- Guru Besar UGM Priyono Suryanto mengkritik pemerintah karena penanganan karhutla masih terlalu mengandalkan respons saat api membesar.
- BNPB mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia hingga Minggu 22 Agustus 2026 telah mencapai 72.798 hektare.
- Priyono mendorong perubahan paradigma penanganan karhutla dari reaktif menjadi sistem penjagaan lingkungan secara berkelanjutan dan antisipatif.
Suara.com - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilakukan pemerintah masih terlalu mengandalkan respons ketika api sudah membesar.
Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM Priyono Suryanto mengkritik pola tersebut karena upaya pencegahan belum berjalan sebagai sistem penjagaan yang berkelanjutan.
Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Minggu (22/8/2026) menunjukkan luas karhutla di Indonesia telah mencapai 72.798 hektare.
Priyono menilai berbagai institusi memang mampu menunjukkan solidaritas ketika bencana terjadi. Namun, kekuatan tersebut belum selalu hadir dalam menjaga hutan dan lahan ketika situasi kembali normal.
"Solidaritas kelembagaan mencapai puncaknya ketika kebakaran terjadi, tetapi belum selalu bertahan dengan kekuatan yang sama ketika hutan sedang tidak terbakar," kata Priyono dikutip, Senin (24/8/2026).
Menurut Priyono, persoalan karhutla bukan semata-mata karena negara tidak memiliki program pencegahan. Masalahnya terletak pada keberlanjutan program dan kemampuan menjaga kerentanan di lapangan agar tidak berkembang menjadi kebakaran.
Kondisi gambut, perubahan penggunaan lahan, aktivitas ekonomi, faktor iklim, hingga dinamika sosial menjadi sejumlah faktor yang terus membentuk risiko karhutla.
"Padahal risiko kebakaran tidak pernah benar-benar hilang. Kerentanan terus berkembang melalui kondisi gambut, aktivitas ekonomi, perubahan penggunaan lahan, iklim, dan dinamika sosial. Karena itu pencegahan harus menjadi ekosistem penjagaan yang berkelanjutan," ungkapnya.
Priyono mendorong perubahan paradigma dari gotong royong yang hanya muncul saat krisis menjadi gotong royong untuk menjaga hutan secara permanen.
Baca Juga: Gempa M 5,2 Guncang NTT Pagi Ini, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga aparat keamanan harus terhubung dalam satu sistem yang terus memantau risiko dan melakukan intervensi sejak dini.
"Kekuatan yang biasanya muncul ketika adanya kebakaran harus tetap hidup ketika hutan sedang tidak terbakar. Disitulah pergeseran penting dari gotong royong krisis menjadi gotong-royong penjagaan hutan," tegasnya.
Jangan Biarkan Pengetahuan BRGM Hilang
Priyono juga menyoroti keberlanjutan pengetahuan dan pengalaman yang pernah dibangun Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).
Menurutnya, pengalaman lapangan, teknologi pembasahan gambut, serta model pemberdayaan masyarakat yang telah dikembangkan harus tetap menjadi aset nasional dan tidak hilang akibat perubahan kelembagaan.
"Karena itu, persoalannya bukan perlu atau tidak menghidupkan kembali BRGM, tetapi keberlanjutan asetnya," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Guru Besar UGM Kritik Penanganan Karhutla: Negara Baru Kompak Saat Api Membesar
-
Review Awarapan 2: Sinema Noir India Terbaik yang Penuh Ketegangan Seru!
-
Gaya Hidup Paycheck to Paycheck Bikin Finansial Gen Z Makin Rentan
-
Diliburkan Dampak Asap Karhutla, Siswa Madrasah Pekanbaru Belajar dari Rumah
-
Malaysia Terancam Kehilangan Rp11 Triliun, Anwar Ibrahim Minta Tolong Prabowo
-
Film Baby Udon Bikin Warga Medan Haru, Densu Beri Pesan Menyentuh soal Ujian Hidup
-
Transportasi Jateng Berbenah: Dari Taksi Listrik Hingga Layanan Pembayaran Nontunai
-
Sukses Tak Selalu Berisik, Kadang Ia Datang dalam Diam
-
Rapor Pemain Timnas Indonesia di Eropa: Ole Romeny Apes, Kevin Diks dan Dean James Berjaya!
-
Panik Digerebek Narkoba, Sejumlah Orang di Medan Nekat Lompat ke Sungai