Artinya, satu fenomena iklim dapat menghasilkan dampak yang berbeda-beda, tergantung kondisi wilayah yang mengalaminya.
PBB minta negara bersiap
Melihat risiko tersebut, Guterres meminta negara-negara mengambil langkah untuk melindungi masyarakat dari dampak cuaca ekstrem.
Langkah pertama adalah memperkuat perlindungan terhadap gelombang panas. Pemerintah di tingkat kota maupun nasional didorong memiliki rencana menghadapi suhu ekstrem, termasuk sistem peringatan dini dan akses yang lebih luas terhadap teknologi pendinginan yang ramah lingkungan.
Kedua, pemerintah perlu menetapkan standar keselamatan kerja ketika suhu udara sangat tinggi.
Langkah ini terutama penting bagi pekerja yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan. Paparan panas ekstrem dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan mereka.
Ketiga, perlindungan terhadap panas ekstrem perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan.
Menurut Guterres, hal itu dapat dimulai dari desain kota, perumahan, sekolah, hingga rumah sakit. Perlindungan dari panas juga perlu dimasukkan ke dalam kebijakan dan anggaran pemerintah.
Namun, langkah-langkah adaptasi tersebut hanya dapat mengurangi dampak yang sudah terjadi.
Guterres menilai dunia tetap harus mengatasi penyebab utama perubahan iklim, yakni penggunaan bahan bakar fosil.
Baca Juga: Korban Gempa Venezuela Tembus 6.301 Jiwa, Ratusan Ribu Ton Puing Masih Dibersihkan
Menurut dia, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil jauh lebih penting daripada hanya merespons bencana setelah terjadi.
Pasalnya, gelombang panas, kekeringan, hujan ekstrem, dan berbagai kejadian cuaca lainnya tidak berdiri sendiri. Frekuensi dan intensitasnya semakin berkaitan dengan krisis iklim yang lebih luas.
"Melihat kondisi tersebut, kesimpulannya sudah jelas sendiri. Krisis iklim sudah mencapai puncaknya," kata Guterres.
Ia pun kembali menyerukan tindakan untuk mengurangi pemanasan global.
"Dunia harus berhenti memperburuk krisis," ujarnya.
Penulis: Chairunisa
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Review Di Tanah Lada: Cerita Anak dan Kekerasan dalam Keluarga
-
Skin Tint Somethinc Apa Cocok untuk Kulit Sawo Matang? Ini 12 Pilihan Shade-nya
-
El Nino Menguat di Tengah Krisis Iklim, Apa Dampaknya bagi Dunia?
-
Dari Tradisi Jadi Prestasi: Cerita di Balik Bangkitnya Desa Wisata Kemiren
-
4 Contoh Teks Amanat Pembina Upacara Hari Pramuka yang Singkat dan Menyentuh Hati
-
Prestasi Merosot, Timnas Indonesia Mulai Kehilangan Kepercayaan Suporter?
-
Rupiah Kembali Melemah, Investor Tunggu Inflasi AS dan Pengumuman MSCI
-
Hanya 12 Hari! Spider-Man Brand New Day Sukses Raup Rp29,5 Triliun
-
Bukan Sekadar Ikut Tren: Memaknai Kemerdekaan Digital Gen Z di Tengah Gempuran FOMO
-
Pemerintah Masih Pelajari Mekanisme Refund untuk Konsumen Beras Fortifikasi