News / Internasional
Jum'at, 07 Agustus 2026 | 18:44 WIB
Penembakan massal di sekolah Thailand tewaskan tujuh orang termasuk pelaku yang merupakan murid. (Skynews)
Baca 10 detik
  • Penembakan di sekolah Thailand oleh remaja 14 tahun menewaskan lima guru dan melukai puluhan siswa.

  • Pelaku menggunakan senjata api milik kakeknya setelah sebelumnya menembak kakek dan neneknya sendiri di rumah.

  • Tragedi berdarah ini kembali memicu desakan publik untuk memperketat aturan kepemilikan senjata api di Thailand.

"Dia seumuran dengan saya. Kami bersekolah di sini bersama-sama sebagai murid. Lalu kami berdua menjadi guru di sekolah ini," tutur seorang guru berusia 31 tahun yang menolak disebutkan namanya kepada BBC.

Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam dan belum merilis motif resmi di balik aksi pembantaian tersebut.

Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan tembakan pelaku sangat akurat dan mengenai organ-organ vital para korban.

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menyebutkan bahwa tekanan akademis dan pola asuh keluarga diduga menjadi pemicu stres pada diri pelaku.

"Kami mendapat informasi bahwa neneknya adalah seorang guru dan mungkin bersikap keras padanya. Dari apa yang dikumpulkan polisi dari teman dekatnya, mereka tahu dia cukup stres tentang hal itu," kata Anutin Charnvirakul.

Pihak otoritas pendidikan menambahkan bahwa pelaku sebenarnya dikenal sebagai siswa berprestasi, tidak agresif, namun sangat gemar bermain gim.

Insiden ini menjadi kasus penembakan sekolah kedua di Thailand sepanjang tahun ini setelah kejadian serupa di wilayah selatan pada Februari lalu.

"Ini seharusnya tidak terjadi," ujar kekasih dari salah satu guru yang tewas kepada wartawan sambil menahan air mata.

Kepemilikan senjata api di Thailand tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di dunia dengan perkiraan lebih dari tujuh juta pucuk senjata beredar, di mana satu juta di antaranya tidak berizin.

Baca Juga: Siswa Thailand Tembak Mati 5 Guru dan 9 Orang Kritis, Setelah Itu Bunuh Diri

Pasar gelap yang marak, korupsi, serta perbatasan darat yang longgar membuat akses mendapatkan senjata ilegal maupun legal terasa sangat mudah.

"Tindakan kekerasan di lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi salah satu tempat tersafe di masyarakat kita, menjadi pengingat keras bagi masyarakat Thailand untuk secara serius dan sistematis meninjau kembali langkah-langkah pengendalian senjata api," tulis Natthaphong Ruengpanyawut, pemimpin Partai Rakyat (partai oposisi), dalam unggahan di Facebook.

Load More