News / Internasional
Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:22 WIB
ilustrasi pistol, tembak, penembakan, senjata api yang menewaskan bule Australia di Bali. [Envato Elements]
Baca 10 detik
  • Siswa sekolah Katolik di Zamboanga tewas ditembak teman sekelasnya menggunakan pistol .45.

  • Pelaku bunuh diri di lokasi kejadian setelah sempat mengarahkan tembakan ke arah guru.

  • Senat Filipina kini menyelidiki dampak gim violent dan media sosial terhadap kekerasan remaja.

Suara.com - Aksi penembakan mematikan kembali mengguncang lingkungan sekolah Katolik di Zamboanga City, Filipina Selatan, usai seorang siswa membawa masuk pistol caliber 45 ke dalam ruang kelas, Selasa (18/8/2026). Peristiwa tragis ini berakhir setelah pelaku merenggut nyawa rekannya dan memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian.

Wali Kota Zamboanga City, Khymer Adan Olaso, mengonfirmasi insiden ini dalam wawancaranya bersama radio lokal setempat. Pelaku awalnya mengarahkan tembakan ke arah guru yang sedang duduk di meja, namun tembakan tersebut meleset.

Gagal mengenai sasaran pertama, pelaku bergeser ke ruang kelas lain lalu melepaskan tembakan ke arah seorang siswa hingga korban tewas. Rekaman video yang beredar di media lokal menampilkan sudut pandang orang pertama yang memperlihatkan moncong senjata bergerak di sepanjang koridor sekolah.

Pihak berwenang memastikan bahwa situasi di lokasi kejadian saat ini sudah sepenuhnya terkendali. Polisi juga menegaskan tidak ada penembak aktif lain yang berkeliaran di area sekolah tersebut.

"Pelaku sempat menembak guru yang sedang duduk di meja, namun tembakan itu meleset. Setelah itu, pelaku berpindah ke ruang kelas lain dan menembak seorang siswa yang kemudian meninggal dunia," ujar Mayor Khymer Adan Olaso dikutip dari BBC, Selasa (18/8/2026).

Bagaimana Rekam Iziz Kekerasan Senjata Api di Sekolah Filipina?

Tragedi berdarah ini terjadi hanya berselang dua bulan dari insiden penembakan serupa di Tacloban City, wilayah Filipina Tengah. Peristiwa dua bulan lalu tersebut menewaskan tiga orang siswa serta melukai 20 korban lainnya di area sekolah.

Kepolisian mengidentifikasi dua remaja laki-laki sebagai pelaku utama penembakan massal di Tacloban City tersebut. Hasil penyelidikan mengungkap bahwa salah satu pelaku diketahui sering memainkan gim daring yang menampilkan konten kekerasan ekstrem.

Pemerintah Filipina kini telah resmi melarang peredaran gim sandbox bernama Gorebox di seluruh wilayah negara tersebut. Senat Filipina juga tengah menggelar penyelidikan khusus untuk mengkaji dampak buruk gim komputer bermuatan kekerasan terhadap mental anak muda.

Baca Juga: Aksi Penembakan Pecah di Festival Budaya Lembah Baliem Papua, 2 Orang Jadi Korban

Berbagai otoritas di Asia Tenggara saat ini mulai mempertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur. Langkah tegas ini diambil akibat meningkatnya kekhawatiran atas dampak buruk paparan konten digital terhadap perilaku remaja.

Kasus serupa belum lama ini juga terjadi di Thailand ketika seorang remaja menewaskan delapan orang dan dirinya sendiri di sekolah. Pihak berwenang Thailand mengonfirmasi bahwa pelaku mengonsumsi konten bernuansa kekerasan secara intensif di media sosial sebelum beraksi.

Load More