News / Internasional
Rabu, 29 Juli 2026 | 13:19 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (kanan) tengah berbincang dengan Presiden AS Donald Trump (kiri). [JNS.org]
Baca 10 detik
  • Arab Saudi dan AS menggempur milisi Irak balasan atas serangan fasilitas minyak.

  • Eskalasi tiga front mengancam jalur ekspor minyak dan kestabilan ekonomi Arab Saudi.

  • Ketegangan bersenjata melumpuhkan upaya diplomasi dan memicu lonjakan defisit anggaran Kerajaan.

Suara.com - Arab Saudi resmi melancarkan gempuran udara balasan ke Irak timur bersama militer Amerika Serikat demi meredam ancaman yang merusak infrastruktur minyak nasionalnya. Langkah militer ini menandai penghentian kebijakan penahanan diri Arab Saudi setelah gempuran lintas batas terus berdatangan secara sporadis dari tiga arah berbeda.

Pertaruhan ekonomi Riyadh kini berada di titik kritis karena eskalasi bersenjata mengancam proyek diversifikasi nasional bernilai triliunan dolar. Ambisi mengubah wilayah ini menjadi pusat kekuatan ekonomi regional seketika terganggu akibat kepungan kekuatan asimetris dari Iran, milisi Irak, dan kelompok Houthi Yamen.

Eskalasi terbaru ini memperlihatkan rapuhnya kesepakatan rekonsiliasi berkat mediasi China yang dibangun sejak dua tahun lalu. Riyadh terpaksa mengalihkan fokus anggaran negara yang semula diperuntukkan bagi pembangunan megaproyek guna memperkuat benteng pertahanan udaranya.

Ilustrasi kilang minyak Arab Saudi (Gemini AI)

Jet tempur Kerajaan Arab Saudi dan angkatan udara Amerika Serikat langsung menggempur sasaran milisi pro-Iran pada Selasa dini hari. Komando Pusat Amerika Serikat menegaskan bahwa tindakan tegas tersebut diluncurkan sebagai balasan atas gelombang serangan yang dikendalikan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa pasukannya telah melakukan serangan presisi dan terarah ke wilayah Irak timur.

"Kerajaan menegaskan tidak mencari eskalasi, tetapi akan membalas setiap agresi yang dihadapi," kata Kementerian Pertahanan Arab Saudi dikutip dari Al Jazeera.

Pihak Pengawas Mobilisasi Populer Irak melaporkan bahwa sejumlah orang tewas dan luka-luka akibat hantaman rudal jet tempur tersebut. Korps gabungan ini dituding menjadi dalang di balik peluncuran puluhan pesawat nirawak yang menargetkan fasilitas minyak strategis dan ibu kota Riyadh.

Kelompok Houthi dari selatan turut memperkeruh situasi dengan meluncurkan rudal ke kompleks kilang minyak Jazan di pesisir Laut Merah. Kerusakan parah yang dialami fasilitas vital tersebut terlihat jelas melalui rekaman satelit dan pemetaan lokasi terkini.

Aksi pengadangan kapal tanker oleh Houthi di Selat Bab al-Mandeb berpotensi melumpuhkan arus ekspor minyak Saudi hingga sembilan juta barel per hari. Penutupan jalur pelayaran ini memaksa Riyadh memutar otak untuk mengamankan rute pengiriman energi ke pasar Asia.

Baca Juga: Anomali Harga Minyak, Mengapa Tidak Melonjak Meski Timur Tengah Memanas?

Sengketa udara sempat memanas saat Houthi menuduh armada Saudi membom bandara Sanaa demi mencegah pendaratan pesawat dari Tehran.

"Perhatian juga tertuju pada apa lagi yang mungkin diangkut di dalam pesawat tersebut," kata Pengamat kajian perang King's College London, Nawaf Obeid.

Rangkaian provokasi bertubi-tubi itu memicu kemarahan mendalam otoritas pertahanan Kerajaan. Analis keamanan Mohammed al Basha menilai bahwa semua garis merah telah dilanggar, semua tombol Saudi telah ditekan oleh Houthi.

Strategi perlawanan kelompok milisi Yemen ini disinyalir memanfaatkan ancaman keamanan demi memperoleh keuntungan finansial serta kompromi politik.

"Houthi tampaknya mengikuti pola permainan Korea Utara, menggunakan siklus provokasi berulang untuk memeras konsesi politik dan ekonomi... mengubah wilayah mereka di selatan Arab Saudi dan Laut Merah menjadi panggung mereka," tambah Mohammed al Basha.

Persenjataan modern senilai puluhan miliar dolar kini diuji habis-habisan untuk melindungi wilayah teritorial Saudi yang terbentang sangat luas. Luas bentang alam yang mencapai seperlima daratan Amerika Serikat membuat infrastruktur energi Kerajaan sangat rentan terhadap serangan udara jarak jauh.

Load More