-
Kelangkaan dan mahal harga korek api melumpuhkan aktivitas memasak harian pengungsi Palestina di Gaza.
-
Blokade bantuan memaksa warga menggilir penggunaan korek api dan memanfaatkan jasa perbaikan barang bekas.
-
Pembatasan pasokan gas elpiji menjadikan pemantik api alat vital untuk menyalakan kayu bakar.
Di lokasi pengungsian Sekolah Al-Karmel, Gaza Barat, Shadi Abu Shamlah menggambarkan betapa langkanya alat pemantik api tersebut. Dari ratusan jiwa yang mengungsi di sekolah itu, hanya ada sekitar empat korek api yang beroperasi.
Akibatnya, satu-satunya korek api harus digilir dari satu tenda ke tenda lainnya secara bergantian. Tanpa alat ini, warga terpaksa tidur dalam keadaan lapar karena tidak bisa memasak makanan malam.
“Korek api hari ini adalah tulang punggung kehidupan. Jika Anda memiliki korek api di tenda, Anda aman. Jika tidak punya, Anda terjebak."
“Hal paling sederhana pun butuh api. Anda ingin secangkir teh, ingin memasak, ingin membuat susu untuk anak… Anda butuh api.
Tingginya permintaan perbaikan melahirkan profesi baru bagi sebagian warga yang kehilangan pekerjaan utama. Tamer Al-Shawish, mantan sopir berusia 24 tahun, kini membuka lapak reparasi korek api di dekat lokasi pengungsian.
“Perang telah memaksa kami melakoni pekerjaan yang tidak pernah kami ketahui sebelumnya. Saya mulai memperbaiki korek api agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga."
“Sebelum perang, tidak ada orang yang perlu memperbaiki korek api. Harganya murah dan selalu ada. Ketika gasnya habis, kami akan membuangnya dan membeli yang baru."
“Masyarakat datang membenahi korek api karena harganya lebih murah daripada membeli baru, terutama di tengah tingginya harga dan kelangkaan barang pokok."
Krisis korek api merupakan dampak turunan dari blokade total dan konflik bersenjata yang berlangsung di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Pembatasan ketat terhadap pasokan bahan bakar dan gas elpiji membuat warga bergantung sepenuhnya pada kayu bakar sebagai sumber energi utama.
Baca Juga: Israel Tolak Peta Jalan Damai AS Hingga Picu Kemarahan 8 Negara, Termasuk Indonesia
Sistem distribusi barang dagang yang terputus menciptakan lonjakan inflasi pada barang-barang manufaktur sederhana. Akibatnya, barang kebutuhan harian kecil berubah menjadi komoditas langka yang menentukan keberlangsungan hidup masyarakat di area pengungsian.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Berkat Digitalisasi, Verifikasi Penerima Bansos Kini Cukup 5 Menit dari Sebelumnya 200 Hari
-
Mabuk Berat Intisari! Joshua Ngaku Lupa ke Polisi Ditanya Alasan Ngamuk dan Telanjang
-
Good Will Hunting: Perjalanan Seorang Jenius Berdamai dengan Dirinya Sendiri
-
Harga Korek Api Naik 100 Kali Lipat di Jalur Gaza, Jadi Barang Paling Langka, Kenapa Bisa Begitu?
-
Bukan Jadi Ratu, WNI Korban Pengantin Pesanan di China Malah Wajib Layani 10 Orang di Satu Rumah
-
Tunggu Aku Sukses Nanti dan Kerja Keras yang Berubah Jadi Pembuktian Diri
-
Wacana Amnesti Koruptor BUMN Sesat Berbahaya, Berpotensi Bikin Korupsi Makin Subur
-
Galaxy Z Fold8 Bawa Layar Lipat 4:3, Samsung Fokus Ubah Cara Menikmati Konten
-
5 Rekomendasi Motor Matic Terbaik yang Paling Nyaman dan Irit untuk Perjalanan Jauh Luar Kota
-
7 Rekomendasi Bedak Mengandung Salicylic Acid dan Centella untuk Kulit Berjerawat