News / Internasional
Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:11 WIB
Gempa magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia, menewaskan ratusan warga dan melumpuhkan transportasi udara nasional. (Antara)
Baca 10 detik
  • Gempa bumi magnitudo 7,4 menewaskan 265 jiwa dan merusak puluhan ribu bangunan di Kolombia.
  • Tim SAR berpacu menembus masa kritis 72 jam untuk menyelamatkan ratusan korban hilang.
  • Bantuan internasional dan tanggap darurat pemerintah terus disalurkan ke wilayah terisolasi Choco.

Sementara itu, warga lain bernama Ricardo terbang langsung dari Miami untuk mengurus jenazah saudarinya dan mendampingi keponakannya yang selamat. Sang keponakan kini menunggu operasi akibat luka parah pada tengkorak, rahang, kaki, dan paru-paru.

"Dia masih hidup. Kami tahu dia akan membaik," ujar Ricardo terkait kondisi kerabatnya tersebut.

Kondisi pengungsian darurat kini dipenuhi ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal atau takut kembali ke rumah. Taman kota, lapangan olahraga, dan gedung sekolah dialihfungsikan menjadi area tenda darurat.

Ancaman bahaya lanjutan masih mengintai seiring tingginya frekuensi gempa susulan di wilayah gempa. Badan geologi nasional mencatat sedikitnya 130 kali getaran susulan pascagempa utama pada hari Senin.

Mengapa Wilayah Pusat Gempa Sangat Sulit Dijangkau?

Pusat gempa di wilayah Choco menghadirkan tantangan evakuasi paling berat akibat keterisolasian geografis dan konflik memanjang. Terputusnya sinyal seluler memaksa tim bantuan mengandalkan jalur sungai untuk memetakan kerusakan.

"Gempa bumi ini memperparah situasi kemanusiaan yang sudah parah, dan ada kebutuhan untuk meningkatkan dukungan bagi respons kemanusiaan," kata Giovanni Rizzo, direktur Norwegian Refugee Council untuk Kolombia.

Meski demikian, keberadaan jaringan relawan perdamaian di lokasi membantu percepatan distribusi tanggap darurat awal. Logistik bantuan darurat dapat langsung disalurkan begitu bencana terjadi.

Koordinator residen PBB María Jose Torres menyatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa bahwa kelompok bantuan yang sudah bekerja di wilayah tersebut untuk upaya perdamaian sebelumnya mampu berputar cepat ke relief bencana.

Baca Juga: Korban Gempa Venezuela Tembus 6.301 Jiwa, Ratusan Ribu Ton Puing Masih Dibersihkan

Gelombang dukungan internasional mulai bergerak masuk untuk menopang operasi kemanusiaan skala besar ini. Amerika Serikat berkomitmen mengucurkan dana bantuan lebih dari 15 juta dolar AS beserta tim teknis penanggulangan.

Meksiko menerbangkan pesawat militer berisi 20 ton logistik pangan bersama personel keamanan dan spesialis pencari korban. Pemerintah El Salvador turut memobilisasi dua pesawat kargo yang mengangkut 100 ton bahan pokok.

Bencana nasional ini menjadi ujian mendadak bagi Presiden Abelardo de la Espriella yang baru dilantik tiga hari sebelum kejadian. Pemerintah langsung menetapkan status darurat ekonomi serta tiga hari masa berkabung nasional.

Penetapan darurat ekonomi mencakup rencana pembentukan dana pemulihan infrastruktur publik, rumah sakit, dan sekolah. Kendati demikian, rincian teknis mengenai skema pendanaan darurat tersebut belum dipaparkan secara mendalam.

Kondisi ini menyita perhatian para pengamat politik terkait rekam jejak kampanye presiden terpilih. Penghematan anggaran lembaga kebencanaan menjadi salah satu poin yang sebelumnya digaungkan oleh pemerintah baru.

Analisis Tiziano Breda dari kelompok pemantau konflik ACLED menyebutkan kepada Reuters bahwa de la Espriella berkampanye antara lain untuk memotong pendanaan bagi lembaga tanggap bencana negara — unit yang sama yang kini memimpin upaya darurat.

Ekspertis geologi mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi aktivitas tektonik di masa depan. Posisi geografis Kolombia yang berada di atas celah sesar aktif menjadi faktor risiko permanen.

"Mari kita ingat bahwa Kolombia penuh dengan garis sesar aktif," kata Rodrigo Leon Loya, seismolog di University of the Andes, kepada AP.

Load More