- Banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan Nepal dan China pada Rabu (26/8/2026).
- Bencana tersebut menyebabkan 98 orang tewas, lebih dari 400 orang hilang, serta merusak infrastruktur.
- Pemerintah Nepal dan China mengerahkan personel darurat untuk melakukan operasi pencarian serta evakuasi korban.
Sejumlah bangunan bahkan nyaris seluruhnya tertutup material lumpur, sementara hanya bagian atas beberapa rumah yang masih terlihat.
Bencana juga mengganggu sektor energi Nepal.
Nepal Electricity Authority menyebut sekitar 430 megawatt kapasitas produksi listrik, termasuk pembangkit tenaga air dan surya, terdampak akibat kerusakan fasilitas produksi, transmisi dan distribusi.
Sejumlah jalan utama turut ditutup karena kondisi medan yang berbahaya. Gangguan akses tersebut menjadi salah satu kendala dalam proses pencarian dan evakuasi korban.
Operasi Pencarian Dikerahkan
Pemerintah Nepal mengerahkan helikopter dan personel tanggap bencana ke sejumlah lokasi terdampak.
Operasi pencarian dilakukan untuk menemukan warga maupun wisatawan yang masih belum diketahui keberadaannya.
Di China, Presiden Xi Jinping memerintahkan operasi pencarian dan penyelamatan secara menyeluruh.
Ia meminta seluruh upaya diarahkan untuk menemukan korban hilang, menangani korban luka dan meminimalkan jumlah korban.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah juga menggelar rapat darurat untuk mengevaluasi dampak bencana.
Pemerintah Nepal berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat proses penyelamatan dan penanganan para korban.
Diduga Dipicu Longsoran Batu dan Es
Sejumlah analisis awal menyebut bencana kemungkinan berkaitan dengan longsoran batu dan es yang menyebabkan aliran sungai tersumbat sebelum akhirnya memicu banjir besar.
Namun, penyebab pasti dan rangkaian kejadian masih terus diteliti oleh otoritas serta para ahli.
Bencana ini menjadi salah satu peristiwa banjir paling mematikan di kawasan perbatasan Nepal-China dalam beberapa waktu terakhir.