News / Nasional
Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:52 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan. (Pexels/Atlantic Ambience)
Baca 10 detik
  • Dosen UMY Fajar Junaedi menyatakan komentar nirempati tenaga kesehatan di media sosial menunjukkan lemahnya literasi media pada Jumat (7/8/2026).
  • Beban kerja dan tekanan profesi membuat tenaga kesehatan sering melampiaskan emosi tanpa menyadari dampak unggahan terhadap persepsi publik.
  • Fajar menyarankan institusi kesehatan segera memberikan pelatihan literasi media secara sistematis agar tenaga kesehatan mampu menjaga empati di ruang digital.

Suara.com - Fenomena komentar bernada nirempati yang dilakukan sejumlah tenaga kesehatan di media sosial dinilai tidak bisa dipandang sebagai persoalan etika bermedia semata. 

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menilai kasus tersebut menunjukkan lemahnya literasi media yang membuat media sosial berubah menjadi ruang pelampiasan emosi hingga berpotensi mengikis empati.

"Saya tidak setuju jika fenomena ini hanya dibaca sebagai cerminan lemahnya literasi digital masyarakat kita secara umum," kata Fajar kepada Suara.com, Jumat (7/8/2026).

Jika membaca fenomena itu melalui perspektif literasi media yang dikembangkan James Potter, literasi media tidak hanya berarti mampu menggunakan gawai atau membuat konten. 

Namun dituntut untuk mampu kemampuan berpikir kritis untuk memahami bagaimana pesan dibentuk, dampaknya terhadap cara pandang publik, serta tanggung jawab atas setiap konten yang diproduksi.

Ia mengatakan, masih banyak pengguna media sosial, termasuk sebagian tenaga kesehatan, yang memperlakukan platform digital sebagai ruang curhat pribadi tanpa menyadari bahwa setiap unggahan ikut membentuk persepsi publik. 

"Banyak dari kita, termasuk sebagian nakes, masih memperlakukan media sosial seperti ruang curhat pribadi tanpa menyadari bahwa setiap unggahan adalah konstruksi yang membentuk persepsi publik," tandasnya.

Dalam pandangan James Potter, kondisi tersebut menggambarkan orang yang aktif memproduksi konten, tetapi belum memiliki kemampuan menganalisis dan mengevaluasi dampak emosional dari pesan yang mereka sampaikan.

Menurut Fajar, persoalan itu menjadi lebih serius karena tenaga kesehatan memiliki otoritas keilmuan dan berhadapan langsung dengan pasien yang berada dalam kondisi rentan. 

Baca Juga: Buntut Kasus Yurizal, Nakes Jakarta Dilarang Keras Cibir Pasien BPJS

Ketika tekanan kerja, kelelahan, dan frustrasi dibawa ke media sosial tanpa kemampuan mengelola emosi dan pesan secara tepat, unggahan yang muncul justru dapat dipersepsikan sebagai bentuk penghakiman terhadap pasien.

"Tanpa kemampuan memproses secara sadar seperti yang ditekankan Potter, pelampiasan itu berubah menjadi nirempati yang terlihat publik. Mereka lupa bahwa pasien dan keluarga pasien sedang dalam posisi rentan, dan setiap kalimat di media sosial bisa terasa seperti penghakiman," tandasnya.

Ia menilai fenomena tersebut bukan semata-mata disebabkan rendahnya literasi digital masyarakat. Menurutnya, ada dinamika khas profesi tenaga kesehatan, seperti ketimpangan relasi kuasa, tekanan pekerjaan, dan tingginya beban layanan, yang membuat sikap nirempati lebih mudah muncul di ruang digital dan berdampak besar terhadap kepercayaan publik.

"Yang dibutuhkan bukan hanya himbauan 'bijak bermedia', melainkan pelatihan literasi media yang serius di level institusi," tandasnya.

Ditambahkan Fajar, institusi kesehatan perlu memberikan pelatihan literasi media secara sistematis. Tujuannya agar tenaga kesehatan mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menyusun komunikasi yang tetap empatik di ruang digital. 

"Tanpa itu, media sosial akan terus memperlebar jarak antara yang melayani dan yang dilayani," ujarnya.

Load More