- Ratusan siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, mengalami dugaan keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis.
- Keluarga korban menuntut penghentian program tersebut kepada pejabat tinggi negara karena menilai pendidikan gratis lebih penting.
- Pemerintah fokus memulihkan kesehatan korban, sementara Amnesty International mendesak penghentian dan evaluasi total program tersebut.
Suara.com - Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, wilayah pesisir Tanah Merah, Kabupaten Jayapura, Papua, memicu kemarahan mendalam dari pihak keluarga korban.
Salah satu orang tua korban secara tegas meminta agar program MBG dihentikan. Video salah satu keluhan orang tua korban itu diunggah akun instagram @ula_wakerkwa.
Dalam potongan video yang beredar, salah satu orang tua siswa tersebut secara langsung menyampaikan tuntutannya kepada Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Mayjen TNI Trenggono dan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Ribka Haluk.
Di hadapan kedua pejabat tinggi tersebut, orang tua korban meluapkan kekecewaannya atas musibah yang menimpa anaknya.
"Jadi kita mohon pemerintah, MBG ditutup! Saya secara jujur saya sampaikan dari Tanah Merah, saya orang Tanah Merah. Yang saya punya anak menderita. Jadi saya rasa MBG tutup," kata salah seorang orang tua siswa seperti dilihat Suara.com, Sabtu (8/8/2026).
Ia kemudian mempertanyakan kebijakan pemerintah yang mengalokasikan anggaran untuk MBG.
Sementara menurutnya kebutuhan pendidikan gratis juga masih menjadi persoalan yang dapat diprioritaskan.
Kritik tersebut disampaikan dengan membawa konteks kekayaan alam Papua yang dinilai semestinya dapat menopang pembiayaan kebutuhan dasar masyarakat.
"Pemerintah harus bikin sekolah gratis, kenapa tidak bisa? Uang ini banyak! Negara kelola di atas Tanah Papua ini kekayaan alam banyak," tegasnya.
Baca Juga: Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG
Permintaan itu tidak sekadar ditujukan kepada pemerintah secara umum, tetapi secara khusus agar pelaksanaan MBG di Tanah Merah dihentikan.
"Jadi ini saya minta supaya MBG tutup. Khusus di Tanah Merah, tutup! Tidak ada yang mau jalankan MBG lagi di Tanah Merah," ujarnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Wamendagri Ribka Haluk tidak langsung memberikan jawaban mengenai keberlanjutan program MBG.
Ia menekankan bahwa pemerintah saat ini memprioritaskan penanganan dan pemulihan para korban yang menjalani perawatan.
"Pengobatan, penanganan, dulu, supaya semua ini bisa sehat kembali tentu, tertangani dengan baik," ucap Ribka.
Adapun desakan itu muncul usai kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan penerima MBG di wilayah pesisir Tanah Merah.
Berita Terkait
-
Target Nol Keracunan, BGN Bakal Adopsi Teknologi Deteksi Makanan Basi Milik BRIN
-
Anggaran MBG 2026 Dipangkas dari Rp268 Triliun, BGN Rombak Skema Insentif dan Andalkan Bahan Pangan
-
Membahayakan! 950 Dapur MBG Terancam Ditutup Permanen karena Tak Higienis
-
Salah Alamat, Eks Waka BGN Lodewyk Pusung Pindah Praperadilan ke PN Jakpus, Digelar 12 Agustus
-
Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung