News / Nasional
Jum'at, 14 Agustus 2026 | 20:26 WIB
Ilustrasi dampak kabut asap karhutla pada kesehatan tubuh. [Suara.com/Syahda]
Baca 10 detik
  • Kabut asap karhutla mengandung partikulat halus PM2.5 dan gas berbahaya yang dapat masuk ke paru-paru hingga aliran darah.
  • Paparan polusi udara tersebut memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut di berbagai wilayah terdampak hingga Agustus 2026.
  • Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan serta menggunakan masker pelindung khusus saat kualitas udara memburuk.

Suara.com - Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar udara keruh yang membuat pandangan terbatas. Di balik warna kelabu yang menggantung di udara, terdapat campuran gas dan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke tubuh setiap kali manusia bernapas.

Lantas, apa yang akan terjadi pada tubuh ketika manusia menghirupnya, bahkan dalam waktu yang cukup lama?

Kabut Asap Mengandung Apa?

Asap karhutla merupakan campuran kompleks yang terbentuk ketika vegetasi terbakar. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyebut asap kebakaran dapat mengandung karbon monoksida, nitrogen oksida, senyawa organik seperti hidrokarbon dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), serta partikulat atau particulate matter (PM).

Partikel tersebut berasal dari material yang terbakar dan proses pembakaran yang menghasilkan jelaga, senyawa organik, serta material lain yang kemudian melayang di udara.

Komposisinya dapat berbeda tergantung jenis bahan yang terbakar, suhu api, kadar air bahan bakar, hingga kondisi angin dan cuaca.

Salah satu komponen utama yang menjadi perhatian adalah PM2.5, yakni partikel dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. EPA menjelaskan, partikel sekecil ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan sebagian partikelnya dapat mencapai aliran darah.

Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 tidak selalu terlihat oleh mata dan tidak harus muncul dalam bentuk kabut asap pekat. WHO menyebut PM2.5 dari asap kebakaran dapat memperburuk maupun memicu penyakit pada paru, jantung, otak, serta organ tubuh lainnya.

Artinya, udara yang terlihat sudah lebih bersih belum otomatis berarti aman untuk dihirup. Hilangnya kabut secara kasatmata tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator.

Pasalnya, partikel halus tetap dapat berada di udara sehingga kondisi kualitas udara perlu dilihat dari hasil pengukuran konsentrasi partikulat, terutama PM2.5.

Baca Juga: FIAD Kritik Keras Pidato Kenegaraan Prabowo, Dinilai Hanya Simbol Populisme

Apa yang Terjadi Ketika Asap Masuk ke Tubuh?

Sejumlah pelajar berangkat sekolah menggunakan perahu tradisional melewati kawasan yang diselimuti kabut asap di Sungai Ogan, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (13/8/2026). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU]

Apa kemudian yang terjadi ketika polutan tersebut masuk ke tubuh? Saat bernapas, udara yang tercemar masuk melalui hidung atau mulut lalu bergerak melewati saluran pernapasan menuju paru-paru.

Di sepanjang perjalanan itu, tubuh akan berhadapan dengan partikel asing yang dapat mengiritasi jaringan pernapasan. Pada paparan tertentu, respons tubuh berupa inflamasi atau peradangan dapat muncul dan menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, salah satu komponen paling berbahaya dalam asap kebakaran hutan adalah PM2.5. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel tersebut mampu menembus jauh ke dalam paru-paru.

"Karena kecilnya partikel ini maka dapat masuk jauh ke dalam paru ke bagian yang disebut alveolus paru," kata Tjandra kepada Suara.com, Kamis (13/8/2026).

Alveolus merupakan bagian paru-paru tempat pertukaran udara yang dihirup dengan peredaran darah. Maka, ketika PM2.5 mencapai bagian tersebut, dampaknya tidak hanya berhenti pada saluran pernapasan.

"Kalau yang dihisap ada partikel PM2.5 maka dampaknya dapat menyebar melalui peredaran darah dan mencetuskan terjadinya inflamasi arau peradangan," ujarnya.

Selain PM2.5, asap kebakaran juga membawa berbagai gas dan senyawa lain yang dapat membentuk campuran berbahaya bagi tubuh. Beberapa di antaranya adalah nitrogen dioksida (NO2), ozon, hidrokarbon aromatik, karbon monoksida (CO), serta bahan organik hasil pembakaran.

Dalam asap kebakaran hutan terdapat pula bahan seperti metoksi fenol, levoglukosan, dan berbagai bahan inorganik. Disebutkan WHO bahwa berbagai bahan itu akan membentuk campuran toksik (toxic mix).

Apa Dampak Jangka Pendeknya?

Paparan kabut asap dapat menimbulkan keluhan kesehatan dalam waktu relatif singkat, bahkan pada orang yang sebelumnya tidak memiliki penyakit. Gejala awal yang muncul antara lain mata perih atau berair, hidung dan tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, hingga sakit kepala dan mudah lelah.

