News / Nasional
Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:08 WIB
Ilustrasi karhutla di Kalimantan Barat. (Dok. Ist)
Baca 10 detik
  • PT Mayawana Persada mengerahkan 170 personel, teknologi pemantauan, serta 74 sumber air untuk mengatasi karhutla di Ketapang dan Kayong Utara.
  • Perusahaan mengelola tata air gambut melalui penutupan pintu kanal dan penjagaan ketinggian muka air guna mencegah kebakaran bawah permukaan.
  • PT Mayawana Persada menyalurkan bantuan peralatan pemadam kepada Desa Padu Banjar untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mendeteksi kebakaran.

Suara.com - Kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat diperkuat dengan pendekatan berbasis sains, mulai dari pemantauan titik panas secara real-time, penguatan tim pemadam, hingga pengelolaan tata air di lahan gambut.

Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya risiko karhutla di tengah ancaman puncak musim kemarau dan fenomena El Niño.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengintegrasikan pemantauan hotspot melalui platform resmi SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan patroli lapangan.

Di wilayah kerja PT Mayawana Persada yang mencakup Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, misalnya, kesiapan penanganan karhutla diperkuat dengan pengerahan tujuh regu inti dan regu pendukung. Total 170 personel ditempatkan di delapan posko pemadam.

Kesiapan lapangan tersebut didukung menara pantau, drone, pesawat nirawak VTOL, CCTV, serta 74 titik sumber air yang tersebar di empat sektor operasional.

Tim melakukan patroli siang dan malam selama 24 jam. Ketika ditemukan titik api, pemadaman dilakukan sekaligus dengan upaya pengendalian penyebaran, termasuk pembuatan sekat bakar sesuai kondisi di lapangan.

Setelah api berhasil dikendalikan, petugas melakukan pendinginan dan pemantauan berkala untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Direktur PT Mayawana Persada Iwan Budiman mengatakan penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pencegahan agar dampak kebakaran tidak meluas.

“Prioritas kami saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran dilakukan secepat dan seefektif mungkin, sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan masyarakat. Kami menyadari bahwa kejadian ini juga menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu, selain mengerahkan sumber daya untuk penanganan di lapangan, kami melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi kawasan dan langkah-langkah pengelolaan yang perlu diperkuat ke depan,” ujar Iwan.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Gubernur Kalsel Bersama Warga Banjarmasin Gelar Shalat Istisqa

Tata Air Jadi Kunci Pencegahan di Lahan Gambut

Pendekatan berbasis sains juga diterapkan melalui pengelolaan hidrologi gambut. Tata air menjadi salah satu faktor penting karena gambut yang kering lebih mudah terbakar dan kebakaran dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah.

Asisten Kepala Environment PT Mayawana Persada Agus Trijoko mengatakan infrastruktur kanal di kawasan konsesi digunakan untuk menahan dan mengatur distribusi air atau rewetting.

“Menghadapi musim kemarau dan El Niño, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan. Secara teknis, perusahaan menjaga Tinggi Muka Air (TMA) rata-rata pada kisaran 40 sentimeter untuk memastikan lahan tetap lembap tanpa menggenangi perakaran tanaman,” jelas Agus.

Tinggi muka air tersebut dipantau selama 24 jam menggunakan stasiun sensor telemetri otomatis atau level logger. Pengelolaan ini ditujukan untuk menjaga kelembapan gambut sekaligus mengurangi risiko kebakaran bawah permukaan atau smoldering combustion yang sulit dideteksi dan dipadamkan.

Kesiapan Masyarakat Ikut Diperkuat

Load More