News / Internasional
Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:44 WIB
Penembakan massal di sekolah Thailand tewaskan tujuh orang termasuk pelaku yang merupakan murid. (Skynews)
Baca 10 detik
  • Penembakan di sekolah Thailand oleh remaja 14 tahun menewaskan lima guru dan melukai puluhan siswa.

  • Pelaku menggunakan senjata api milik kakeknya setelah sebelumnya menembak kakek dan neneknya sendiri di rumah.

  • Tragedi berdarah ini kembali memicu desakan publik untuk memperketat aturan kepemilikan senjata api di Thailand.

Suara.com - Rentetan tembakan penembakan massal terdengar mendadak di tengah berlangsungnya jam pelajaran terakhir sebelum akhir pekan di sekolah yang terletak tak jauh dari Bangkok Thailand. Pelakunya tak lain adalah siswa sekolah itu yang berondongkan 26 peluru ke arah guru dan murid.

Para siswa yang panik langsung berhamburan menyelamatkan diri menembus gerbang dan memanjat pagar sekolah untuk menghindari amukan pelaku. Salah satu seorang siswi yang selamat bercerita soal detik-detik penembakan terjadi.

"Saya sedang berdiri di depan guru ketika dia tertembak," ujar seorang siswi kelas 7 kepada BBC di dekat gerbang Sekolah Debsirin di Nonthaburi.

Aksi penembakan massal oleh remaja di sekolah Thailand menewaskan delapan orang termasuk pelaku. (CNA)

"Dia sedang berbicara dengan saya ketika [penembak] muncul."

Siswi yang masih mengenakan seragam lengkap bersama ibunya tersebut menceritakan bagaimana pelaku bergerak mengincar korban dari satu ruang kelas ke ruang kelas lainnya.

"Saya harus memanjat pagar sekolah untuk melarikan diri bersama teman-teman lainnya," lanjut gadis tersebut.

Ibunya mengungkapkan betapa mencekamnya situasi saat itu hingga sang anak merasa tidak akan selamat.

"[Dia berkata] 'Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi'."

Seorang siswa berusia 18 tahun mengaku sempat mengira suara rentetan tembakan tersebut merupakan ledakan petasan biasa.

Baca Juga: Siswa Thailand Tembak Mati 5 Guru dan 9 Orang Kritis, Setelah Itu Bunuh Diri

"Awalnya saya tidak menyangka itu adalah senjata api," katanya kepada Reuters.

"Ada banyak tembakan: bang bang bang. Lalu hening. Kemudian terdengar lagi."

Sejumlah petugas medis dan ambulans langsung dikerahkan ke lokasi untuk memberikan pertolongan darurat serta melarikan para korban luka ke rumah sakit terdekat.

Petugas penyelamat Kiatikhun Verapongpradith bergegas menuju lokasi kejadian setelah menerima laporan adanya anak-anak berusia 12 tahun yang menjadi korban luka.

"Saya melihat siswa-siswa yang tertembak, ada yang di lengan, ada yang di punggung, ada yang di dada. Jadi saya bergegas membantu membawa mereka ke rumah sakit terlebih dahulu," kata petugas penyelamat berusia 47 tahun itu kepada kantor berita Reuters.

Duka mendalam dirasakan oleh para pengajar yang kehilangan rekan sejawat mereka dalam tragedi berdarah ini.

Load More