- Ketua YLBHI Muhammad Isnur menyatakan perempuan di berbagai daerah menjadi garda terdepan melawan perampasan lahan industri ekstraktif dan PSN pada Rabu (12/8/2026) di Jakarta.
- Akademisi Lidwina Inge menyampaikan bahwa pembabatan hutan untuk industri sawit di Manokwari, Papua Barat, mengakibatkan perempuan kesulitan mendapatkan air bersih serta sumber pangan.
- YLBHI menilai pengabaian partisipasi serta hak perempuan dalam proyek pembangunan memicu terjadinya praktik feminisasi kemiskinan secara sengaja oleh pihak pemerintah.
Suara.com - Perempuan menjadi salah satu pihak yang paling terdampak dalam kasus perampasan lahan demi kepentingan industri ekstraktif dan Proyek Strategis Nasional (PSN). Di tengah konflik agraria, mereka juga kerap bersinggungan langsung dengan aparat saat berupaya mempertahankan kampung halaman.
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur mengatakan, dalam sejumlah kasus, perempuan justru menjadi garda terdepan ketika berhadapan dengan korporasi yang hendak mengeksploitasi lingkungan tempat mereka tinggal.
Berdasarkan pengalaman advokasinya di daerah yang dilanda konflik agraria, Isnur menyebut kaum ibu kerap bergerak paling depan untuk mengorganisir perlawanan ketika para laki-laki tidak mengambil peran.
Salah satunya adalah Umi Eha yang memimpin warga Padarincang, Banten, dalam menolak pembangunan geothermal melalui kelompok pengajian ibu-ibu.
"Di mana perempuan memimpin, di mana perempuan ada juga di depan, perjuangan akan panjang," kata Isnur dalam diskusi Konsolidasi Politik Perempuan Akar Rumput Menggugat di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menurut Isnur, kondisi tersebut terjadi karena pemerintah masih kerap mengabaikan partisipasi perempuan dalam perumusan kebijakan. Padahal, perempuan termasuk pihak yang paling terdampak oleh berbagai bentuk eksploitasi.
Kerugian yang dialami perempuan, kata dia, bukan semata-mata persoalan nominal. Rasa aman dan kenyamanan mereka juga terus terancam ketika pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan prinsip keadilan.
Isnur menilai pemerintah sebenarnya telah mengetahui dampak negatif tersebut. Karena itu, ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk pemiskinan perempuan yang disengaja atau feminisasi kemiskinan.
Lima Indikator Hak Perempuan
Baca Juga: 'Indonesia Bukan Barak Militer!' Klaim Tanggung Jawab Kamtibmas Panglima TNI Dianggap Berbahaya
Isnur kemudian menyampaikan lima faktor yang menurutnya menentukan apakah sebuah proyek telah melanggar hak-hak perempuan.
Pertama, adanya pengakuan terhadap hak-hak perempuan. Kedua, adanya pemberian kuasa atau wewenang kepada perempuan untuk menentukan pendapat.
Ketiga, adanya distribusi yang jelas dan adil dalam pembagian manfaat proyek. Keempat, adanya jaminan keselamatan bagi perempuan dan masyarakat dalam menyampaikan pendapat.
Terakhir, harus ada pemulihan hak bagi perempuan yang terdampak.
"Apakah indikator ini terpenuhi atau tidak. Kalau tidak terpenuhi, maka secara konstitusional, secara hak, para perempuan bisa menolak proyek ini," pungkas Isnur.
Senada dengan Isnur, Akademisi Kajian Gender dan Hukum Universitas Indonesia (UI) Lidwina Inge mengatakan perempuan mengalami dampak besar ketika proyek-proyek ekstraktif masuk ke wilayah mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Tebar Promo HUT RI, Jajan Cukup Bayar Rp1.945 dengan QRIS BSB Mobile
-
Cashback Jadi Andalan Luna Maya Saat Belanja, Sudah Kumpulkan Hingga Rp 1,6 Juta
-
Bank Sumsel Babel Perluas Layanan, 624 Prajurit Yonif TP 893 Kini Punya Akses Perbankan
-
Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
-
Viral Tukang Cukur di Rancabungur Dimarahi Karena Belum Pasang Bendera, Ini Kata Camat
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana