News / Nasional
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:46 WIB
Dua warga meninggal dunia di Sikka akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo NTT. (Antara)
Baca 10 detik
  • Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Nagekeo menewaskan dua orang warga di Sikka.

  • Peringatan dini tsunami untuk wilayah NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan telah resmi dicabut BMKG.

  • Gempa susulan bermagnitudo 6,2 sempat mengguncang wilayah tersebut sebanyak dua kali pascagempa utama.

Suara.com - Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Nagekeo merenggut dua nyawa warga di kawasan Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka. Peristiwa tragis pada Sabtu pagi ini menegaskan betapa rentannya kawasan pesisir Nusa Tenggara Timur terhadap ancaman gempa dangkal berdaya rusak tinggi.

Gelombang guncangan yang berpusat di laut tersebut menjangkau wilayah antarprovinsi hingga memicu kepanikan masif di pemukiman warga. Kepastian jatuhnya korban jiwa mengemuka tepat saat warga pesisir tengah berupaya menyelamatkan diri dari ancaman tsunami.

Petugas penanggulangan bencana mengonfirmasi bahwa korban tewas terdiri dari satu pria dan satu wanita, sementara satu warga lainnya melayang dalam kondisi luka berat. Tim medis darurat bersama unsur SAR gabungan langsung menerjunkan penanganan cepat di lokasi kejadian.

Sejumlah bangunan di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kerusakan akibat terdampak gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). ANTARA/BPBD Kota Bima.

"Berdasarkan laporan pendahuluan, peristiwa gempa bumi berdampak di wilayah Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan, serta satu orang mengalami luka-luka," kata dia.

Pusat gempa tektonik ini berada di kedalaman dangkal 15 kilometer dan berjarak 38 kilometer arah timur laut Kota Mbay. Guncangan hebat berlangsung sekitar 60 detik di Nagekeo, Sikka, hingga Manggarai Barat.

Dampak rambatan getaran bahkan melompati laut hingga menjangkau Bima di Nusa Tenggara Barat serta wilayah Sulawesi Selatan seperti Kepulauan Selayar, Jeneponto, dan Maros. Kepanikan sempat meluas lantaran peringatan dini tsunami langsung aktif tak lama setelah gempa utama terjadi.

Bagaimana Respons Tim Gabungan di Pesisir Pantai?

Aparat gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI, dan Polri langsung bergerak cepat mengarahkan warga pesisir ke titik evakuasi yang lebih tinggi. Upaya penanganan darurat difokuskan untuk mengamankan keselamatan jiwa di tengah ketidakpastian potensi tsunami.

Di tengah proses evakuasi yang menegangkan, rentetan gempa susulan berkekuatan besar terus membanting wilayah tersebut. BMKG mencatat dua gempa susulan signifikan bermagnitudo 6,2 yang terjadi secara beruntun pada pukul 05.13 WIB dan 05.28 WIB.

Baca Juga: Korban Gempa Venezuela Tembus 6.301 Jiwa, Ratusan Ribu Ton Puing Masih Dibersihkan

Kepanikan warga pesisir akhirnya mereda setelah ancaman gelombang laut tinggi resmi diakhiri oleh otoritas cuaca. Peringatan dini tsunami yang sempat menaungi NTT, NTB, hingga Sulawesi Selatan dicabut secara resmi pada pukul 07.30 WIB.

Meskipun status ancaman tsunami telah berakhir, warga diimbau untuk tidak bergegas kembali ke rumah yang mengalami keretakan struktur. Otoritas penanggulangan bencana mengingatkan masyarakat agar mematuhi barikade pengamanan dan petunjuk dari petugas lapangan.

Secara historis, kawasan perairan utara Flores dan Laut Flores merupakan zona tektonik aktif yang menyimpan potensi gempa bumi dangkal pemicu gelombang tsunami. Kedalaman gempa 15 kilometer di lepas pantai Mbay ini menjadi bukti rentannya jalur patahan aktif di wilayah NTT.

Integrasi sistem peringatan dini dan evakuasi mandiri menjadi fokus utama penanganan bencana di daerah pesisir yang minim waktu tanggap. Peristiwa Sabtu pagi ini kembali menjadi pertanda pentingnya kesiapsiagaan darurat masyarakat pesisir di garis patahan tektonik.

Load More