News / Nasional
Senin, 27 Juli 2026 | 17:50 WIB
Dalam rangka memperingati 30 tahun peristiwa kelam kerusuhan 27 Juli 1996, PDIP meresmikan Monumen Kudatuli sebagai simbol pengingat perjuangan demokrasi di Indonesia. (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • PDIP meresmikan Monumen Kudatuli di Jakarta Pusat pada 27 Juli 2026 untuk memperingati tiga dekade kerusuhan tersebut.
  • Para penyintas seperti Maryono dan Ribka Tjiptaning membagikan kisah serangan mendadak serta penanganan medis darurat tanpa bius bagi korban.
  • Andi Widjajanto menyatakan peristiwa itu terjadi akibat kepanikan rezim terhadap kekuatan akar rumput dan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.

Ribka juga menceritakan bagaimana ia terpaksa melakukan tindakan medis dengan alat seadanya tanpa obat bius di kantor LBH.

"Nah karena situasi seprrti itu saya minta tolong salah satu aktivis PRD untuk mengambil di Ciledug alat jahit. Tapi karena dia bukan dari Nakes ya diambil aja dia taunya jarum bengkok ini tapi benangnya dia gak tau benang apa akhirnya kita pakai benang jahit baju. Nggak ada obat bius ada tuh satu dibelakang situ di Ratno saya jahit tanpa bius itu juga mas munir ruas kelingkingnya dipukul tentara dia patah saya amputasi tanpa bius," kata Ribka.

Sebagai penutup refleksi, Andi Widjajanto, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat PDIP, memberikan analisis mendalam mengenai latar belakang politik di balik peristiwa 27 Juli.

Menurutnya, peristiwa tersebut adalah manifestasi kepanikan rezim terhadap kekuatan rakyat.

"27 Juli itu tidak bisa dipandang hanya satu serbuan ke kantor partai. Tapi bisa dilihat sebagai kegelisahan tentang kegagalan dari satu rezim untuk betul-betul bisa mengekang suara dari bawah. Suara akar rumput. Itulah penyebab asal dari serangan 27 Juli," kata Andi.

"Mereka sudah berusaha untuk membungkam nama Soekarno dari tahun '66 sampai tahun '86. Lalu mereka panik ketika ada seorang politisi muda, masih berusia 40 tahun, bergabung ke PDI, lolos Pemilu '87, membesar suaranya di Pemilu '92, lalu berhasil menjadi Ketua Umum PDI ya di Kongres '93," kata dia.

"Lalu saat itu penilaian dari rezim saat itu, kalau politisi muda, ibu muda ini terus, maka akan berbahaya untuk Pemilu '97. Politisi ibu muda itu adalah Ibu Megawati Soekarnoputri," lanjutnya.

Andi juga menyoroti adanya perpecahan di internal militer saat itu dan kekuatan "akar rumput" yang tidak bisa dimatikan.

"Saat itu tentara sendiri terpecah. Ada yang mengatakan bahwa suara ini tidak bisa dibendung. Kita sudah berusaha membendung, menyingkirkan, mengasingkan nama dan keluarga Soekarno dari tahun '66 sampai '86. Tapi kemunculan satu keluarga Soekarno saja sudah bisa membuat suara-suara kerinduan tentang nasionalisme, tentang marhaen, tentang wong cilik itu segera mulai lagi di mana-mana," ujarnya.

Baca Juga: Pramono Ungkap Peran PKB Antar Megawati Jadi Wakil Presiden pada 1999

Ia mengatakan, Megawati selalu berpesan bahwa suara yang tak bisa dibungkam adalah suara akar rumput.

"Ibu Mega berkali-kali mengatakan ke kami, yang paling kuat, yang paling susah untuk dimatikan di negara ini adalah akar rumput. Akar rumput itu adalah kita semua. Kita semua yang yang sekarang hadir di ruangan ini. Akar rumput itulah itulah sebetulnya yang diserang tanggal 27 Juli," tutupnya.

Load More