- Bowo dan Nila di Bekasi serta Tangerang enggan merayakan HUT RI karena kecewa terhadap pemerintah dan kondisi ekonomi.
- Sosiolog Okky Madasari menyatakan keengganan warga merayakan kemerdekaan adalah bentuk ekspresi kekecewaan atas kesulitan hidup yang mereka alami.
- Aksi boikot perayaan kemerdekaan dan kritik masyarakat dinilai Okky Madasari sebagai wujud kesadaran nasionalisme yang sah.
Suara.com - Semarak perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini tak lagi terasa sama bagi sebagian warga. Di tengah tradisi memasang bendera Merah Putih, menghias lingkungan, dan mengikuti berbagai perlombaan, ada warga yang memilih tak ikut merayakan karena merasa kondisi Indonesia belum sepenuhnya baik-baik saja.
Bagi mereka, sulit merasakan euforia kemerdekaan ketika persoalan ekonomi, lapangan pekerjaan, mahalnya kebutuhan hidup, hingga kekecewaan terhadap pemerintah masih menghantui kehidupan sehari-hari.
Warga Bekasi seperti Bowo (29), misalnya, mengaku sengaja tidak memasang bendera di rumahnya tahun ini. Keputusan itu diambil meski hampir seluruh tetangganya tetap memasang Merah Putih.
"Jujur rumah saya enggak pasang bendera, padahal tetangga semua pasang bendera. Karena jujur Agustusan tahun ini enggak semangat banget apalagi melihat tingkah-tingkah pemerintah sekarang," kata Bowo.
Ia mengaku kecewa melihat kinerja pemerintah yang dinilainya lebih mementingkan kepentingan sejumlah pihak dibandingkan masyarakat luas.
"Sebagai WNI merasa kecewa melihat kinerja pemerintah sekarang hanya mementingkan sejumlah pihak tapi tidak mementingkan masyarakat Indonesia," ujarnya.
Nila (35), warga Tangerang, juga mengaku tidak terlalu berminat mengikuti perayaan 17 Agustus tahun ini. Baginya, sulit merayakan kemerdekaan ketika masih banyak persoalan yang membuat masyarakat merasa belum merdeka dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kebebasan menyampaikan kritik, beban pajak, kondisi lapangan kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga kenaikan harga kebutuhan.
Menurut Nila, masyarakat juga menghadapi ketidakpastian dalam mencari pekerjaan. Mereka yang terkena PHK, khususnya pada usia 35 tahun ke atas, dinilainya semakin sulit mendapatkan pekerjaan baru.
Baca Juga: Momen Haru Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu 'Bagimu Negeri' Menggema di Istana Merdeka
"Lapangan kerja nyatanya sulit, banyak PHK. Orang yang tidak kompeten bisa dapat jabatan mentereng, asal mendukung. Lapangan kerja terbatas usia. Masyarakat yang di-PHK di usia 35 ke atas sulit cari kerja kalau kena PHK," tuturnya.
Sosiolog: Tak Bisa Dipaksa Merayakan Kemerdekaan Jika Tak Merasakannya
Fenomena warga yang mulai enggan mengikuti perayaan 17 Agustus tersebut dinilai bukan sekadar bentuk apatisme terhadap negara.
Sosiolog Okky Madasari melihat sikap tersebut sebagai ekspresi kekecewaan dan keresahan masyarakat ketika persoalan yang mereka hadapi sudah menyentuh kebutuhan paling mendasar.
"Karena mungkin persoalan yang dihadapi sudah sedemikian mendasar, semua orang bisa merasakan. Lalu di tengah segala kesulitan ini, kita diajak untuk merayakan kemerdekaan. Itu kan sesuatu yang ironis," kata Okky.
Menurut dia, masyarakat sebenarnya tidak perlu dipaksa untuk memahami makna kemerdekaan. Sebab, pengalaman sehari-hari sudah membuat mereka merasakan apakah kemerdekaan itu benar-benar hadir atau tidak.
"Perayaan kemerdekaan itu hanya bisa dilakukan ketika kita bisa merasakan kemerdekaan itu," ujarnya.
Tag
Berita Terkait
-
Momen Haru Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu 'Bagimu Negeri' Menggema di Istana Merdeka
-
Sudah Seperti Bestie, Istana Ungkap Rahasia di Balik Posisi Duduk Jokowi-Prabowo-Gibran
-
Hasto Ungkap Alasan Megawati Pilih Upacara di Sekolah Partai Ketimbang Istana
-
SBY Minta Maaf Absen Upacara HUT ke-81 RI di Istana, Ungkap Alasan Jalani Check-Up di Mayo Clinic AS
-
SBY Minta Maaf Tak Ikut Upacara HUT Kemerdekaan di Istana: Saya Pulang September
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Prabowo Bakal Habiskan Rp4000 Triliun di 2027, Ini Perusahaan yang Bakal Cuan Besar
-
Tak Pasang Bendera hingga Ogah Ikut Lomba, Alasan Warga di Balik Sepinya Euforia Kemerdekaan
-
Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Palabuhanratu, Cara Unik Penyelam Rayakan Kemerdekaan
-
PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
-
Inspirasi French Chic, Gaya Paris yang Elegan dan Modern
-
LRT Sumsel Cuma Rp1.000 saat HUT RI, Cek Jadwal Tambahan Perjalanannya
-
7 Warna Cat Kamar Mandi Terbaik Menurut Feng Shui, Dipercaya Bawa Energi Positif
-
Review Serial Silo Season 1: Adaptasi Novel Wool yang Penuh Teka-Teki Seru!
-
Karhutla Bromo Belum Usai Dihitung, TNBTS Mulai Kaji Total Kerugian
-
Momen Haru Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu 'Bagimu Negeri' Menggema di Istana Merdeka