- Guru Besar UGM Sri Raharjo menyatakan kasus keracunan MBG terjadi akibat beban produksi SPPG yang terlalu besar.
- SPPG baru yang langsung memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari memicu risiko kesalahan pengolahan dan distribusi.
- Sri menyarankan peningkatan kapasitas produksi dilakukan secara bertahap setelah melalui evaluasi keamanan pangan selama satu bulan.
Suara.com - Masih munculnya kasus dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak bisa dilepaskan dari beban produksi yang harus ditanggung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Raharjo, menilai banyak SPPG menghadapi tuntutan produksi yang terlalu besar sebelum sistem dan kapasitas mereka benar-benar siap.
Menurut Sri, persoalan keamanan pangan akan semakin sulit dikendalikan ketika SPPG yang baru beroperasi langsung dibebani ribuan paket makanan setiap hari. Dalam kondisi tersebut, peluang terjadinya kesalahan pengolahan, pengawasan, hingga distribusi makanan menjadi jauh lebih besar.
"Kebijakannya itu bertahap, SPPG-nya pun juga jangan ujug-ujug (tiba-tiba), SPPG baru lahir langsung dikasih beban 3.000 (porsi), ngawur itu," kata Sri dikutip, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, setiap SPPG memiliki batas kemampuan produksi aman yang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja, fasilitas, peralatan, hingga sistem pengendalian mutu yang dimiliki. Ketika kapasitas itu dipaksa berlipat ganda demi mengejar target program, risiko gangguan keamanan pangan ikut meningkat.
"Nah, kalau dia hanya karena ingin keuntungan, terutama mungkin dari mitranya atau yayasannya yang punya SPPG, padahal dibebani dua kalinya, tiga kalinya, itu kan risiko keamanan pangannya menjadi semakin tinggi, di luar kemampuannya yang wajar untuk menangani itu," ungkapnya.
Sri menilai pendekatan bertahap seharusnya menjadi prinsip utama dalam pengembangan MBG. Dapur SPPG yang baru berdiri perlu diberi kesempatan membuktikan bahwa sistem produksi mereka mampu berjalan aman dan konsisten sebelum kapasitasnya ditingkatkan.
"Jadi SPPG pun ketika baru beroperasi, meskipun juru masaknya hebat, ahli gizinya hebat, atau pengelolanya hebat, itu ya belum tentu dengan fasilitas yang baru, ya, dengan keadaan yang baru, itu langsung hebat semua, gitu loh," ujarnya.
Skema yang lebih masuk akal adalah memulai produksi dalam jumlah terbatas, kemudian dievaluasi secara berkala. Jika selama periode tertentu tidak ditemukan masalah keamanan pangan maupun keluhan dari penerima manfaat, kapasitas produksi baru bisa ditambah secara bertahap.
Baca Juga: BGN Siapkan Portal MBG, Orang Tua Bisa Pantau Menu dan Gizi Anak
Proses peningkatan kapasitas harus didasarkan pada hasil evaluasi nyata di lapangan, bukan sekadar target administratif. Catatan produksi, kualitas makanan, keamanan pangan, hingga respons penerima manfaat perlu menjadi indikator sebelum SPPG diberi tanggung jawab yang lebih besar.
"Nah mestinya, ini bertahapnya juga termasuk coba memproduksi 500 (porsi), jalan 1 bulan. Bagaimana pengelolaannya? Bagaimana catatan-catatannya? Bagaimana respons dari penerima manfaat," ucapnya.
"Misalnya aman, sebulan tidak terjadi kejadian keracunan, misalnya. Itu kan paling tidak sudah memunculkan kepercayaan bagi si SPPG-nya bahwa cara-cara produksi mereka itu sudah benar," imbuhnya.
Belum lagi soal tekanan waktu yang dihadapi SPPG dalam memenuhi jadwal distribusi MBG. Ketika volume produksi terlalu besar dan pasokan bahan baku datang terlambat, proses pengolahan makanan berpotensi berlangsung terburu-buru sehingga membuka celah terjadinya kesalahan.
Sri mengatakan berbagai keterbatasan yang dihadapi SPPG saat ini tidak sepenuhnya berasal dari pengelola di lapangan. Banyak persoalan muncul karena kebijakan perluasan MBG dilakukan terlalu cepat.
Akibatnya, kapasitas produksi belum tumbuh seiring dengan target yang ditetapkan pemerintah.
"Nah, keterbatasan ini itu kan belum tentu maunya SPPG, kan? Ini kan buah dari kebijakan dari BGN yang terlalu tergesa-gesa untuk memberikan MBG dalam jumlah banyak, ya, ke siswa dan bumil, dalam waktu singkat," ujarnya.
Oleh karena itu, Sri mengingatkan agar orientasi program tidak hanya berfokus pada percepatan jumlah penerima manfaat. Menurutnya, keberhasilan MBG seharusnya diukur dari kemampuan menyediakan makanan yang aman dan berkualitas, bukan sekadar banyaknya porsi yang berhasil dibagikan setiap hari.
"Orientasinya itu kan menyediakan MBG-nya supaya bergizi, ya harus aman dulu kan, harus aman," tandasnya.
Berita Terkait
-
BGN Siapkan Portal MBG, Orang Tua Bisa Pantau Menu dan Gizi Anak
-
Satpam Positif Sabu Jadi Otak Pencurian 1.700 Ompreng MBG di Ciputat
-
Perintah Prabowo: Orang Tua Siswa Kaya Raya Boleh Tolak MBG
-
Sudaryono Tutup 833 Dapur MBG, Tapi Akar Masalahnya Belum Tersentuh
-
Menteri Bappenas: Program MBG Lebih Mendesak Daripada Lapangan Pekerjaan
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
Terkini
-
Inggris Punya Dana Segar Rp96,64 Triliun untuk Prabowo Bangun Infrastruktur
-
Beda dengan SBY dan Jokowi, Tren Elektabilitas Prabowo Melemah di Awal Masa Jabatan
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Promo Eksklusif, Nasabah BRI Bisa Dapat Diskon Khusus di Siloam Hospital
-
Hadapi Yordania hingga Arab Saudi, Indonesia Turunkan 2 Tim di Srikandi Merdeka Cup 2026
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Polda Jateng Gelar Sertijab Terhadap 6 PJU dan 16 Jabatan Kapolres Jajaran, Ini Daftar Lengkapnya
-
Puisi Pahlawan dan Tikus: Menyelami Kritik Sosial yang Sarat Spiritualitas
-
32 Tim U-16 Adu Kekuatan di Surabaya, Tiket ke Thailand Jadi Rebutan
-
Heboh! Puluhan Siswa SD di Sukabumi Keracunan, Diduga dari Susu Kedaluwarsa MBG