News / Nasional
Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:47 WIB
Pemred Suara.com, Suwarjono menyampaikan pemaparan dalam agenda diskusi bertajuk Keberlanjutan Media dan Ekosistem yang digelar Local Media Summit di Hotel Mercure Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/8/2026). [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono menyatakan media lokal wajib berkolaborasi menghadapi perubahan lanskap industri di Makassar, Rabu (12/8/2026).
  • Tingginya ketergantungan APBD hingga 90 persen membahayakan keberlanjutan media lokal akibat potensi pemangkasan anggaran pemerintah daerah.
  • Media lokal harus mendiversifikasi pendapatan, merangkul platform digital, serta fokus memproduksi konten khas berbasis wilayah setempat.

Sebaliknya, media sosial terus mengalami pertumbuhan eksponensial, terutama di kalangan pembaca muda dari Gen Z yang lebih memilih mengonsumsi informasi melalui Instagram atau TikTok daripada membuka situs berita secara langsung.

Alih-alih memusuhi, Suwarjono menyarankan agar media lokal memanfaatkan platform digital sebagai instrumen strategis untuk distribusi, akuisisi audiens, hingga pembangunan komunitas (community building).

Selain itu, diversifikasi pendapatan mutlak dilakukan. Ia mendorong setiap media memiliki setidaknya tiga hingga empat sumber pemasukan dari lini bisnis yang berbeda agar operasional tetap aman ketika salah satu sumber mengalami penurunan.

Pemred Suara.com, Suwarjono menyampaikan pemaparan dalam agenda diskusi bertajuk Keberlanjutan Media dan Ekosistem yang digelar Local Media Summit di Hotel Mercure Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/8/2026). [Suara.com]

Lebih lanjut, ia mengemukakan, di tengah persaingan ketat dengan media nasional dan konten media sosial, kekuatan utama media lokal terletak pada kedekatan dengan akar rumput.

Ia mengkritisi kebiasaan media lokal yang sering kali terjebak memproduksi topik seragam, sehingga persaingan hanya berujung pada adu cepat dan jumlah publikasi.

Padahal, media lokal memiliki keunggulan komparatif berupa kedekatan dengan isu, tokoh, komunitas, dan budaya setempat yang sulit ditandingi oleh media nasional.

"Misalnya di Makassar ada 50 media, tapi 80 persen kontennya sama. Makanya tidak naik-naik, kecuali kontennya jelas berbeda dengan konten umum. Nah, media nasional sulit menang di isu lokal yang mendalam, tokoh dan budaya lokal. Jadi media lokal harus menjadi official storyteller of the region," papar Suwarjono.

Semangat Baru dari Makassar: Adopsi AI hingga Ketajaman Niche

Semangat transformasi dan pencarian model bisnis baru ini dirasakan langsung oleh para pengelola media lokal yang hadir dalam forum di Makassar tersebut.

Baca Juga: Resah, Puluhan Pimpinan Media Lokal dari 4 Provinsi Kumpul di Pekanbaru Bahas Ekosistem Media

Bagi pengelola portal Info Sulawesi, Toto Sudarmongi, pelatihan dan diskusi yang turut menghadirkan materi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memberikan perspektif segar dalam mengoptimalkan kerja redaksi.

Penggunaan perangkat fitur dalam AI dinilai mampu membantu pengolahan informasi secara lebih efisien tanpa meninggalkan prinsip jurnalisme.

"Melalui Local Media Summit, saya semakin memahami bagaimana memodifikasi dan mengembangkan berita dengan bantuan teknologi, terutama NotebookLM. Tampilannya lebih menarik, fiturnya lengkap, dan menurut saya sangat mudah diaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari di redaksi," ungkap Toto.

Ia menambahkan, penguasaan teknologi dan pemahaman mendalam terhadap karakter audiens turut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, melalui pengelolaan konten yang spesifik dan berbasis komunitas lingkungan.

Senada dengan Toto, Ibnu Munsir yang mengelola Info Kota Makassar mengaku mendapatkan sudut pandang baru mengenai pentingnya menentukan sasaran audiens secara spesifik.

Ia menyadari bahwa pertumbuhan media digital bukan sekadar memproduksi konten dalam jumlah banyak, melainkan membangun loyalitas pembaca.

"Dari diskusi ini saya belajar bahwa penting menentukan sasaran audiens. Kalau kita tahu siapa pembacanya, kita bisa membuat konten yang lebih tepat dan punya peluang lebih besar untuk berkembang secara bisnis," katanya.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More