- Populasi perkotaan Indonesia meningkat mencapai 59,4 persen pada 2025, mendorong kebutuhan besar akan pembangunan infrastruktur serta investasi nasional.
- Kawasan PIK2 di Kabupaten Tangerang berkembang sebagai kota mandiri terintegrasi yang menjadi pusat ekonomi baru bagi wilayah megapolitan Jabodetabek.
- Peserta konferensi Jabodetabek Study Forum IPB University melakukan kunjungan lapangan untuk mempelajari pengelolaan tata kota dan teknologi pengendalian banjir.
Suara.com - Indonesia terus bergerak menuju ekonomi perkotaan seiring meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di kawasan urban. Data Bank Dunia menunjukkan, proporsi penduduk perkotaan Indonesia mencapai 59,4 persen pada 2025, naik dari 53,8 persen pada 2016.
Tren ini membuat kebutuhan terhadap infrastruktur, perumahan, transportasi, air bersih, hingga pengendalian banjir semakin besar.
Urbanisasi juga memiliki dampak langsung terhadap perekonomian. Bank Dunia menilai aglomerasi perkotaan dapat meningkatkan produktivitas dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, tetapi manfaat tersebut bisa terhambat jika pembangunan kota tidak diikuti penyediaan infrastruktur dan layanan dasar yang memadai.
Kebutuhan pembangunan kawasan perkotaan juga berjalan beriringan dengan investasi. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi nasional pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Investasi tersebut menyerap 1,45 juta tenaga kerja langsung.
Dalam konteks tersebut, pengembangan kota baru menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kepentingan ekonomi, pembangunan infrastruktur, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat. Kawasan PIK2 di Kabupaten Tangerang, Banten, menjadi salah satu contoh kawasan yang tengah berkembang sebagai kawasan bisnis terintegrasi dan kota mandiri.
BPS Banten menyebut kawasan tersebut dirancang sebagai salah satu pusat ekonomi baru yang menghubungkan aktivitas bisnis, hunian, komersial, dan rekreasi.
Hal tersebut turut menjadi perhatian peserta The 8th International Conference of the Jabodetabek Study Forum 2026 dalam kunjungan lapangan ke kawasan PIK2. Forum yang dibina IPB University tersebut diikuti akademisi, peneliti, dan mahasiswa yang mempelajari perkembangan kawasan metropolitan.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim IPB University, Ernan Rustiadi mengatakan, para peserta memiliki perhatian terhadap perkembangan megaurban Jabodetabek serta kota besar di Indonesia dan berbagai negara.
Kunjungan langsung tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat pengelolaan kawasan suburban berskala besar.
Baca Juga: Temui Wamensos, Empat Bupati Siap Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen
“Kami ingin belajar bagaimana suatu perusahaan atau korporasi mampu mengelola kawasan suburban baru, kota baru yang berskala besar seperti ini. Dan ini contoh yang langka,” kata Ernan kepada wartawan, Minggu (9/8/2026).
Ia mengatakan, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai tata kelola kawasan sekaligus melihat implementasinya secara langsung.
“Kami sekarang mendengar langsung bagaimana tata kelolanya dijalankan sejauh ini. Dan kami belajar banyak dari kunjungan ini,” ujarnya.
Mahasiswa internasional program Magister Ilmu Pangan IPB University asal Kenya, Samuel Kamau, menilai penyelesaian persoalan urbanisasi membutuhkan hubungan yang kuat antara pemerintah dan pelaku usaha.
Menurut dia, pembangunan kawasan perkotaan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan hunian dan aktivitas ekonomi, tetapi juga kesiapan infrastruktur dasar untuk menghadapi berbagai persoalan lingkungan.
Samuel menyoroti penyediaan fasilitas drainase, pengelolaan air limbah, serta sistem yang mengalirkan kelebihan air dari daratan menuju laut.
Berita Terkait
-
Temui Wamensos, Empat Bupati Siap Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen
-
Kemensos Bentuk TP2SR, Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen
-
Ekonomi Hijau Jadi Strategi Nasional, Bisa Ciptakan 5 Juta Lapangan Kerja Baru pada 2029
-
CBDK Gelontorkan Rp250 Miliar untuk Buyback Saham, Laba Semester I 2026 Melonjak 225 Persen
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus
-
Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik
-
PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur
-
Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai
-
Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda
-
Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati
-
6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
-
Indonesia Dikelilingi Api: 107 Ribu Hektare Terbakar, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?
-
Membongkar Dosa Besar Para Anak Rantau Lewat Lagu Sesi Potret