- TPNPB-OPM membunuh lima pekerja bangunan di Distrik Woniki, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, pada Minggu, 2 Agustus 2026.
- Mafirion selaku anggota DPR RI mengecam aksi kekerasan tersebut dan mendesak pemerintah memberikan jaminan keamanan bagi pekerja.
- Serangan terhadap pekerja sipil itu dinilai dapat menghambat proyek pembangunan infrastruktur jangka panjang yang merugikan masyarakat Papua.
Suara.com - Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKB, Mafirion, mengecam keras pembunuhan lima pekerja bangunan yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).
Peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, pada Minggu (2/8/2026).
Mafirion menegaskan pemerintah memiliki kewajiban memberikan perlindungan dan jaminan keamanan bagi warga sipil, terutama mereka yang bertugas di wilayah rawan konflik.
"Pembunuhan warga sipil ini bukan pertama kali terjadi di wilayah konflik seperti Papua. Warga sipil yang tak tahu menahu selalu menjadi korban. Mau sampai kapan konflik ini terus terjadi dan mengorbankan masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik? Kami meminta pemerintah benar-benar memberikan jaminan rasa aman bagi setiap warga sipil yang bekerja di Papua," kata Mafirion kepada wartawan di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Mafirion, mendapatkan pekerjaan yang layak serta perlindungan keselamatan saat bekerja merupakan hak dasar setiap warga negara.
Ia menilai para pekerja infrastruktur di wilayah konflik seharusnya tidak perlu bekerja di bawah bayang-bayang ketakutan.
"Rasa aman dalam bekerja merupakan hak dasar setiap warga negara. Negara tidak boleh membiarkan para pekerja sipil yang sedang mencari nafkah justru menjadi sasaran kekerasan. Jika keselamatan mereka tidak terjamin, siapa yang berani bekerja membangun Papua?" ujarnya.
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa serangan terhadap pekerja sipil akan berdampak jangka panjang terhadap kesejahteraan masyarakat Papua.
Terhambatnya pembangunan infrastruktur, seperti jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan, akan merugikan masyarakat setempat.
Baca Juga: Baitul Arqam PWM Papua Barat Tuntas Digelar, Cetak Kader Kokoh Berlandaskan Islam Berkemajuan
"Apabila para pekerja sipil terus menjadi sasaran, maka proyek-proyek pembangunan akan terganggu bahkan bisa terhenti. Akibatnya, masyarakat Papua yang justru akan dirugikan karena akses jalan, jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur lainnya menjadi terlambat atau bahkan mandek. Keamanan pekerja adalah syarat utama agar pembangunan dapat berjalan," tegasnya.
Berdasarkan laporan yang diterima, penyerangan tersebut terjadi di kamp PT SHJ, Distrik Woniki, Kabupaten Tolikara. Para pelaku menyerang secara mendadak saat kelima pekerja bangunan itu sedang beristirahat.
Menanggapi situasi tersebut, Mafirion mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum mengambil langkah konkret, mulai dari mengejar pelaku hingga memperkuat mitigasi keamanan di lokasi proyek-proyek strategis.
"Kami meminta TNI dan Polri segera menangkap para pelaku dan memastikan peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Di saat yang sama, pemerintah harus memiliki skema perlindungan yang jelas bagi pekerja sipil di wilayah konflik. Negara tidak boleh kalah dalam memberikan rasa aman kepada warganya yang sedang membangun masa depan Papua," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Baitul Arqam PWM Papua Barat Tuntas Digelar, Cetak Kader Kokoh Berlandaskan Islam Berkemajuan
-
Tragedi di Tolikara: KKB Serang Kamp Pekerja Saat Istirahat, 5 Tewas dan 3 Masih Hilang
-
LPDB Koperasi Dorong KDKMP Papua Naik Kelas Lewat Program Inkubasi dan Akses Dana Bergulir
-
Batal ke Papua, Pegawai BGN yang Viral Main HP Saat Zoom Dimutasi ke Sulsel
-
Meki Nawipa: Pendapatan Daerah Papua Tengah Lampaui Target, PAD Tumbuh hingga 114,5 Persen
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
17 Tahun Menunggu, Transmigran di Kerinci Masih Hidup Tanpa Listrik
-
Dugaan Penggelapan Rekrutmen BLUD RSUD Karanganyar, Polisi Telusuri Aliran Dana
-
Apakah Smartwatch Bisa untuk WA? Ini 5 Merk yang Mendukung WhatsApp
-
Viral Sam Meychou Jadi Tahanan Tercantik di Kamboja, Siapa Dia dan Kena Kasus Apa?
-
Nikmati Cashback Rp45 Ribu di Marugame Udon Pakai QRIS BRImo
-
Tanggulangi Kekeringan di Musim Kemarau, Kodim 0730/Gunungkidul Bangun 18 Titik Sumur Bor
-
Tragedi Tolikara, DPR Desak Pemerintah Jamin Nyawa Warga Sipil di Papua
-
Persib Bandung vs Persija, Igor Tolic: Bukan Soal Bermain Indah, Tapi Menang!
-
DPR Mulai Terlibat, Purbaya Ungkap Nasib Independensi BI di UU P2SK Terbaru
-
John Herdman Ultimatum Timnas Indonesia: Lupakan Vietnam, Singapura Jadi Penentu Nasib