News / Internasional
Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:41 WIB
Lautan Massa di Teheran Kibarkan Bendera Merah, Serukan Balas Dendam atas Kematian Ayatollah Khamenei [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Iran dan Oman merundingkan usulan kesepakatan pada hari Rabu yang memberikan Iran kendali atas kapal di Selat Hormuz.
  • Kesepakatan tersebut dapat memicu pergeseran besar keseimbangan kekuatan regional setelah perang yang dimulai oleh Amerika Serikat pada Februari.
  • Reuters melaporkan pada Kamis (6/8/2026) bahwa Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi vital jika Amerika Serikat melakukan serangan baru.

Suara.com - Sebuah usulan kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membantu mengakhiri perang lima bulan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi memberikan kendali kepada Iran atas kapal-kapal yang memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.

Berdasarkan keterangan sumber senior Iran dan dua pejabat regional pada hari Rabu, kesepakatan ini dinilai sebagai salah satu konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Iran.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak AS mengenai usulan tersebut. Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut sudah dekat, para pejabat AS sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah setuju jika Iran mengendalikan akses ke rute perdagangan energi paling penting di dunia tersebut.

Kesepakatan yang memberikan otoritas kepada Iran atas lalu lintas di Selat Hormuz akan menandakan bahwa perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada bulan Februari telah memicu pergeseran besar dalam keseimbangan kekuatan regional yang menguntungkan Iran.

Sebelum pecahnya perang, selat ini terbuka secara bebas bagi semua kapal tanpa adanya pungutan biaya.

Di tengah upaya diplomatik yang lebih luas di kawasan tersebut, Iran dan Oman terus melangsungkan pembicaraan bilateral terkait wilayah selat yang masing-masing mereka kendalikan melalui jalur utara dan selatan.

Iran melaporkan adanya "kemajuan signifikan" dalam pembicaraan tersebut dan menyatakan bahwa perjalanan kapal masuk maupun keluar nantinya akan melewati wilayah perairan Iran.

Dilansir dari Reuters pada Kamis (6/8/2026), Iran telah memberikan peringatan keras kepada negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru AS ke wilayahnya akan memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi vital di seluruh kawasan.

Langkah ini diambil Teheran untuk meningkatkan risiko kerugian dari tindakan militer dengan mengancam sekutu-sekutu terdekat Washington.

Baca Juga: Yield SBN Naik hingga 7,14 Persen, Purbaya Salahkan Konflik Timur Tengah

  • Peringatan Tegas: Peringatan Iran sangat jelas: jika Amerika menargetkan infrastruktur Iran, mereka akan membalas dengan menyerang fasilitas energi Teluk dan target regional lainnya.
  • Serangan Berjalan: Iran telah membalas dengan mengerahkan rudal dan drone terhadap sekutu Washington di kawasan tersebut, sekaligus menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi selat tanpa izin.
  • Korban Jiwa: Iran melaporkan lebih dari 3.400 korban tewas sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari, sementara AS mencatat 18 personel militernya tewas.

Berbicara di hadapan para pendukungnya dalam rapat umum di Las Vegas, Trump menyatakan preferensinya pada jalur diplomasi. "Saya lebih suka membuat kesepakatan karena saya tidak ingin membunuh orang. Saya tidak ingin membunuh orang, namun pada titik tertentu kita akan melakukannya," ujar Trump.

Terkait kesepakatan antara Iran dan Oman, para sumber regional dan Iran mengingatkan bahwa masih ada masalah-masalah signifikan yang belum terselesaikan. Mereka juga menepis klaim Trump yang menyebutkan bahwa kesepakatan pembukaan selat sudah di depan mata.

Beberapa rincian yang masih menjadi perdebatan meliputi:

  1. Definisi Pengendalian: Negosiator dari negara Teluk mendesak agar negara-negara regional ikut mengawasi inspeksi kapal dan memastikan bahwa pembayaran biaya apa pun bersifat sukarela.
  2. Tarif Kargo: Iran menuntut biaya sebesar 5% hingga 7% dari harga kargo kapal yang menggunakan selat. Oman membahas opsi tarif sekitar 3%, sementara Washington menolak adanya biaya sama sekali.
  3. Rute Navigasi: Rancangan teks saat ini merencanakan kendali Iran atas kapal yang menuju ke dalam Teluk. Titik perdebatan utama adalah sejauh mana peran Iran terhadap kapal yang bergerak ke arah luar (sebaliknya).

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyampaikan kepada kantor berita resmi IRNA bahwa pengaturan tersebut "dirancang sedemikian rupa sehingga kapal komersial akan melewati perairan teritorial Iran, baik pada rute masuk maupun keluar."

Ia menambahkan bahwa pembicaraan dengan Oman telah mencapai kesepahaman mendasar dan di ambang tahap finalisasi.

Gharibabadi juga mengklaim bahwa Iran telah menerima pesan dari Amerika Serikat yang mengindikasikan kesiapan penuh AS untuk kembali pada komitmen di bawah memorandum kesepahaman (MoU) pertengahan Juni, yang mengatur penghentian operasi militer secara langsung. 

Load More