-
Penembakan di sekolah Thailand oleh remaja 14 tahun menewaskan lima guru dan melukai puluhan siswa.
-
Pelaku menggunakan senjata api milik kakeknya setelah sebelumnya menembak kakek dan neneknya sendiri di rumah.
-
Tragedi berdarah ini kembali memicu desakan publik untuk memperketat aturan kepemilikan senjata api di Thailand.
"Dia seumuran dengan saya. Kami bersekolah di sini bersama-sama sebagai murid. Lalu kami berdua menjadi guru di sekolah ini," tutur seorang guru berusia 31 tahun yang menolak disebutkan namanya kepada BBC.
Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam dan belum merilis motif resmi di balik aksi pembantaian tersebut.
Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan tembakan pelaku sangat akurat dan mengenai organ-organ vital para korban.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menyebutkan bahwa tekanan akademis dan pola asuh keluarga diduga menjadi pemicu stres pada diri pelaku.
"Kami mendapat informasi bahwa neneknya adalah seorang guru dan mungkin bersikap keras padanya. Dari apa yang dikumpulkan polisi dari teman dekatnya, mereka tahu dia cukup stres tentang hal itu," kata Anutin Charnvirakul.
Pihak otoritas pendidikan menambahkan bahwa pelaku sebenarnya dikenal sebagai siswa berprestasi, tidak agresif, namun sangat gemar bermain gim.
Insiden ini menjadi kasus penembakan sekolah kedua di Thailand sepanjang tahun ini setelah kejadian serupa di wilayah selatan pada Februari lalu.
"Ini seharusnya tidak terjadi," ujar kekasih dari salah satu guru yang tewas kepada wartawan sambil menahan air mata.
Kepemilikan senjata api di Thailand tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di dunia dengan perkiraan lebih dari tujuh juta pucuk senjata beredar, di mana satu juta di antaranya tidak berizin.
Baca Juga: Siswa Thailand Tembak Mati 5 Guru dan 9 Orang Kritis, Setelah Itu Bunuh Diri
Pasar gelap yang marak, korupsi, serta perbatasan darat yang longgar membuat akses mendapatkan senjata ilegal maupun legal terasa sangat mudah.
"Tindakan kekerasan di lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi salah satu tempat tersafe di masyarakat kita, menjadi pengingat keras bagi masyarakat Thailand untuk secara serius dan sistematis meninjau kembali langkah-langkah pengendalian senjata api," tulis Natthaphong Ruengpanyawut, pemimpin Partai Rakyat (partai oposisi), dalam unggahan di Facebook.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
BUMN Hanya Tersisa 250 Perusahaan, Nasib Karyawan Gimana
-
25 Siswa dan Guru SDN Ciherang 01 Dramaga dilarikan ke Puskesmas
-
Dukung Penyerapan Blue Carbon dan Berdayakan Masyarakat, BTN Tanam 10.000 Mangrove di Kuta Bali
-
Bebas Ribet! 8 Tren Rambut Keriting Pria untuk Wajah Kotak yang Gampang Ditata
-
Viral Kisah Ketua RT Cuci Darah Usai 10 Tahun Minum Air Galon Isi Ulang, Ahli Soroti Bahaya BPA
-
Eks Pelatih PSM dan Persipura Bocorkan ke Singapura Taktik Tekuk Timnas Indonesia
-
Reka Dokumen Demi Bikin Gaduh, 9 Pelaku Jasa Konten Provokatif Diringkus Polda Metro
-
Impresi Singkat Suzuki Fronx SGX Varian Tertinggi di GIIAS 2026
-
Starting XI Singapura vs Timnas Indonesia: Nadeo dan Jordi Amat Cadangan
-
BPJS Kesehatan Resmikan Taman Budaya Gotong Royong di Sabang, Wujud Kolaborasi dari 0 KM Indonesia