- Iran dan Oman merundingkan usulan kesepakatan pada hari Rabu yang memberikan Iran kendali atas kapal di Selat Hormuz.
- Kesepakatan tersebut dapat memicu pergeseran besar keseimbangan kekuatan regional setelah perang yang dimulai oleh Amerika Serikat pada Februari.
- Reuters melaporkan pada Kamis (6/8/2026) bahwa Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi vital jika Amerika Serikat melakukan serangan baru.
Suara.com - Sebuah usulan kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri perang lima bulan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi memberikan kendali kepada Iran atas kapal-kapal yang memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan keterangan sumber senior Iran dan dua pejabat regional pada hari Rabu, kesepakatan ini dinilai sebagai salah satu konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Iran.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak AS mengenai usulan tersebut. Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut sudah dekat, para pejabat AS sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah setuju jika Iran mengendalikan akses ke rute perdagangan energi paling penting di dunia tersebut.
Kesepakatan yang memberikan otoritas kepada Iran atas lalu lintas di Selat Hormuz akan menandakan bahwa perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada bulan Februari telah memicu pergeseran besar dalam keseimbangan kekuatan regional yang menguntungkan Iran.
Sebelum pecahnya perang, selat ini terbuka secara bebas bagi semua kapal tanpa adanya pungutan biaya.
Di tengah upaya diplomatik yang lebih luas di kawasan tersebut, Iran dan Oman terus melangsungkan pembicaraan bilateral terkait wilayah selat yang masing-masing mereka kendalikan melalui jalur utara dan selatan.
Iran melaporkan adanya "kemajuan signifikan" dalam pembicaraan tersebut dan menyatakan bahwa perjalanan kapal masuk maupun keluar nantinya akan melewati wilayah perairan Iran.
Dilansir dari Reuters pada Kamis (6/8/2026), Iran telah memberikan peringatan keras kepada negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru AS ke wilayahnya akan memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi vital di seluruh kawasan.
Langkah ini diambil Teheran untuk meningkatkan risiko kerugian dari tindakan militer dengan mengancam sekutu-sekutu terdekat Washington.
Baca Juga: Yield SBN Naik hingga 7,14 Persen, Purbaya Salahkan Konflik Timur Tengah
- Peringatan Tegas: Peringatan Iran sangat jelas: jika Amerika menargetkan infrastruktur Iran, mereka akan membalas dengan menyerang fasilitas energi Teluk dan target regional lainnya.
- Serangan Berjalan: Iran telah membalas dengan mengerahkan rudal dan drone terhadap sekutu Washington di kawasan tersebut, sekaligus menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi selat tanpa izin.
- Korban Jiwa: Iran melaporkan lebih dari 3.400 korban tewas sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari, sementara AS mencatat 18 personel militernya tewas.
Berbicara di hadapan para pendukungnya dalam rapat umum di Las Vegas, Trump menyatakan preferensinya pada jalur diplomasi. "Saya lebih suka membuat kesepakatan karena saya tidak ingin membunuh orang. Saya tidak ingin membunuh orang, namun pada titik tertentu kita akan melakukannya," ujar Trump.
Terkait kesepakatan antara Iran dan Oman, para sumber regional dan Iran mengingatkan bahwa masih ada masalah-masalah signifikan yang belum terselesaikan. Mereka juga menepis klaim Trump yang menyebutkan bahwa kesepakatan pembukaan selat sudah di depan mata.
Beberapa rincian yang masih menjadi perdebatan meliputi:
- Definisi Pengendalian: Negosiator dari negara Teluk mendesak agar negara-negara regional ikut mengawasi inspeksi kapal dan memastikan bahwa pembayaran biaya apa pun bersifat sukarela.
- Tarif Kargo: Iran menuntut biaya sebesar 5% hingga 7% dari harga kargo kapal yang menggunakan selat. Oman membahas opsi tarif sekitar 3%, sementara Washington menolak adanya biaya sama sekali.
- Rute Navigasi: Rancangan teks saat ini merencanakan kendali Iran atas kapal yang menuju ke dalam Teluk. Titik perdebatan utama adalah sejauh mana peran Iran terhadap kapal yang bergerak ke arah luar (sebaliknya).
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyampaikan kepada kantor berita resmi IRNA bahwa pengaturan tersebut "dirancang sedemikian rupa sehingga kapal komersial akan melewati perairan teritorial Iran, baik pada rute masuk maupun keluar."
Ia menambahkan bahwa pembicaraan dengan Oman telah mencapai kesepahaman mendasar dan di ambang tahap finalisasi.
Gharibabadi juga mengklaim bahwa Iran telah menerima pesan dari Amerika Serikat yang mengindikasikan kesiapan penuh AS untuk kembali pada komitmen di bawah memorandum kesepahaman (MoU) pertengahan Juni, yang mengatur penghentian operasi militer secara langsung.
Berita Terkait
-
Negosiasi Iran Berlanjut, Harga Minyak Dunia Terkoreksi ke Bawah 80 Dolar AS per Barel
-
Pasokan Rudal Iran Meningkat Pesat, Siap-siap Jika Perundingan Damai dengan AS Gagal Lagi
-
Perang di Selat Hormuz Berpotensi Mereda dalam 48 Jam Jika AS - Iran Tak Batal Damai
-
2 Raksasa Maskapai Penerbangan Mulai Goyang karena Perang AS-Iran dan BBM Naik
-
80 Persen Rudal Jarak Jauh Amerika Serikat Terkuras di Perang Iran
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Isu Kesepakatan dengan Oman di Tengah Perang, Iran Semakin 'Kuat' di Selat Hormuz
-
Sering Melihat Kilatan Cahaya atau Bercak Hitam? Kenali Tanda Gangguan pada Retina
-
Rahasia Teknologi i-DM JETOUR T1 dan T2 yang Mampu Melaju Lebih dari 1200 Kilometer
-
Ulasan The Yellow Wallpaper, Ketika Kisah Horor Tak Selalu Tentang Hantu
-
Rupiah Perkasa di Tengah Pelemahan Dolar AS, Dibuka Menguat ke Rp17.912
-
7 Lipstik Transferproof untuk Bibir Kering, Nyaman Dipakai Tahan hingga 16 Jam
-
Wamensos Cek Progres Pembangunan Sekolah Rakyat Probolinggo, Kuansing dan Polewali Mandar
-
IHSG Masih Nyaman di Level 6.300 Pagi Ini, PTRO Bisa Dilirik
-
Kronologi Prabowo Ngaku Siap Jadi Mediator Korsel Hingga Ditolak oleh Korea Utara
-
Negosiasi Iran Berlanjut, Harga Minyak Dunia Terkoreksi ke Bawah 80 Dolar AS per Barel