- Kabinet Bayangan mengkritik kenaikan anggaran pertahanan pemerintahan Prabowo tahun 2026.
- Curie Maharini meminta pemerintah memperketat transparansi pengadaan alutsista demi mencegah terjadinya potensi kebocoran anggaran serta konflik kepentingan.
- Shofwan Al Bana menilai kebijakan luar negeri Indonesia harus berorientasi pada kepentingan rakyat dan bukan sekadar keputusan terpusat.
Suara.com - Akademisi yang tergabung dalam "Kabinet Bayangan" mengkritik peningkatan anggaran pertahanan di era Presiden Prabowo Subianto. Mereka mengingatkan, penguatan militer tidak boleh mengorbankan demokrasi, hak privasi warga negara, hingga kepentingan rakyat dalam kebijakan luar negeri.
Ahli manajemen dan ekonomi pertahanan Curie Maharini, yang didapuk sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Bayangan, menilai kenaikan anggaran pertahanan harus diiringi transparansi dan pengawasan yang ketat.
Curie menyoroti anggaran Kementerian Pertahanan pada 2026 yang mencapai Rp187,1 triliun atau naik 13,3 persen dibandingkan 2025 sebesar Rp165,2 triliun.
Menurutnya, besarnya anggaran tersebut harus dibarengi evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pertahanan pemerintah.
Sebagai Menteri Pertahanan Kabinet Bayangan, Curie mengatakan pihaknya ingin menghadirkan evaluasi sistematis terhadap berbagai program pertahanan yang dijalankan pemerintahan Prabowo.
Ia juga mendorong transparansi dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), termasuk regulasi yang lebih ketat terhadap peran broker atau perantara agar tidak memicu kebocoran anggaran maupun konflik kepentingan.
"Apakah kita mau bersiap perang dengan mengorbankan demokrasi, privasi, stabilitas anggaran, dan hasil diplomasi kita?" kata Curie dalam konferensi pers Kabinet Bayangan di Cikini, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Menurut Curie, Kabinet Bayangan diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi dan peneliti untuk menyusun alternatif kebijakan pertahanan yang berbasis riset ilmiah.
"Konsolidasi komunitas epistemik (peneliti) agar kebijakan pertahanan berbasis data ilmiah, bukan hanya kepentingan segelintir pihak," ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Terima Pengunduran Diri Perry Warjiyo, Destry Damayanti Jadi Plt Gubernur BI
Diplomasi Harus Berorientasi pada Kepentingan Rakyat
Sorotan serupa juga datang dari Associate Professor Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Shofwan Al Bana, yang dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri Kabinet Bayangan.
Shofwan menegaskan kebijakan luar negeri Indonesia semestinya berangkat dari kepentingan rakyat, bukan sekadar mengikuti gaya politik pemimpin.
Ia mengkritik kecenderungan pengambilan keputusan yang dinilai terlalu terpusat pada Presiden Prabowo sehingga berpotensi mengabaikan masukan diplomat karier di Kementerian Luar Negeri.
"Kebijakan luar negeri itu dimulai dari rumah. Kalau urusan dalam negeri berantakan, maka citra di luar juga akan buruk," kata Shofwan.
Ia juga menyoroti sejumlah kesepakatan internasional yang dinilai belum memiliki kejelasan, seperti rencana joint development di Blok Ambalat bersama Malaysia hingga kesepakatan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Penjualan Semen SIG Tembus 18,27 Juta Ton, Naik 5,6% di Tengah Persaingan Ketat
-
Anggaran Militer Melejit Rp187 T, Kabinet Bayangan: Mau Perang dengan Korbankan Demokrasi?
-
Siap-Siap! Jatim Usulkan 2.100 Kursi CPNS 2026, Ini Bocoran Jadwalnya
-
IHSG dan Rupiah Melemah Usai Perry Warjiyo Mundur, Gubernur BI Buka Suara
-
Minat Investor Asing Akuisisi Bank Indonesia Masih Tinggi, Proses Merger BPR/BPRS Terus Bertambah
-
Menolak Punah: Komunitas Menjadi Benteng Utama Karya Musik dan Buku Indie
-
Karnaval Tanpa Dentuman: Pemkot Malang Tegas Larang Sound Horeg di HUT RI
-
Profil Joshua Baker Adik Mitchell Baker yang Bela Hong Kong, Bisa Dinaturalisasi Jadi WNI?
-
Apa Moisturizer Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Umur 40 Tahun? Ini 4 Pilihannya
-
Fakta Mitchell Baker: Sang Adik Bela Hong Kong, Sama-sama Gacor Bobol Lawan