News / Nasional
Senin, 17 Agustus 2026 | 18:41 WIB
Ilustrasi Warga Tak Pasang Bendera hingga Ogah Ikut Lomba di Sepinya Euforia Kemerdekaan HUT RI ke-81. [AI]
Baca 10 detik
  • Bowo dan Nila di Bekasi serta Tangerang enggan merayakan HUT RI karena kecewa terhadap pemerintah dan kondisi ekonomi.
  • Sosiolog Okky Madasari menyatakan keengganan warga merayakan kemerdekaan adalah bentuk ekspresi kekecewaan atas kesulitan hidup yang mereka alami.
  • Aksi boikot perayaan kemerdekaan dan kritik masyarakat dinilai Okky Madasari sebagai wujud kesadaran nasionalisme yang sah.

Suara.com - Semarak perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini tak lagi terasa sama bagi sebagian warga. Di tengah tradisi memasang bendera Merah Putih, menghias lingkungan, dan mengikuti berbagai perlombaan, ada warga yang memilih tak ikut merayakan karena merasa kondisi Indonesia belum sepenuhnya baik-baik saja.

Bagi mereka, sulit merasakan euforia kemerdekaan ketika persoalan ekonomi, lapangan pekerjaan, mahalnya kebutuhan hidup, hingga kekecewaan terhadap pemerintah masih menghantui kehidupan sehari-hari.

Warga Bekasi seperti Bowo (29), misalnya, mengaku sengaja tidak memasang bendera di rumahnya tahun ini. Keputusan itu diambil meski hampir seluruh tetangganya tetap memasang Merah Putih.

"Jujur rumah saya enggak pasang bendera, padahal tetangga semua pasang bendera. Karena jujur Agustusan tahun ini enggak semangat banget apalagi melihat tingkah-tingkah pemerintah sekarang," kata Bowo.

Ia mengaku kecewa melihat kinerja pemerintah yang dinilainya lebih mementingkan kepentingan sejumlah pihak dibandingkan masyarakat luas.

"Sebagai WNI merasa kecewa melihat kinerja pemerintah sekarang hanya mementingkan sejumlah pihak tapi tidak mementingkan masyarakat Indonesia," ujarnya.

Nila (35), warga Tangerang, juga mengaku tidak terlalu berminat mengikuti perayaan 17 Agustus tahun ini. Baginya, sulit merayakan kemerdekaan ketika masih banyak persoalan yang membuat masyarakat merasa belum merdeka dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kebebasan menyampaikan kritik, beban pajak, kondisi lapangan kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga kenaikan harga kebutuhan.

Menurut Nila, masyarakat juga menghadapi ketidakpastian dalam mencari pekerjaan. Mereka yang terkena PHK, khususnya pada usia 35 tahun ke atas, dinilainya semakin sulit mendapatkan pekerjaan baru.

Baca Juga: Momen Haru Presiden Prabowo Berkaca-kaca Saat Lagu 'Bagimu Negeri' Menggema di Istana Merdeka

"Lapangan kerja nyatanya sulit, banyak PHK. Orang yang tidak kompeten bisa dapat jabatan mentereng, asal mendukung. Lapangan kerja terbatas usia. Masyarakat yang di-PHK di usia 35 ke atas sulit cari kerja kalau kena PHK," tuturnya.

Sosiolog: Tak Bisa Dipaksa Merayakan Kemerdekaan Jika Tak Merasakannya

Pengamat sosial politik Okky Madasari dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV. (bidik layar kanal YouTube Forum Keadilan TV)

Fenomena warga yang mulai enggan mengikuti perayaan 17 Agustus tersebut dinilai bukan sekadar bentuk apatisme terhadap negara.

Sosiolog Okky Madasari melihat sikap tersebut sebagai ekspresi kekecewaan dan keresahan masyarakat ketika persoalan yang mereka hadapi sudah menyentuh kebutuhan paling mendasar.

"Karena mungkin persoalan yang dihadapi sudah sedemikian mendasar, semua orang bisa merasakan. Lalu di tengah segala kesulitan ini, kita diajak untuk merayakan kemerdekaan. Itu kan sesuatu yang ironis," kata Okky.

Menurut dia, masyarakat sebenarnya tidak perlu dipaksa untuk memahami makna kemerdekaan. Sebab, pengalaman sehari-hari sudah membuat mereka merasakan apakah kemerdekaan itu benar-benar hadir atau tidak.

"Perayaan kemerdekaan itu hanya bisa dilakukan ketika kita bisa merasakan kemerdekaan itu," ujarnya.

Load More