News / Internasional
Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:17 WIB
Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz [Rusen dengan penyesuaian oleh Suara.com]
Baca 10 detik
  • Kelompok Houthi menyerang kapal kargo Tihamah di Selat Bab el-Mandeb pada 11 Agustus 2026, menewaskan enam orang dan melukai sepuluh lainnya.
  • Militer Amerika Serikat menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan kapal kontainer Vela Nova di Teluk Oman karena melanggar blokade.
  • Rangkaian serangan militer di Timur Tengah menyebabkan penurunan drastis volume pelayaran komersial harian di Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz.

Insiden ini mencatatkan Vela Nova sebagai kapal ke-12 yang ditindak secara militer oleh pasukan Amerika Serikat sejak pengumuman blokade pada April, sekaligus kapal ketiga yang dilumpuhkan sejak pemberlakuan kembali blokade bulan lalu.

Analis senior dari kelompok advokasi United Against Nuclear Iran (UANI), Charlie Brown, mengungkapkan bahwa sebelum dicegat di kawasan 71 mil laut (131 km) di lepas pantai Pakistan, kapal Vela Nova terpantau sempat singgah di Pelabuhan Mumbai, India, serta Port Klang, Malaysia.

Kedua pelabuhan tersebut dalam beberapa waktu terakhir intensif dipantau akibat lalu lalang kapal-kapal yang terhubung dengan jaringan perdagangan Iran.

“Pencegatan dan pelumpuhan kapal Vela Nova berbendera Panama di dekat garis blokade Teluk Oman menegaskan tingkat pengawasan yang kini diterapkan secara sangat ketat terhadap seluruh jalur pelayaran yang terhubung dengan Iran,” ujar Charlie Brown.

Rangkaian serangan di Selat Bab el-Mandeb dan Teluk Oman kian memperburuk krisis jalur distribusi logistik global. Berdasarkan data penyedia analisis komoditas Kpler, volume lalu lintas kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah telah merosot lebih dari 50% dibandingkan periode sebelumnya.

Deklarasi blokade maritim yang dilancarkan oleh Houthi sejak bulan lalu semakin menekan angka perlintasan harian. Sepanjang pekan lalu, rata-rata kapal komersial yang berani melintasi Selat Bab el-Mandeb menyusut hingga tersisa 32 kapal per hari, turun signifikan jika dibandingkan dengan rerata normal sebelum era blokade yang mencapai 50 kapal per hari.

Dampak kemacetan dan guncangan keamanan terasa jauh lebih parah di Selat Hormuz. Data terbaru dari LSEG mencatat hanya ada enam kapal komersial yang berani melintasi Selat Hormuz pada hari Senin. Angka ini merosot tajam dari rata-rata 10 hari terakhir sebanyak 11 kapal, serta berbanding jauh dari volume lalu lintas normal sebelum pecahnya konflik yang biasanya mampu mencapai 130 hingga 140 kapal per hari. 

Load More