Suara.com - Lahan bekas tambang kerap menyisakan persoalan yang tidak mudah dipulihkan. Lubang galian menganga, lapisan tanah yang hilang, erosi, longsor, hingga air asam tambang menjadi ancaman bagi ekosistem jika tidak segera direhabilitasi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini menawarkan salah satu pendekatan untuk mempercepat pemulihan kawasan tersebut. Melalui teknologi BioReKarst 3S (Reklamasi Tiga Strata Bermikoriza), para peneliti menggabungkan revegetasi bertahap dengan pemanfaatan jamur mikoriza untuk membantu memulihkan kondisi tanah bekas tambang.
Penelitian yang dipimpin Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Retno Prayudyaningsih, itu bertujuan mempercepat pemulihan ekosistem sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk maupun bahan kimia sintetis dalam proses reklamasi.
Menurut Retno, teknologi tersebut bertumpu pada pupuk hayati Isomik MK1, yang dikembangkan dari fungsi mikoriza arbuskular hasil isolasi kawasan karst yang telah terdegradasi.
"Jantung dari teknologi ini adalah Isomik MK1, yaitu pupuk hayati berbasis fungsi mikoriza arbuskular yang kami isolasi dari kawasan karst terdegradasi," kata Retno dalam acara BRIN Goes to Industry 5: Hilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambangan di Jakarta.
Pada tahap pembibitan, sekitar lima gram Isomik MK1 diberikan pada setiap lubang tanam. Mikoriza kemudian membentuk hubungan simbiosis dengan akar tanaman sehingga memperluas sistem perakaran dan membantu tanaman menyerap unsur hara, terutama fosfat yang umumnya sangat terbatas di lahan bekas tambang.
BRIN menyebut kondisi tersebut meningkatkan peluang hidup tanaman sekaligus mempercepat pertumbuhannya.
Meniru cara alam memulihkan hutan
Berbeda dengan reklamasi yang hanya berfokus pada penanaman pohon, BioReKarst 3S dirancang mengikuti proses suksesi alami ekosistem.
Baca Juga: Berapa Jumlah Bulu Sayap Garuda Pancasila? Poster BRIN Viral karena Salah Hitung
Tahap awal dimulai dengan penanaman cover crop untuk melindungi permukaan tanah sekaligus memperbaiki struktur tanah. Setelah itu, ditanam pohon-pohon pionir yang menghasilkan biomassa dan bahan organik. Pada tahap berikutnya, pohon berumur panjang diharapkan tumbuh sehingga ekosistem hutan dapat terbentuk secara lebih permanen.
Selain menumbuhkan vegetasi, teknologi ini juga ditujukan untuk mengembalikan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah.
Retno mengatakan hasil penelitian menunjukkan populasi bakteri dan jamur tanah meningkat dalam waktu sekitar 12 bulan setelah vegetasi dan Isomik MK1 diterapkan.
"Mikroba tanah berperan penting dalam pembentukan tanah dan kesuburannya sehingga pemulihan kehidupan biologis menjadi bagian penting dari proses reklamasi," ujarnya.
Ia menambahkan pendekatan tersebut juga meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki sifat kimia tanah, serta menjaga ketersediaan nutrisi secara alami tanpa tambahan bahan kimia sintetis.
Berpeluang mendukung kredit karbon
BRIN membuka peluang kerja sama untuk memperluas penerapan BioReKarst 3S, mulai dari produksi massal inokulum mikoriza, penyusunan standar operasional penerapan di lapangan, hingga replikasi teknologi di berbagai kawasan pertambangan.
Dalam jangka panjang, teknologi ini dinilai tidak hanya berpotensi mempercepat rehabilitasi lahan terdegradasi, tetapi juga membuka peluang pengembangan skema kredit karbon melalui peningkatan biomassa hutan hasil reklamasi.
Teknologi tersebut ditujukan untuk mendukung kegiatan reklamasi di berbagai sektor pertambangan sekaligus memperkuat upaya rehabilitasi lahan yang dilakukan pemerintah maupun pelaku usaha sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
Terkini
-
Bukan Cuma yang Viral, Alyssa Daguise Beberkan Rahasia Pilih Skincare yang Aman untuk Baby Soleil
-
BRIN Kembangkan Teknologi untuk Pulihkan Lahan Bekas Tambang, Seberapa Efektif?
-
Anggota DPRD Medan Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pengeroyokan
-
Memanas! Tiga Anggota DPRD Kota Madiun Walk Out dari Paripurna KUA-PPAS 2027
-
Mitsubishi Xforce Apakah Pakai Sunroof? Ini Perbandingannya dengan Versi Lawas
-
Belanja Auto Dicap Boros? Perempuan dan Dilema Nikmati Hasil Kerja Sendiri
-
Jelang Lawan Vietnam, Media Tetangga Sindir Timnas Indonesia dengan Bendera Belanda dan Australia
-
Tawarkan Bunga Ringan, Penyaluran KUR Perumahan dan FLPP BRI Dominasi Kuota Nasional
-
Tegas! 17 SPPG di DIY Ditutup, Buntut Kasus Keracunan hingga Masalah Izin
-
Klaim Dikriminalisasi Febrie Adriansyah Dipertanyakan, Jangan Semua Tersangka Mengaku Jadi Korban