-
Iran resmi menolak usulan gencatan senjata AS karena tidak menyelesaikan masalah Selat Hormuz.
-
Teheran mengancam bakal memperluas perang hingga Tel Aviv dan memblokir Selat Bab al-Mandab.
-
Pertempuran udara AS dan Iran telah berlangsung 13 hari serta menewaskan puluhan korban.
Suara.com - Iran secara tegas menolak tawaran gencatan senjata dari Amerika Serikat yang dibawa Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi. Sikap keras ini diambil karena proposal Washington sama sekali tidak menyentuh akar konflik utama, yakni penguasaan Selat Hormuz.
Penolakan tersebut menandai kegagalan diplomasi perdana dalam menghentikan pertempuran mematikan yang telah berlangsung hampir dua pekan. Tanpa jaminan atas kedaulatan jalur maritim strategis, Teheran memilih terus bersiap menghadapi skenario terburuk.
Langkah berani Iran ini memperlihatkan bahwa negosiasi tanpa penyelesaian masalah mendasar hanya dipandang sebagai manuver politik semata. Kawasan Timur Tengah kini berada di ambang perang terbuka yang jauh lebih luas dan destruktif.
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyodorkan draft damai tersebut secara langsung dalam lawatan resminya ke Teheran. Dikutip dari Anadolu, usulan itu merupakan hasil pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih sebelum ia terbang ke Iran.
Meskipun rincian klausul belum dibuka ke publik, pejabat tinggi Teheran mengonfirmasi bahwa dokumen itu merupakan satu-satunya penawaran resmi dari AS. Namun, tidak adanya poin jaminan status Selat Hormuz membuat usulan tersebut langsung dimentahkan.
Selama di Teheran, PM al-Zaidi menggelar serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan jajaran pimpinan tertinggi Iran. Ia bertatap muka langsung dengan Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menlu Abbas Araghchi.
Di balik pintu diplomasi yang tertutup rapat, para pimpinan Iran justru mematangkan konsolidasi pertahanan internal. Mereka bersiap mengantisipasi gelombang serangan militer AS yang diprediksi akan menyasar berbagai infrastruktur vital.
Ancaman balasan yang disiapkan Teheran dipastikan tidak lagi terbatas pada arena pertempuran saat ini. Skenario eskalasi total telah dirancang untuk membalas setiap gempuran baru dari pasukan Amerika Serikat.
Dua pejabat Iran menyatakan kepada The New York Times, seperti dikutip Anadolu, bahwa serangan semacam itu akan mendorong Iran memperluas perang ke tingkat regional, termasuk dengan menargetkan Tel Aviv.
Baca Juga: Pesawat Kecelakaan dan Terbakar di Teluk Shallow Amerika Serikat
Tak hanya serangan rudal, taktik penutupan jalur logistik global juga siap dieksekusi oleh sekutu regional Teheran. Kelompok Houthi di Yaman bakal diperintahkan untuk memblokir total akses pelayaran di Selat Bab al-Mandab.
Sementara jalur diplomasi menemui jalan buntu, dentuman meriam dan gempuran udara terus mengguncang kawasan. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi gempuran intensif ke wilayah Iran telah memasuki malam ke-13 secara berturut-turut.
Otoritas keamanan Teheran mencatat sedikitnya 53 orang tewas dan 592 warga lainnya luka-luka akibat bombardir AS. Angka korban jiwa diprediksi masih terus merambat naik seiring berlanjutnya operasi militer malam hari.
Ketegangan ekstrem ini dipicu keputusan sepihak Donald Trump pada 8 Juli lalu yang membatalkan kesepakatan MoU Islamabad. Pembatalan klausul gencatan senjata tersebut langsung menyulut aksi saling serang secara terbuka di berbagai titik.
AS membombardir sejumlah target darat di wilayah kedaulatan Iran tanpa henti. Sebaliknya, Teheran mengklaim berhasil merusak berbagai fasilitas serta aset militer milik AS yang tersebar di beberapa negara tetangga.
Saling serang ini melumpuhkan lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz dan mengancam pasokan energi dunia. Wilayah udara kawasan berulang kali ditutup total, disertai meningkatnya ancaman serangan terhadap aset AS di luar Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Bukan Sekadar Tipis, Ini 3 Inovasi Kunci Galaxy Z Fold8 Ultra yang Menetapkan Standar Baru HP Lipat
-
Iran Ogah Gencatan Senjata dengan Amerika Kalau yang Ngomong 'Orang Ketiga' Ini
-
Universitas Republik Indonesia dan Ironi Kesejahteraan Tenaga Pendidik
-
Menggantung Nyawa di Wadah Ikan: Kisah Nelayan Situbondo Terombang-ambing 48 Jam di Laut Lepas
-
Seperti Biasa Investor Ambil Cuan di Akhir Pekan, IHSG Berakhir Ambruk ke 6.100
-
Kajati Sumsel Berganti, Siapa yang Kini Memimpin Kejati Usai Ketut Sumedana ke BGN?
-
Jangan Bandel! SPPG Makan Bergizi Gratis yang Tak Sesuai Standar Siap-siap Ditutup
-
Review Drama Love Designer, Kisah Cinta Seorang Designer dan Bos E-Commerce
-
Lampung Bersiap Transformasi dari Lumbung Mentah Jadi Raksasa Hilirisasi Pangan Nasional
-
Perkara Harga Minyak Dunia Naik, Rupiah Nyaris ke Level Rp18.000 Lagi