-
Garda Revolusi Iran mengklaim menghancurkan pusat data Amazon di Bahrain.
-
Fasilitas teknologi AS tersebut dituduh memberikan dukungan intelijen bagi militer.
-
Pihak Amazon dan Pemerintah Bahrain belum memberikan konfirmasi resmi terkait insiden.
Suara.com - Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menggempur pusat data milik raksasa teknologi Amerika Serikat, Amazon, di Bahrain. Serangan tersebut diduga mengincar fasilitas penting yang mendukung operasi intelijen militer AS.
Langkah mendadak ini menandai pergeseran sasaran konflik militer yang kini merambah langsung ke infrastruktur digital vital di kawasan Teluk. Fasilitas komputasi awan yang semula melayani kepentingan komersial kini terseret dalam pusaran peperangan geopolitik.
Keterlibatan penyedia layanan teknologi global dalam medan perang mempertegas bahaya laten penargetan infrastruktur data lintas negara. Klaim IRGC ini memicu kekhawatiran baru atas keamanan pusat data strategis di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan resmi mengenai gempuran tersebut disiarkan langsung melalui saluran televisi pemerintah Iran pada Rabu lalu. Pasukan bersenjata Iran menegaskan bahwa sasaran strategis tersebut berhasil dilumpuhkan secara total.
"Pasukan telah menargetkan dan menghancurkan bangunan pusat data intelijen milik perusahaan Amerika Serikat, Amazon, yang memainkan peran utama dalam memberikan dukungan intelijen bagi tentara pembunuh anak-anak Amerika," bunyi pernyataan IRGC.
Pernyataan keras ini mempertegas tuduhan Teheran terhadap keterlibatan korporasi multinasional dalam menyokong logistik serta analisis data militer. Pasukan IRGC mengklaim tindakan ini merupakan respon atas dukungan intelijen yang terus mengalir.
Hingga saat ini, pihak manajemen Amazon belum memberikan tanggapan resmi mengenai kebenaran insiden penyerangan tersebut. Operasi bisnis serta keandalan server raksasa teknologi itu masih terus dipantau secara ketat.
Pemerintah Kerajaan Bahrain juga memilih untuk tetap bungkam dan belum merilis keterangan resmi terkait klaim Iran. Kerahasiaan kondisi di lapangan membuat situasi keamanan di sekitar pusat data masih dipenuhi tanda tanya.
Sebelumnya, IRGC juga sempat merilis klaim serupa mengenai penargetan fasilitas data center tersebut pada hari Rabu. Pengulangan pengumuman ini mengindikasikan tekanan propaganda yang terus ditingkatkan oleh Teheran.
Baca Juga: Malam ke-13 Amerika Rudal Iran, Korban Tewas Mulai Berjatuhan di Ahwas Hingga Bandar Abbas
Insiden ini menjadi sinyal kuat bahwa aset teknologi milik negara Barat kini berada di garis depan ancaman. Pusat data tidak lagi sekadar entitas bisnis, melainkan target militer yang rawan diserang.
Keberadaan fasilitas data Amazon di Bahrain selama ini menjadi pilar utama transformasi digital dan infrastruktur komputasi awan di Timur Tengah. Negara kepulauan tersebut menyimpan berbagai infrastruktur penting milik perusahaan global.
Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk memang terus membara dalam beberapa waktu terakhir. Konflik ini memicu ancaman nyata bagi keselamatan investasi korporasi asing di wilayah konflik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Perbedaan Sunscreen Skintific dan Amaterasun, dari Tekstur hingga Tingkat Proteksi
-
Masker Jadi Barang Buruan, Harga Melonjak: Ada Ancaman Pidana bagi Pedagang Nakal?
-
Karhutla Jadi Bencana Paling Banyak Terjadi di Indonesia, Capai 627 Kejadian
-
Huawei FreeBuds 7 Resmi Meluncur, Bawa Fitur ANC AI Baterai Tahan 42 Jam
-
Ulasan Novel Membunuh Alice: Ketika Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan
-
Ekonomi Semarang Tumbuh 6,49 Persen, LEPAS Ekspansi Pasar Mobil Listrik Premium
-
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Masih Siaga
-
25 Tahun Konflik Agraria di Jambi Tak Selesai! BAM DPR Bakal Turun dan Investigasi
-
Genap 17 Tahun Otomatis Punya Rekening, Buat Apa?
-
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600