- Guru Besar UII Masduki menilai Presiden Prabowo layak mendapatkan mosi tidak percaya dari masyarakat pada Sabtu, 25 Juli 2026.
- Pernyataan kontroversial Prabowo seperti diksi "londo ireng" menunjukkan kemunduran kualitas demokrasi serta etika komunikasi publik di Indonesia.
- Pola komunikasi kepala negara tersebut dinilai menciptakan polarisasi, merusak ruang dialog, dan memperlihatkan krisis keteladanan kepemimpinan nasional.
Suara.com - Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Masduki, menilai publik sudah semestinya tidak lagi sekadar menuntut Presiden Prabowo Subianto meminta maaf atas pernyataan kontroversialnya.
Menurut Kepala Pusat Studi Agama dan Demokrasi Universitas Islam Indonesia (PSAD UII) itu, rentetan retorika Presiden, termasuk ucapan "londo ireng" yang menyindir pihak yang disebut menyamar sebagai pengamat dan wartawan, layak direspons dengan mosi tidak percaya dari masyarakat.
"Solusinya ini atau aspirasi yang harusnya muncul bukan hanya Prabowo diminta (untuk) minta maaf. Tapi publik itu menyatakan mosi tidak percaya terhadap Prabowo," tegas Masduki kepada Suara.com, Sabtu (25/7/2026).
Hal itu disampaikan Masduki menanggapi pidato Prabowo yang kembali menggunakan diksi kontroversial saat menyinggung kritik terhadap pemerintah.
Ia menyebut penggunaan istilah-istilah bernada kasar dan stigmatis oleh seorang kepala negara bukan lagi persoalan gaya komunikasi. Melainkan menunjukkan kemunduran kualitas demokrasi dan etika komunikasi publik.
Apalagi pola komunikasi semacam itu telah berulang kali dilakukan Prabowo.
Sebelumnya, kepala negara pernah melontarkan istilah seperti "bangsat" hingga "antek asing".
Baginya, pilihan kata tersebut sengaja membangun pembelahan antara pemerintah sebagai pihak yang benar dengan kelompok pengkritik sebagai pihak yang diposisikan sebagai musuh.
"Ini kan sudah berulang kali Prabowo itu menyampaikan diksi-diksi yang bermasalah secara etika sosial, bermasalah juga secara komunikasi publik, ya, dalam posisi sebagai presiden," ujarnya.
Baca Juga: Mr Presiden Harus Tahu! Siapa Londo Ireng, Benarkah Orang Indonesia yang Berkhianat?
Retorika itu, kata Masduki, menciptakan framing yang berbahaya karena menempatkan kritik sebagai sesuatu yang negatif. Akibatnya, ruang publik yang semestinya menjadi arena dialog dan adu gagasan justru berubah menjadi ruang yang dipenuhi stigma terhadap pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan pemerintah.
"Jadi seperti menggunakan diksi orang-orang biasa tapi yang di pinggiran, yang kasar, yang to the point, yang cenderung mengandung framing atau stigma yang membangun namanya binari. Jadi Prabowo sebagai orang baik, kira-kira gitu, dan para pengkritiknya ini sebagai orang jahat," ungkapnya.
Masduki bilang pola komunikasi tersebut menjadi salah satu indikator defisit demokrasi.
Seharusnya, seorang presiden membangun komunikasi yang deliberatif, menghormati kritik, dan menjadi teladan dalam menjaga kualitas diskursus publik, bukan justru memproduksi narasi yang memperlebar polarisasi.
"Nah, apa yang bisa kita baca secara umum dari pernyataan-pernyataan retorik ini? Ini sebetulnya menggambarkan apa yang disebut defisit demokrasi kita di ruang publik," ujarnya.
Ia menyoroti respons Presiden terhadap berbagai kritik publik yang dinilai kerap tidak menyentuh substansi persoalan. Misalnya saja bagaimana kritik mengenai kondisi demokrasi maupun berbagai persoalan nasional justru dibalas dengan pernyataan yang dianggap meremehkan atau menyudutkan para pengkritik.
Berita Terkait
-
Respons Laporan Kerusakan, Pemerintah Pastikan Perbaikan SDN Tanggirejo Jadi Prioritas
-
Londo Ireng Artinya Apa? Ini Asal Usul Istilah yang Dipakai Prabowo Menyindir Jurnalis hingga LSM
-
Heboh Sebutan Londo Ireng untuk Jurnalis, Prabowo Subianto Kini Dituntut Minta Maaf!
-
Mr Presiden Harus Tahu! Siapa Londo Ireng, Benarkah Orang Indonesia yang Berkhianat?
-
Reshuffle Kabinet Prabowo Diprediksi Terjadi Agustus 2026, Ini Isyarat yang Diungkap Pengamat
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
-
Ulasan Novel Kado Terbaik: Potret Haru Perjuangan Anak Jalanan
-
Qualcomm Siapkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 Versi Murah, Akhiri Era HP Flagship Mahal?
-
Prabowo Guyur Insentif Baru, Bea Masuk Impor MRO dan LPG Dipangkas Jadi 0%
-
Momen Febrie Adriansyah Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
The Da Vinci Code: Misteri, Simbol, dan Sejarah yang Memancing Rasa Penasaran
-
Heboh Kasus Pencabulan Anak SD Yatim Piatu di Sumut, Guru ASN Wajib Disanksi Berat jika Terbukti
-
IOC Tolak Pengaduan FairSquare terhadap Gianni Infantino soal Dukungan ke Donald Trump
-
Yogyakarta Jadi Magnet Turis Asing, 126 Ribu WNA Gunakan Kereta Sepanjang Semester I 2026
-
Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan