News / Nasional
Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:39 WIB
Ilustrasi produk yang menggunakan plastik (dok.Pexels/ Anna Shvets)

Upaya tersebut meliputi peningkatan pengawasan dan transparansi laporan, penerapan model sirkular, penggunaan material yang bisa didaur ulang, termasuk inovasi bahan baku yang lebih ramah lingkungan.

Linnenluecke menerangkan bahwa langkah-langkah tersebut tidak sekadar membantu menekan lebih banyak pencemaran mikroplastik, melainkan juga berpeluang meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan.

"Bisnis yang transparan secara kredibel tentang jejak mikroplastik mereka dan menyelaraskan praktik pemasaran dengan komitmen pengurangan yang sebenarnya akan lebih mampu membangun ekuitas merek yang tahan lama," katanya.

Ia juga menambahkan, jika perusahaan tidak segera beradaptasi justru lebih berisiko menghadapi tekanan yang jauh lebih besar seiring meningkatnya perhatian publik terhadap isu mikroplastik.

"Mereka yang tidak menghadapi peningkatan risiko reputasi dan litigasi seiring dengan meningkatnya kesadaran dan semakin ketatnya tuntutan transparansi informasi," tambahnya.

Linnenluecke memandang perubahan yang terjadi dalam rantai pasok dengan melibatkan penggunaan plastik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.

"Pertanyaannya bukanlah apakah rantai pasokan yang melibatkan plastik akan berub, tetapi seberapa cepat perubahan itu terjadi dan siapa yang akan memimpinnya," pungkasnya, dikutip dalam laman Phys.org, Kamis (6/8).

Penulis: Chairunisa

Baca Juga: Jumhur Hidayat Ingin Pemulung Dimuliakan, Sebutan Bakal Diubah Jadi 'Pemilah Sampah'

Load More