News / Nasional
Senin, 10 Agustus 2026 | 10:50 WIB
Ilustrasi Manufaktur Panel Surya (dok.Unsplash/ Nuno Marques)

Suara.com - Pusat Riset Teknologi Konersi Energi (PRTKE), Organisasi Riset Eneergi dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menganalisis terkait potensi pembangunan industri manufaktur panel surya (photovoltaic) generasi baru berteknologi Silicon Heterojunction (SHJ/HJT) dan Tandem PV langsung di dalam negeri.

Dalam webinar SISTEM Vol. 4 Tahun 2026 berjudul "Unlocking the Full Potential of Solar Cell Technology: Lesson Learned from Silicon and Tandem PV" Perekayasa Ahli Utama PRTKE, Oo Abdul Rosyid mengatakan perkembangan teknologi panel surya dunia saat ini bergerak begitu cepat.

"Teknologi SHJ telah menunjukkan efisiensi lebih dari 27 persen, sedangkan teknologi tandem berbasis perovskite-silikon berpotensi mencapai efisiensi lebih dari 30 persen pada skala laboratoriu," papar Rosyid.

Kini pasar global mulai bertransformasi menuju teknologi canggih yang lebih efisien, seperti teknologi HJT dan Perovskite-Silicon Tandem.

"Selain memiliki efisiensi yang tinggi, kedua teknologi tersebut juga mampu mempertahankan kinerja dengan baik pada suhu tinggi. Karakteristik ini menjadikannya sangat sesuai untuk diterapkan di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia," tambahnya.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya punya potensi pasar panel surya yang sangat besar dan bervariatif. Mulai dari pemanfaatan di atap gedung (rooftop), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar, hingga PLTS terapung di atas danau dan waduk.

"Kapasitas perakitan modul surya dalam negeri saat ini terus tumbuh signifikan. Namun, sebagian besar komponen utama seperti sel surya dan bahan baku masukan masih bergantung pada pasokan impor," katanya.

Melalui hasil riset dan pengalaman kolaborasi di Jerman, BRIN mendorong peluang strategis bagi industri nasional untuk terus melakukan lompatan teknologi (leapfrog)

"Daripada terus bergantung pada teknologi lama yang mulai ditinggalkan pasar global, Indon'esia berpeluang langsung mengambil peran dalam rantai pasok manufaktur panel surya generasi baru," ujarnya.

Baca Juga: Gunakan Uang Hasil Sikat Korupsi, Prabowo Janji Investasi Besar di Sektor Pendidikan dan Riset

Rosyid mengungkapkan bahwa pengembangan teknologi HJT merupakan pijakan penting menuju masa depan industri panel surya Tandem.

"Dengan mendirikan keterampilan manufaktur generasi baru dari sekarang, akan memberikan banyak manfaat, seperti mampu memproduksi panel surya secara mandiri yang efisien, hemat bahan baku, dan berdaya saing global," tuturnya.

Lebih lanjut hasil riset ini diproyeksikan menjadi landasan dalam penyusunan peta jalan (roadmap) nasional. Selain itu, kajian tersebut turut menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dan pelaku industri.

Demikian langkah ini diharapkan dapat mendongkrak percepatan pembangunan ekosistem industri panel surya dalam negeri secara komprehensif.

Adanya riset berkelanjutan dan penguatan kolaborasi internasional tersebutm PRTKE BRIN berharap hasil uji kelayakan ini bisa dijadikan sebagai acuan penting bagi para pemangku kebijakan, termasuk juga para pelaku industri dalam menyusun strategi ketahanan energi nasional.

"Ke depannya, penguasaan teknolog panel surya generasi baru ini dharapakn mampu mempercepat terwujudnya kemandirian energi hijau di Indonesia serta memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat," pungkasnya, dikutip dalam laman BRIN, Selasa (4/8).

Penulis: Chairunisa

Load More