- Survei I-NAMHS 2022 menunjukkan 34,9 persen remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental.
- Dekan Fakultas Psikologi UGM Rahmat Hidayat menyatakan masalah ini menuntut perhatian serius dari pemerintah.
- Rahmat mendorong pemerintah memperkuat akses layanan dan menindaklanjuti skrining kesehatan mental di sekolah.
Suara.com - Persoalan kesehatan mental remaja di Indonesia dinilai telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Hal itu menyusul data yang menyebut sekitar sepertiga remaja tercatat pernah mengalami masalah kesehatan mental.
Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sebanyak 15,5 juta atau 34,9 persen remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental.
Angka tersebut sejalan dengan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental.
Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan lifetime prevalence, yakni menunjukkan seseorang pernah mengalami masalah kesehatan mental setidaknya sekali selama masa remaja.
Meski demikian, ia menegaskan besarnya angka tersebut tetap menjadi alarm serius bagi pemerintah dan institusi pendidikan.
Menurut Rahmat, tidak semua gejolak emosi pada remaja dapat langsung dikategorikan sebagai gangguan kesehatan mental. Krisis identitas, kebingungan, hingga rasa tidak percaya diri merupakan bagian dari proses tumbuh dewasa.
"Tetapi kalau ini berlanjut menjadi kesedihan tanpa habis, depresi, nah itu sudah menjadi masalah kesehatan jiwa," kata Rahmat, Kamis (30/7/2026).
Rahmat menambahkan, tumpukan persoalan psikososial yang tidak terselesaikan dapat menjadi beban yang semakin berat bagi remaja. Kehadiran keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan sekolah dan kampus yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi dapat mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan remaja.
"Stres itu tidak masalah yang menjadi masalah adalah stres yang berlebihan dan berkepanjangan sehingga melewati daya tahan tubuh fisik kita maupun psikologis kita. Kalau tanpa stres, orang tidak akan pernah berkembang," ungkapnya.
Baca Juga: Pakar Sorot Isu Tekanan Asing dalam Pemilihan Vendor Infrastruktur Telekomunikasi
Orang tua diminta mampu membedakan antara memberi ruang bagi anak untuk memproses emosinya dengan membiarkan anak menghadapi masalah seorang diri.
"Membiarkan berbeda dengan memberi kesempatan, memberi ruang, memberi space. Orang tua yang tepat adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengalami, tetapi juga menunjukkan bahwa anytime kalau diperlukan siap mendukung dan tidak menghakimi," paparnya.
Selain keluarga, kata Rahmat, rendahnya literasi kesehatan mental masih menjadi kendala dalam deteksi dini. Meski kesadaran masyarakat mulai meningkat, akses terhadap layanan psikologis tetap harus diperkuat.
Pemerintah didorong untuk terus menindaklanjuti kebijakan skrining kesehatan mental di sekolah maupun perguruan tinggi. Ia meminta agar skrining tersebut tidak berhenti pada proses pendataan semata.
"Screening efektif, tetapi tidak cukup. Hanya mengenali sakitnya tanpa menyediakan cara mengobatinya itu seperti PHP saja," tandasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rahmat mengajak remaja untuk tidak takut mencari bantuan ketika mulai merasakan gangguan kesehatan mental. Menurutnya, keberanian meminta pertolongan bukan merupakan tanda kelemahan, melainkan langkah penting agar masalah tidak berkembang menjadi lebih serius.
"Tidak perlu malu untuk meminta bantuan. Dari masalah kesehatan mental yang diatasi dengan baik, justru akan menjadi proses pertumbuhan pribadi menjadi sosok yang matang," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Pakar Sorot Isu Tekanan Asing dalam Pemilihan Vendor Infrastruktur Telekomunikasi
-
Kasus Keracunan MBG Disorot, Guru Besar UGM Sebut SPPG Dibebani Produksi Berlebihan
-
Review Juno: Kisah Kehamilan Remaja yang Hangat dan Penuh Pelajaran Hidup
-
5 Merek Sepatu Sekolah Paling Awet untuk Remaja, Mulai Rp100 Ribuan
-
Ekonom UGM Kritik Kebijakan Pemerintah: Data Tak Sinkron hingga Risiko Inflasi dari MBG
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Sepertiga Remaja Alami Masalah Kesehatan Mental, Skrining Tanpa Pendampingan Tak Berarti
-
BNI Sekuritas Buka Suara soal Dugaan Perundungan yang Seret Nama Pegawai di Media Sosial
-
Fashion Show dari Limbah hingga Bazar UMKM Ramaikan Alun-alun Cilegon
-
Ketika Penyandang Disabilitas Didorong Membangun Bisnis Berkelanjutan
-
KPK Tahan 4 Tersangka Baru Korupsi Asuransi Fiktif PT Pelni Rp263 Miliar
-
Limbah Sianida vs Kemarau Panjang: Saat Sungai Cikaniki Mati Rasa dan Warga Berjuang Demi Air Bersih
-
Askrindo Pertajam Strategi Pertumbuhan, Fokus Diversifikasi Produk hingga Digitalisasi
-
Optimalkan Pelayanan Publik, Mendagri: Pentingnya Penguatan Kapasitas & Dukungan Bagi Kepala Daerah
-
Nyaris Beredar! Polisi Gagalkan Distribusi 784 Ribu Butir Obat Keras Ilegal di Bandung
-
Semakin Praktis, Pembayaran Transportasi Umum Kini Cukup Tempel HP