Pada saluran pernapasan, paparan asap juga dapat membuat seseorang mengalami sesak atau napas berbunyi. Kondisi ini terjadi disebabkan partikel dan gas pencemar mengiritasi jaringan pernapasan sehingga tubuh memberikan respons terhadap polutan yang masuk.

"Dampak yang terjadi bisa bersifat akut dan kronik, mulai dari keluhan batuk, sesak, iritasi tenggorok dan mata," tutur Tjandra.

Bagaimana Jika Paparan Berlangsung Lama?

Infografis dampak kabut asap karhutla pada tubuh. [Suara.com/Syahda]

Jika paparan asap hanya berlangsung singkat, dampaknya dapat berupa iritasi mata, tenggorokan, batuk, atau sesak yang bersifat sementara. Namun, paparan berulang atau berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

"Dampak yang terjadi bisa bersifat akut dan kronik, mulai dari keluhan batuk, sesak, iritasi tenggorok dan mata," ungkap Tjandra.

Paparan tersebut dapat pula memperburuk kondisi kesehatan seseorang yang sebelumnya telah memiliki penyakit tertentu. Gangguan yang lebih berat dapat terjadi pada penderita asma, penyakit paru, atau penyakit kronis lainnya ketika terus terpapar asap.

Namun, paparan asap tidak berarti setiap orang yang menghirupnya pasti akan mengalami penyakit tertentu. Sebab, dampaknya dipengaruhi kadar polutan, lama paparan, kondisi tubuh, dan penyakit yang sudah dimiliki.

"Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa gabungan antara situasi panas dan asap kebakaran hutan dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardio respirasi serta perawatan di rumah sakit," ujarnya.

Siapa Paling Rentan?

Risiko kesehatan akibat asap kebakaran tidak sama bagi setiap orang. Bayi dan anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit asma, paru, dan jantung termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih.

Kelompok tersebut lebih rentan karena sistem pernapasan atau kondisi kesehatannya dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap polutan.

"Tentu saja yang lebih berpotensi terkena dampak kesehatan adalah kelompok rentan, seperti lanjut usia, anak-anak, wanita hamil dan mereka yang memang sudah ada penyakit kronik sebelumnya," ujar Tjandra.

Kelompok lain yang berisiko adalah orang yang bekerja atau banyak beraktivitas di luar ruangan. Durasi berada di udara tercemar membuat kelompok ini berpotensi menerima paparan lebih besar dibanding orang yang lebih banyak berada di dalam ruangan.

Bagaimana Melindungi Diri dari Kabut Asap?

Setelah mengetahui berbagai risiko yang dapat muncul, langkah berikutnya adalah mengurangi paparan asap sebanyak mungkin. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi.

Terutama olahraga berat yang membuat frekuensi dan volume tarikan napas meningkat. Namun, perlindungan tak kalah penting bagi warga yang harus tetap beraktivitas di luar rumah.

Prof Tjandra mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan ketika berada di wilayah yang terdampak asap kebakaran.

Pemilihan masker pun harus tepat. Masker kain dan masker bedah pada dasarnya tidak dirancang sebagai perlindungan optimal terhadap partikel PM2.5 yang sangat kecil.

"Gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator, kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan," kata Tjandra, sesuai dengan anjuran WHO.

Selain perlindungan di luar rumah, kondisi udara di dalam rumah tetap perlu diperhatikan ketika udara luar tercemar. Masyarakat dapat membatasi masuknya udara luar yang tercemar dan memastikan ventilasi atau penyaringan udara dilakukan secara tepat sesuai kondisi lingkungan.

Pemantauan kualitas udara juga tidak boleh hanya berdasarkan apakah kabut masih terlihat atau tidak. Data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan konsentrasi partikulat dapat menjadi acuan untuk menentukan apakah aktivitas luar ruangan masih aman dilakukan.

Menilik laman Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, terdapat beberapa daerah yang menunjukkan ISPU dengan kategori tidak sehat atau di angka 101-200.

Misalnya saja di Kabupaten Ogan Ilir yang menunjukkan ISPU di angka 136, lalu Kabupaten Muaro Jambi dengan angka 134, dan Kabupaten Pelalawan di angka 131.

Adapun pemerintah mencatat ada 107 ribu hektare lahan yang terdampak karhutla hingga Agustus 2026.

Sejumlah daerah yang terdampak mulai dari Sumatera hingga Kalimantan, serta beberapa kawasan lain seperti Gunung Bromo, Jawa Timur, Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, dan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.

Pemerintah telah menetapkan enam provinsi sebagai wilayah paling rawan, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Kasus ISPA Naik Akibat Kabut Asap Karhutla?

Kabut asap kebakaran hutan. (Antara)

Paparan asap karhutla yang berulang mulai diikuti laporan gangguan kesehatan di sejumlah daerah. Data dari beberapa wilayah menunjukkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah yang perlu diwaspadai ketika kualitas udara memburuk.

