-
Ribuan warga London menggelar aksi duka atas meninggalnya Profesor Cambridge Jason Arday.
-
Publik dan tokoh mengkritik keras kecenderungan rasisme pemberitaan media yang menekan mental korban.
-
Petisi berisi tuntutan penyelidikan etika media kini telah mengumpulkan puluhan ribu dukungan.
Data dari lembaga analisis media NewsCord mencatat ada 249 artikel yang menguliti Arday dalam kurun waktu 22 hari sebelum kematiannya. Sebanyak 188 artikel di antaranya tayang bertubi-tubi hanya dalam jangka sembilan hari pascamundurnya Arday.
Suasana di lokasi peringatan dipenuhi rasa ketidakpercayaan dan kekecewaan mendalam terhadap profesi jurnalistik. Para penyelenggara bahkan meminta massa untuk menolak wawancara dengan wartawan yang hadir di lokasi.
Patricia Cohen, seorang peserta aksi yang membawa bunga mawar kuning, mengaku sengaja berhenti membaca berita kasus ini sejak lama.
"Saya tahu berita-berita itu hanya menghujat dan tidak adil," katanya.
"Jika dia memang melakukan kesalahan, itu tidak membenarkan pelecehan, siksaan yang dia dapatkan."
Patricia mempertanyakan pertanggungjawaban hukum bagi insan pers yang terlibat dalam perundungan tersebut.
"Apakah kita akan mulai menghukum para jurnalis? Apakah mereka akan dipantau dengan lebih baik? Karena cara mereka mengejar orang, terutama orang kulit berwarna – sangat sulit untuk digambarkan."
Siapa Saja Tokoh yang Hadir Memberikan Penghormatan?
Liz Combe, peserta aksi lainnya, merasa terikat secara emosional dengan nasib tragis yang dialami Arday.
Baca Juga: Kylian Mbappe Kecam Komentar Rasis Senator Paraguay, Responsnya Jadi Sorotan
"Saya di sini karena Jason bisa saja menjadi anak saya," katanya.
"Dia berada di puncak masa mudanya, melakukan sesuatu untuk komunitas Kulit Hitam, hadir untuk kami dalam kehebatannya, lalu dijatuhkan begitu saja, hanya karena rasisme."
Sederet tokoh berpengaruh kulit hitam di Inggris turut hadir menyuarakan duka cita, termasuk politisi senior Diane Abbott dan Dawn Butler. Tampak pula sutradara Misan Harriman serta penyanyi ternama Beverley Knight di tengah kerumunan.
Diane Abbott mengungkapkan bahwa dirinya sempat bertemu dengan Arday sepekan sebelum insiden naas tersebut terjadi.
"Dia selalu menjadi pria yang menyenangkan, baik hati, dan brilian", katanya.
"Tetapi kampanye jahat terhadapnya mulai memengaruhinya".
Abbott menegaskan keyakinannya terkait pemicu utama di balik kepergian sang profesor.
"Kampanye media yang jahat telah mendorongnya menuju kematiannya."
Dawn Butler mengutarakan permohonan maaf terbuka karena merasa gagal melindungi sosok ilmuwan berbakat tersebut.
"Kami mengecewakannya, dan saya minta maaf kepada keluarganya; kami tidak bisa melindunginya," katanya.
"Ini bukan pertarungan Kulit Hitam melawan Kulit Putih; ini adalah pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, antara rasis dan antirasis."
Beverley Knight menyaksikan langsung bagaimana narasi media perlahan meruntuhkan kehidupan Arday.
"Kami melihatnya terungkap di depan mata kami – kehancuran seorang pria brilian, demi olahraga, dipicu oleh rasa cemburu dan dibakar oleh kebencian," katanya sambil menatap kerumunan yang diperkirakan penyelenggara mencapai 30.000 orang.
"Saat saya melihat sekeliling sekarang, saya melihat lautan persatuan, kebersamaan, dan solidaritas."
Jauh sebelum tragedi ini terjadi, Simon Baron-Cohen dari Autism Research Centre Cambridge sudah menyuarakan kekhawatiran atas kondisi mental Arday. Ia mengingatkan bahaya kerentanan psikologis serta tingginya risiko bunuh diri pada individu autis yang mengalami perundungan secara intensif.
Pihak keluarga Arday memilih tidak hadir secara langsung dalam aksi peringatan publik tersebut.
Pernyataan resmi keluarga dibacakan oleh anggota parlemen Bell Ribeiro-Addy di hadapan puluhan ribu massa.
"Beberapa hari terakhir ini merupakan waktu yang sangat menyakitkan," kata keluarga tersebut sambil berterima kasih atas kebaikan, kemurahan hati, dan solidaritas yang ditunjukkan publik.
Keluarga mengenang Arday sebagai sosok yang penuh pengabdian dan selalu membimbing sesama melalui karya-karyanya.
"Kekejaman publik yang dialami Jason terlalu berat untuk ditanggung oleh pria mana pun."
Pernyataan tersebut ditutup dengan pesan mendalam yang pernah disampaikan oleh Arday semasa hidupnya.
"Setiap kehidupan manusia memiliki tujuan. Bayangkan apa yang mungkin terjadi jika kita semua bersatu dalam tujuan mulia untuk menghargai semua manusia secara setara. Maka mungkin, hanya mungkin, segala jenis hal besar menjadi mungkin."
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Tarif Ojol untuk Antar Barang dan Makanan Bakal Diatur Kemkomdigi, Ini Aturannya
-
Lagu 'Bella Ciao' Bercerita Tentang Apa? Dinyanyikan Massa Demo BEM UI di Bundaran HI
-
Detik-Detik Mobil SPPG Magetan Terguling Usai Hantam Tiang Wi-Fi
-
Skandal Rasisme Media Inggris, Kemarahan Rakyat di Balik Kematian Profesor Cambridge
-
81 Tahun Indonesia Merdeka, Mengapa Kita Masih Takut Menatap Masa Depan?
-
Sudah Akui Terima Duit Tambang, Bebizie Belum Juga Kembalikan Uang ke KPK
-
7 Sifat Belah Ketupat dan Rumus Menghitung Luas serta Kelilingnya
-
Ungkap Terima Kasih ke Barca, Ferran Torres Mulai Babak Baru Bersama PSG
-
Sama-Sama Kasual, Ini Perbedaan Sandal Gunung dan Sandal Pantai yang Perlu Kamu Tahu
-
Tinted Sunscreen Mengandung Niacinamide dan Ceramide Apa Ada? Ini Rekomendasinya