Serangan balik Amerika Serikat ke Iran dinilai tidak memiliki strategi diplomasi yang jelas.
Iran percaya negosiasi baru terwujud jika opsi militer Amerika Serikat dihentikan sepenuhnya.
Pakistan berupaya memulihkan kesepakatan MoU Islamabad demi meredakan eskalasi konflik kedua negara.
Suara.com - Langkah Amerika Serikat memicu kembali konfrontasi militer dengan Iran dinilai sebagai kekeliruan besar tanpa arah strategis yang jelas. Kebijakan serangan balik tersebut dianggap tidak mampu memaksa Tehran kembali ke meja perundingan diplomasi.
Trita Parsi dari Quincy Institute for Responsible Statecraft menilai tindakan Washington saat ini purely didorong motif balas dendam. Tanpa adanya opsi militer yang solid, eskalasi baru ini justru memperbanyak kerugian di kedua belah pihak.
Ketegangan yang terus memuncak ini membuktikan bahwa pendekatan konfrontasi terbuka gagal membuka ruang kompromi baru. Tehran justru merespons aksi tersebut dengan kalkulasi penangkalan militer yang jauh lebih terukur.
"Apa sebenarnya tujuan akhir Trump dengan serangan-serangan ini? Pasalnya, serangan tersebut tampaknya tidak memaksa Iran untuk kembali ke meja perundingan, setidaknya belum. Menurut saya, saat ini tidak ada tujuan lain selain pembalasan. Jadi, memicu kembali perang ini jelas merupakan sebuah kesalahan," ujar Parsi kepada Al Jazeera, Kamis (30/7/2026).
Parsi juga menyoroti kelemahan mendasar dari strategi militer Washington yang dieksekusi tanpa perencanaan matang sejak awal. Operasi pemboman yang berlangsung selama dua pekan terakhir terbukti tidak menghasilkan deviden diplomatik apa pun.
"Pilihan militer Trump benar-benar sangat buruk. Ini adalah salah satu alasan mengapa mengejutkan bahwa ia memulai kembali perang tanpa benar-benar menyiapkan opsi yang lebih baik. Kini kita tahu, setelah 13 hari kampanye pengeboman, bahwa sebenarnya tidak banyak strategi di baliknya," ungkap Parsi.
Pihak Iran meyakini bahwa jalur negosiasi baru bisa terwujud jika Washington sadar akan keterbatasan opsi militernya. Langkah penangkalan yang diambil Tehran bertujuan menutup opsi kekerasan dalam benak para pembuat kebijakan AS.
"Orang Iran telah sampai pada kesimpulan, benar atau salah, bahwa Trump tidak akan pernah serius dalam diplomasi sampai dia sepenuhnya menyadari bahwa dia tidak memiliki pilihan militer," kata Parsi.
"Jalan menuju perdamaian bukanlah langsung melalui negosiasi. Itu harus terlebih dahulu mengambil jalan memutar dengan menghilangkan dalam pikirannya bahwa ada pilihan militer,".
Baca Juga: Arab Saudi Akan Melawan Jika Infrastruktur Energinya Diserang Rudal Milisi Pro Iran
Di tengah situasi yang memanas, Pemerintah Pakistan terus berupaya menjembatani komunikasi antara pihak Washington dan Tehran. Islamabad berusaha mengembalikan kedua negara pada komitmen awal yang terkandung dalam nota kesepahaman bersama.
Juru Bicaranya Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menegaskan komitmen negaranya dalam mengawal proses perundingan teknis. Pakistan aktif mendorong agar seluruh pihak kembali menaati poin kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.
“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk mengajak semua pihak kembali pada MoU Islamabad,” tegas Tahir Andrabi kepada para wartawan.
Hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran kembali memburuk setelah aksi saling serang terjadi secara intensif. Rangkaian insiden balasan tersebut menyebabkan kesepakatan sementara yang sebelumnya dimediasi oleh Pakistan runtuh secara total.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Apa Tujuan Donald Trump di Perang AS-Iran Hingga Belum Mau Berhenti Menyerang?
-
Spesifikasi JETOUR T2 i-DM PHEV dengan Jarak Tempuh Tembus 1200 Km
-
Ekonomi Amerika Anjlok, Rupiah Bangkit ke Rp18.055 per Dolar AS,
-
Eks La Liga Sebut Timnas Indonesia Layak Jadi Juara Piala AFF 2026
-
Bawa Garnacho dan Abraham, Aston Villa Siap Uji Mental Indonesia All Stars
-
Bersama Danantara, BTN Jadi Penyalur Terbesar dalam Akad Massal 62.000 Rumah Subsidi
-
Destry Singgung Independensi BI Usai Perry Warjiyo Mundur
-
Awal Tak Mulus, Penonton Ransom Canyon Season 2 Turun 43% di Pekan Perdana
-
Apakah Mobil Listrik Bebas Pajak Tahunan dan Ganjil Genap? Ini 5 Opsi Termurahnya
-
Fenomena Fun Run: Gaya Hidup Sehat atau Sekadar Ajang Konten Media Sosial?