Di Kayong Utara, Kalimantan Barat, Dinas Kesehatan mencatat 934 kasus ISPA sepanjang 31 Mei hingga 1 Agustus 2026. Angka tersebut tercatat ketika kondisi udara daerah itu terdampak karhutla.

Kondisi serupa menjadi perhatian di Sumatera Selatan (Sumsel), meski data semester pertama 2026 justru menunjukkan tren penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Dinkes Sumsel memperingatkan risiko kenaikan kasus saat puncak kemarau pada Agustus-September, terutama jika karhutla meluas dan kualitas udara memburuk.

Pada Januari 2026, Sumsel mencatat 50.651 kasus ISPA dan turun menjadi 33.582 kasus pada Juni. Namun, secara kumulatif sejumlah daerah tetap mencatat angka tinggi, dengan Palembang mencapai 85.032 kasus, Muara Enim 30.668 kasus, dan Musi Banyuasin 17.946 kasus.

Di Kalimantan Tengah, peningkatan kasus dilaporkan terjadi ketika asap karhutla meluas dan kualitas udara memburuk. Sebanyak 2.052 kasus ISPA tercatat di 14 kabupaten/kota hanya dalam periode 7-11 Agustus 2026.

Pada 11 Agustus saja, tercatat 600 kasus baru dan sembilan pasien harus menjalani rawat inap. Kasus tertinggi pada hari tersebut dilaporkan berada di Palangka Raya dengan 115 kasus dan Kotawaringin Barat dengan 111 kasus.

Data ISPA tersebut menunjukkan adanya tekanan kesehatan yang muncul bersamaan dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak karhutla.

Namun, angka ISPA tidak otomatis seluruhnya dapat disebabkan oleh asap. Pasalnya, penyakit tersebut juga dipengaruhi berbagai faktor lain.

"Kenakan masker bila harus bepergian keluar rumah, minum air putih yang cukup, dan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan jika sudah terjadi gangguan pada saluran pernapasan seperti batuk, nyeri menelan ataupun sesak napas," kata Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kayong Utara, Maria Fransisca di Sukadana.

Kapan Harus Mulai Waspada?

Setelah paparan asap menimbulkan gejala ringan, masyarakat perlu mengetahui kapan kondisi tersebut sudah membutuhkan pertolongan medis. Keluhan seperti batuk atau iritasi tenggorokan perlu lebih diperhatikan jika semakin berat.

Batas kewaspadaan menjadi lebih tinggi ketika seseorang mulai mengalami sesak atau sulit bernapas. Nyeri dada tidak boleh diabaikan karena dapat menjadi tanda gangguan yang membutuhkan pemeriksaan segera.

"Warga yang mengalami gangguan pernapasan atau nyeri dada maka harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan," ujar Prof Tjandra.

Masyarakat juga perlu lebih waspada apabila kondisi anak, lansia, atau orang dengan penyakit kronis mulai memburuk selama periode kabut asap. Kelompok tersebut memiliki risiko lebih besar mengalami dampak kesehatan ketika terpapar polusi udara dan membutuhkan pemantauan lebih ketat.

Batuk yang semakin parah, napas berbunyi, sesak yang menetap, atau kesulitan bernapas menjadi tanda bahwa paparan tidak lagi sekadar menimbulkan ketidaknyamanan.

Jika keluhan tersebut muncul bersamaan dengan nyeri dada atau penurunan kondisi tubuh, pemeriksaan di fasilitas kesehatan tidak sebaiknya ditunda.

Apakah Hujan Otomatis Membuat Udara Kembali Aman?

Dalam penjelasan EPA, hujan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel di udara. Hal itu disebabkan sebagian partikel asap dapat terbawa turun bersama air hujan.

Partikel asap dapat mengendap ke permukaan atau dikeluarkan dari atmosfer melalui proses hujan.

Namun, turunnya hujan tidak otomatis berarti kualitas udara langsung kembali aman. Efeknya bergantung pada intensitas hujan, kondisi atmosfer, serta seberapa besar sumber asap yang masih aktif di wilayah sekitar.

Kabut asap juga dapat kembali muncul setelah hujan jika kebakaran masih berlangsung. Ketika api kembali menghasilkan emisi, asap baru dapat terbawa angin dan memengaruhi wilayah yang sebelumnya sempat mengalami perbaikan kualitas udara.

Arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan ke mana asap bergerak. EPA menyebut asap kebakaran dapat berdampak jauh dari lokasi api.

Jangan Hanya Melihat Asapnya

Bahaya kabut asap tidak ditentukan oleh seberapa tebal asap yang terlihat. Partikel berukuran sangat kecil seperti PM2.5 dapat tetap berada di udara, tidak kasatmata, lalu masuk ke tubuh setiap kali manusia bernapas.

Maka dari itu, hilangnya kabut bukan berarti udara otomatis aman. Selama sumber kebakaran masih menghasilkan emisi, masyarakat perlu melihat data kualitas udara dan tetap membatasi paparan, bukan menunggu asap kembali terlihat pekat.

Load More