News / Nasional
Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:18 WIB
Tim forensik memeriksa jasad Sutrimo saat ekshumasi di TPU Bantaragung, Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, Rabu (12/8/2026). {Suara.com/Adi Kurniawan]
Baca 10 detik
  • Tim forensik melakukan ekshumasi makam Sutrimo di TPU Bantaragung Banyumas pada Rabu 12 Agustus 2026.
  • Pemeriksaan visual tidak menemukan tanda luka kekerasan, namun kondisi jenazah sudah memasuki tahap pembusukan lanjut.
  • Petugas mengambil puluhan sampel tubuh dan tanah untuk dianalisis di laboratorium selama dua hingga tiga pekan.

Suara.com - Tim forensik tak hanya memeriksa jasad Sutrimo saat ekshumasi di TPU Bantaragung, Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, Rabu (12/8/2026). Tanah di sekitar makam ternyata juga diamati dan sampelnya diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Proses ekshumasi berlangsung sekitar tiga setengah jam. Tim gabungan melibatkan unsur Kedokteran Kepolisian, dokter forensik PDFMI Jaya, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Laboratorium Forensik Polri, serta sejumlah akademisi dan universitas.

Selain kondisi jasad, tim mengamati kondisi makam, termasuk ukuran, jenis, dan kontur tanah. Sampel tanah di sekitar makam turut diambil untuk dianalisis.

Sementara dari jasad Sutrimo, tim mengambil puluhan sampel dari berbagai bagian tubuh, mulai dari jaringan, organ dalam hingga swab. Seluruh sampel tersebut akan menjalani pemeriksaan laboratorium.

Ketua Persatuan Dokter Forensik dan Medikolegal Indonesia (PDFMI) Brigjen Sumy Hastry Purwanti mengatakan tim terlebih dahulu memastikan identitas jenazah dengan mencocokkan ciri fisik dengan data antemortem yang diberikan keluarga.

Salah satu ciri yang menjadi penanda adalah jempol kaki kiri Sutrimo yang tidak ada. Tim juga menemukan bekas luka pada bahu kanan yang sesuai dengan informasi dari keluarga.

"Setelah proses ekshumasi, bongkar kubur, lalu kita periksa luar, kita bisa identifikasi kalau data atau ciri jenazah yang kita periksa adalah almarhum Sutrimo," jelasnya.

Tak Ada Tanda Luka Kekerasan

Setelah identitas dipastikan, pemeriksaan berlanjut pada kondisi luar dan bagian dalam tubuh.

Baca Juga: Tak Ditemukan Tanda Kekerasan, Penyebab Kematian Sutrimo Masih Misteri

Ketua Tim Dokter Forensik, Ahmad Yudianto, mengatakan secara visual tidak ditemukan tanda luka yang mengarah pada kekerasan benda tumpul maupun senjata tajam.

"Kita melakukan pemeriksaan dari secara visual kami tidak mendapatkan tanda-tanda luka yang diakibatkan oleh kekerasan benda tumpul maupun senjata tajam," ungkap Yudi dalam konferensi pers di Mapolresta Banyumas.

Namun, temuan tersebut belum bisa menjawab penyebab kematian Sutrimo.

Pasalnya, jenazah telah dimakamkan sejak 23 Juli 2026 atau hampir tiga pekan. Dalam pemeriksaan forensik, kondisi tersebut telah memasuki tahap pembusukan lanjut sehingga perubahan pada tubuh tidak lagi mudah dibaca hanya melalui pemeriksaan visual.

Karena itu, tim membawa puluhan sampel untuk diperiksa lebih lanjut melalui histopatologi, toksikologi, dan DNA.

Histopatologi digunakan untuk melihat perubahan pada jaringan tubuh secara mikroskopis.

Load More