-
Arab Saudi dan AS menggempur milisi Irak balasan atas serangan fasilitas minyak.
-
Eskalasi tiga front mengancam jalur ekspor minyak dan kestabilan ekonomi Arab Saudi.
-
Ketegangan bersenjata melumpuhkan upaya diplomasi dan memicu lonjakan defisit anggaran Kerajaan.
Suara.com - Arab Saudi resmi melancarkan gempuran udara balasan ke Irak timur bersama militer Amerika Serikat demi meredam ancaman yang merusak infrastruktur minyak nasionalnya. Langkah militer ini menandai penghentian kebijakan penahanan diri Arab Saudi setelah gempuran lintas batas terus berdatangan secara sporadis dari tiga arah berbeda.
Pertaruhan ekonomi Riyadh kini berada di titik kritis karena eskalasi bersenjata mengancam proyek diversifikasi nasional bernilai triliunan dolar. Ambisi mengubah wilayah ini menjadi pusat kekuatan ekonomi regional seketika terganggu akibat kepungan kekuatan asimetris dari Iran, milisi Irak, dan kelompok Houthi Yamen.
Eskalasi terbaru ini memperlihatkan rapuhnya kesepakatan rekonsiliasi berkat mediasi China yang dibangun sejak dua tahun lalu. Riyadh terpaksa mengalihkan fokus anggaran negara yang semula diperuntukkan bagi pembangunan megaproyek guna memperkuat benteng pertahanan udaranya.
Jet tempur Kerajaan Arab Saudi dan angkatan udara Amerika Serikat langsung menggempur sasaran milisi pro-Iran pada Selasa dini hari. Komando Pusat Amerika Serikat menegaskan bahwa tindakan tegas tersebut diluncurkan sebagai balasan atas gelombang serangan yang dikendalikan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa pasukannya telah melakukan serangan presisi dan terarah ke wilayah Irak timur.
"Kerajaan menegaskan tidak mencari eskalasi, tetapi akan membalas setiap agresi yang dihadapi," kata Kementerian Pertahanan Arab Saudi dikutip dari Al Jazeera.
Pihak Pengawas Mobilisasi Populer Irak melaporkan bahwa sejumlah orang tewas dan luka-luka akibat hantaman rudal jet tempur tersebut. Korps gabungan ini dituding menjadi dalang di balik peluncuran puluhan pesawat nirawak yang menargetkan fasilitas minyak strategis dan ibu kota Riyadh.
Kelompok Houthi dari selatan turut memperkeruh situasi dengan meluncurkan rudal ke kompleks kilang minyak Jazan di pesisir Laut Merah. Kerusakan parah yang dialami fasilitas vital tersebut terlihat jelas melalui rekaman satelit dan pemetaan lokasi terkini.
Aksi pengadangan kapal tanker oleh Houthi di Selat Bab al-Mandeb berpotensi melumpuhkan arus ekspor minyak Saudi hingga sembilan juta barel per hari. Penutupan jalur pelayaran ini memaksa Riyadh memutar otak untuk mengamankan rute pengiriman energi ke pasar Asia.
Baca Juga: Anomali Harga Minyak, Mengapa Tidak Melonjak Meski Timur Tengah Memanas?
Sengketa udara sempat memanas saat Houthi menuduh armada Saudi membom bandara Sanaa demi mencegah pendaratan pesawat dari Tehran.
"Perhatian juga tertuju pada apa lagi yang mungkin diangkut di dalam pesawat tersebut," kata Pengamat kajian perang King's College London, Nawaf Obeid.
Rangkaian provokasi bertubi-tubi itu memicu kemarahan mendalam otoritas pertahanan Kerajaan. Analis keamanan Mohammed al Basha menilai bahwa semua garis merah telah dilanggar, semua tombol Saudi telah ditekan oleh Houthi.
Strategi perlawanan kelompok milisi Yemen ini disinyalir memanfaatkan ancaman keamanan demi memperoleh keuntungan finansial serta kompromi politik.
"Houthi tampaknya mengikuti pola permainan Korea Utara, menggunakan siklus provokasi berulang untuk memeras konsesi politik dan ekonomi... mengubah wilayah mereka di selatan Arab Saudi dan Laut Merah menjadi panggung mereka," tambah Mohammed al Basha.
Persenjataan modern senilai puluhan miliar dolar kini diuji habis-habisan untuk melindungi wilayah teritorial Saudi yang terbentang sangat luas. Luas bentang alam yang mencapai seperlima daratan Amerika Serikat membuat infrastruktur energi Kerajaan sangat rentan terhadap serangan udara jarak jauh.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
Bagaimana Cara Memilih Motor Listrik yang Cocok untuk Penggunaan Harian di Kota?
-
Arab Saudi di Pusaran Perang Timur Tengah, Apa Dampaknya untuk Minyak Dunia?
-
Serum Viva Anti Aging Dipakai Kapan? Ini Waktu yang Tepat untuk Kurangi Kerutan dan Flek Hitam
-
Promo Buy 1 Get 1Sports Station di MAPCLUB Hingga 2 Agustus 2026, Begini Cara Dapatkannya
-
Indosat Catat Pertumbuhan Double Digit, Percepat Transformasi Berbasis AI
-
Jangan Salah Paham! Ini Isi Lengkap Putusan MK tentang Kuota Internet Hangus
-
3 Pilihan Lipstik Bullet Lokal, Warna Tahan Lama dan Tak Bikin Bibir Kering
-
Tak Punya Dana Segar, Alasan Proyek LRT City Mangkrak
-
Kebakaran Hanguskan Kandang Berisi Puluhan Ribu Ayam di Magetan, Ini Kronologinya
-
Jangan Sisakan Ruang Spekulasi! Polisi Diminta Usut Tuntas Kematian Tak Wajar Sutrimo