mana makamnya, atau jangan-jangan jasadnya begitu saja dibuang di hutan di Rusia," kata Charles Mutoka dikutip dari DW Jerman, Jumat (24/7/2026).

Modus serupa dialami Yoan Viondi Mendoza, pemuda asal Kuba yang tergiur tawaran gaji tinggi. Dia dijanjikan upah USD2.000 per bulan, angka fantastis dibandingkan pendapatan rata-rata di negaranya.

"Saya melakukan ini agar tidak mati kelaparan di Kuba," kata Yoan saat bersiap berangkat pada September 2023.

Sebelum hilang kontak dan dilaporkan tewas, Yoan sempat memperlihatkan pesan perekrut terkait tawaran kewarganegaraan. Adiknya, Michael Duro, menyebut Yoan sempat memohon bantuan untuk keluar dari zona tempur setelah menyadari kekeliruannya.

"Yoan menelepon dan mengatakan dia telah menemukan jalan keluar. Dia bercerita tentang sebuah 'proyek' di Rusia," kata Duro mengingat percakapan awal dengan adiknya.

Baca Juga: Siapa yang Paling Dirugikan Jika Perang AS - Iran Makin Besar dan Meluas?

Tak hanya janji gaji besar, banyak korban diselimuti informasi palsu mengenai jenis pekerjaan yang akan dijalani. Korban sering kali dijanjikan posisi di sektor logistik, konstruksi, atau pertanian sebelum dipaksa menandatangani dokumen militer.

Arman Mondol, pemuda asal Bangladesh, merasakan langsung kekejaman penipuan tersebut saat mencari nafkah untuk keluarganya. Dia terbang ke Moskow menggunakan visa turis setelah dijanjikan pekerjaan sebagai pengepak barang di gudang.

Sesampainya di tempat tujuan, Mondol dipaksa menandatangani dokumen berbahasa Rusia tanpa memahami isinya sama sekali. Dia kemudian dikirim ke garda terdepan garis pertempuran bersama tentara asing lainnya.

"Setiap ada operasi, kami selalu dikirim paling depan, sementara mereka tetap berada di belakang. Kami dijadikan tameng hidup dan didorong langsung ke tengah pertempuran."

Mondol berhasil selamat dari ledakan ranjau yang menghancurkan kendaraannya dan membunuh sebagian besar rekannya. Setelah kabur dari rumah sakit militer, dia dibantu Kedutaan Besar Bangladesh untuk pulang ke tanah air.

"Saya masih melihat semua itu: orang-orang yang sekarat, tatapan mata mereka, wajah yang hancur, tubuh yang diterbangkan ranjau, serangan drone tanpa henti, dan anggota tubuh yang tercerai-berai. Itu mengerikan."

Load More