News / Internasional
Senin, 03 Agustus 2026 | 11:43 WIB
Serangan udara brutal Israel menghantam area permukiman Gaza Tengah di tengah perintah pengosongan paksa. (Al Jazeera)
Baca 10 detik
  • Serangan udara Israel menewaskan satu keluarga termasuk ibu hamil dan janin di Gaza.

  • Janji penghentian serangan dan bantuan kemanusiaan tidak terwujud nyata di lapangan Gaza.

  • Gempuran yang merata dari utara hingga selatan membuat warga Gaza kehilangan tempat aman.

Suara.com - Serangan udara Israel kembali merenggut nyawa satu keluarga di Kota Gaza pada Minggu pagi. Sebuah apartemen hancur dihantam ledakan hingga menewaskan ayah, ibu hamil, serta janin yang terlempar dari kandungan.

Tragedi memilukan ini menegaskan bahwa tidak ada lagi zona aman di Jalur Gaza bagi warga sipil. Daya ledak amunisi yang sangat dahsyat memaksa tubuh janin tersebut terpisah dari ibunya di lokasi kejadian.

Dikutip dari Al Jazeera, kenyataan pahit ini berbanding terbalik dengan rumor penghentian permusuhan yang sempat diyakini bakal membawa ketenangan. Warga setempat kini harus menghadapi kenyataan bahwa janji perlindungan sama sekali tidak terwujud di lapangan.

Sebuah bangunan hancur di kawasan Gaza Palestina (news of Bahrain)

Ia menambahkan bahwa warga sempat percaya serangan drone dan serangan bom akan terhenti secara menyeluruh.

"Mereka percaya pasukan Israel akan berhenti menyerang, tidak lagi mendengar ledakan atau drone, serta mendapatkan akses layanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, dan kebebasan bergerak. Namun, tidak ada satu pun dari hal tersebut yang diterapkan di lapangan," tulis Al Jazeera.

Penyebaran kekerasan yang berlangsung secara masif membuat masyarakat Gaza berada dalam tingkat stres serta frustrasi yang sangat berat. Angka kematian warga terus melonjak saban hari tanpa ada tanda-tanda jeda kemanusiaan.

Kejadian di apartemen Kota Gaza tersebut memperlihatkan betapa dahsyatnya dampak senjata berat di kawasan pemukiman padat. Rekaman video di lokasi memperlihatkan jenazah bayi malang itu berada di lantai bangunan yang hancur.

Kisah tragis seperti ini bukanlah insiden tunggal, melainkan realitas harian yang terus berulang di Gaza. Warga harus menyaksikan anggota keluarga mereka gugur satu per satu dalam sekejap.

Di sisi lain, keluarga pengungsi yang mencoba kembali ke tempat pengungsian justru menemukan tenda mereka telah hancur. Seluruh barang milik mereka lenyap, memaksa mereka membangun kehidupan kembali dari nol.

Baca Juga: Mahasiswa Universitas Islam Gaza di Tengah Gempuran Israel: Kami Kuliah di Rumah Sakit

Eskalasi gempuran militer kini menjangkau seluruh penjuru Jalur Gaza dari utara hingga selatan. Wilayah Kota Gaza di utara, Deir el-Balah di tengah, hingga Khan Younis di selatan menjadi sasaran tembak secara bersamaan.

Kondisi ini membuat warga sipil kehabisan pilihan untuk menyelamatkan diri karena tidak ada area yang benar-benar terlindung dari serangan. Mereka terjebak dalam ketidakpastian tanpa tahu harus melangkah ke mana.

Gaza terus mengalami krisis kemanusiaan yang parah akibat rentetan gempuran udara dan darat sejak konflik meluas. Kerusakan infrastruktur kesehatan serta blokade bantuan kian memperburuk penderitaan jutaan warga yang kehilangan tempat tinggal.

Load More