- PDIP meresmikan Monumen Kudatuli di Jakarta Pusat pada 27 Juli 2026 untuk memperingati tiga dekade kerusuhan tersebut.
- Para penyintas seperti Maryono dan Ribka Tjiptaning membagikan kisah serangan mendadak serta penanganan medis darurat tanpa bius bagi korban.
- Andi Widjajanto menyatakan peristiwa itu terjadi akibat kepanikan rezim terhadap kekuatan akar rumput dan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.
Ribka juga menceritakan bagaimana ia terpaksa melakukan tindakan medis dengan alat seadanya tanpa obat bius di kantor LBH.
"Nah karena situasi seprrti itu saya minta tolong salah satu aktivis PRD untuk mengambil di Ciledug alat jahit. Tapi karena dia bukan dari Nakes ya diambil aja dia taunya jarum bengkok ini tapi benangnya dia gak tau benang apa akhirnya kita pakai benang jahit baju. Nggak ada obat bius ada tuh satu dibelakang situ di Ratno saya jahit tanpa bius itu juga mas munir ruas kelingkingnya dipukul tentara dia patah saya amputasi tanpa bius," kata Ribka.
Sebagai penutup refleksi, Andi Widjajanto, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat PDIP, memberikan analisis mendalam mengenai latar belakang politik di balik peristiwa 27 Juli.
Menurutnya, peristiwa tersebut adalah manifestasi kepanikan rezim terhadap kekuatan rakyat.
"27 Juli itu tidak bisa dipandang hanya satu serbuan ke kantor partai. Tapi bisa dilihat sebagai kegelisahan tentang kegagalan dari satu rezim untuk betul-betul bisa mengekang suara dari bawah. Suara akar rumput. Itulah penyebab asal dari serangan 27 Juli," kata Andi.
"Mereka sudah berusaha untuk membungkam nama Soekarno dari tahun '66 sampai tahun '86. Lalu mereka panik ketika ada seorang politisi muda, masih berusia 40 tahun, bergabung ke PDI, lolos Pemilu '87, membesar suaranya di Pemilu '92, lalu berhasil menjadi Ketua Umum PDI ya di Kongres '93," kata dia.
"Lalu saat itu penilaian dari rezim saat itu, kalau politisi muda, ibu muda ini terus, maka akan berbahaya untuk Pemilu '97. Politisi ibu muda itu adalah Ibu Megawati Soekarnoputri," lanjutnya.
Andi juga menyoroti adanya perpecahan di internal militer saat itu dan kekuatan "akar rumput" yang tidak bisa dimatikan.
"Saat itu tentara sendiri terpecah. Ada yang mengatakan bahwa suara ini tidak bisa dibendung. Kita sudah berusaha membendung, menyingkirkan, mengasingkan nama dan keluarga Soekarno dari tahun '66 sampai '86. Tapi kemunculan satu keluarga Soekarno saja sudah bisa membuat suara-suara kerinduan tentang nasionalisme, tentang marhaen, tentang wong cilik itu segera mulai lagi di mana-mana," ujarnya.
Baca Juga: Pramono Ungkap Peran PKB Antar Megawati Jadi Wakil Presiden pada 1999
Ia mengatakan, Megawati selalu berpesan bahwa suara yang tak bisa dibungkam adalah suara akar rumput.
"Ibu Mega berkali-kali mengatakan ke kami, yang paling kuat, yang paling susah untuk dimatikan di negara ini adalah akar rumput. Akar rumput itu adalah kita semua. Kita semua yang yang sekarang hadir di ruangan ini. Akar rumput itulah itulah sebetulnya yang diserang tanggal 27 Juli," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
Pohon Besar Tiba-tiba Ambruk di Lokasi Kerusuhan Matraman, Timpa Tenda Pedagang
-
Kuasa Hukum Febrie Soroti 'Zona Abu-Abu' Kasus TPPU: Predicate Crime Belum Jelas
-
Dipicu Semak Kering dan Angin, Lahan Perbukitan Desa Pasirbaru Cisolok Hangus Terbakar
-
Tim Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Buka Suara Soal Kematian Sutrismo
-
Ketika Tumpukan Kardus Paket Menjadi Jejak Perilaku Konsumsi Gen Z
-
Diklaim Minta Berunding, Iran Tegaskan Tak Ada Negosiasi Rahasia dengan Amerika Serikat
-
Rekor Shin Tae-yong Jadi Hantu, John Herdman Dituntut Buktikan Kualitas di ASEAN Cup
-
Usai Bertemu Seskab Teddy, Pramono Anung Bocorkan Deretan Proyek Baru untuk Jakarta
-
Mau Makan Enak Tapi Diskon? Cek Syarat Promo BRI di Yamatoten Abura Soba Ini
-
Di Balik Gerakan Tanpa Kata, Bagaimana Pantomim Jadi Ruang Memulihkan Diri?