News / Internasional
Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:45 WIB
Sebuah bangunan hancur di kawasan Gaza Palestina (news of Bahrain)
Baca 10 detik

 

  • Serangan Israel di Gaza menewaskan empat warga Palestina dan melukai puluhan lainnya.

  • Tembakan militer ke kamp pengungsian selatan memaksa warga kembali kehilangan tempat tinggal.

  • Pasukan Israel masih menguasai separuh lebih wilayah Gaza meski gencatan senjata berlaku.

Suara.com - Gempuran tentara Israel ke permukiman Gaza kembali memakan korban jiwa di tengah kesepakatan damai. Empat warga Palestina tewas, termasuk dua anak-anak, dan puluhan lainnya luka-luka akibat rentetan tembakan.

Tim medis mengevakuasi enam jenazah dan 34 korban luka ke rumah sakit terdekat dalam rentang waktu 24 jam. Evakuasi ini mencakup korban dari insiden baru serta warga yang mengembuskan napas terakhir akibat luka lama.

Aksi militer tersebut memperparah penderitaan sipil karena menyasar area padat penampungan sementara. Warga Gaza yang sebelumnya sudah mengungsi kini kembali harus kehilangan tempat bernaung.

Dikutip dari RIA Novosti, Jumat (31/7/2026), Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi bahwa penemuan jasad korban serangan terdahulu menambah deretan data korban evakuasi. Situasi darurat kesehatan pun semakin menekan kapasitas fasilitas medis lokal yang terbatas.

Tembakan pasukan Israel menghantam langsung kamp pengungsian di wilayah Gaza bagian selatan. Serangan ini memicu kepanikan massal serta merusak fasilitas penampungan yang dipadati warga sipil.

Sebagian besar penghuni kamp terpaksa melarikan diri tanpa membawa barang berharga. Kondisi ini memperpanjang rantai pengungsian internal di tengah minimnya bantuan kemanusiaan.

Rangkaian insiden mematikan ini terjadi di tengah skema penghentian permusuhan yang belum sepenuhnya stabil. Masyarakat internasional terus menyoroti eskalasi kekerasan yang membahayakan keselamatan warga sipil.

Hingga kini, penyaluran bantuan medis terus diupayakan untuk menangani puluhan korban luka yang memerlukan penanganan darurat. Pihak rumah sakit terus bersiaga menghadapi potensi lonjakan korban susulan.

Sektor kesehatan Gaza melaporkan kekhawatiran mendalam atas terulangnya gempuran ke zona permukiman. Penyerangan di area padat penduduk dinilai berisiko tinggi melipatgandakan jumlah korban jiwa.

Baca Juga: Akui Diculik dan Disiksa, Relawan Global Sumud Flotilla Adukan Dugaan Kejahatan Israel ke Kejagung

Eskalasi panjang ini bermula saat Israel menggelar operasi militer skala besar sejak Oktober 2023 sebagai respons atas serangan Hamas. Operasi tersebut mengakibatkan lebih dari 73.000 orang tewas dan 173.000 warga luka-luka.

Upaya diplomasi membuahkan kesepakatan tahap pertama rencana perdamaian pada 9 Oktober 2025 atas prakarsa Amerika Serikat. Kesepakatan yang dimediasi Mesir, Qatar, dan Turki tersebut secara resmi memulai gencatan senjata sehari kemudian.

Meskipun pasukan Israel telah ditarik hingga ke Garis Kuning sesuai perjanjian, militer mereka masih menguasai separuh lebih wilayah Jalur Gaza. Kondisi ini membuat stabilitas keamanan di kawasan tersebut tetap berada dalam posisi rentan.

Load More