- JPPI merekomendasikan pemerintah menghentikan sementara pelaksanaan MBG secara nasional setelah kembali terjadi kasus keracunan pada Kamis (3/9/2026).
- Catatan JPPI menunjukkan jumlah korban keracunan program MBG mencapai 15.735 orang sepanjang Januari hingga akhir Agustus 2026.
- Organisasi tersebut meminta penghentian praktik guru mencicipi makanan serta mendesak pemrosesan hukum bagi pihak yang lalai.
Suara.com - Kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah aktivitas sekolah kembali berjalan usai libur panjang.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mempertanyakan hasil evaluasi yang disebut dilakukan pemerintah selama masa libur sekolah.
JPPI menilai, kembali maraknya kasus keracunan setelah libur sekolah menunjukkan evaluasi yang dilakukan belum menghasilkan perubahan dalam pelaksanaan program MBG.
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menyampaikan bahwa evaluasi yang dilakukan pemerintah selama libur sekolah semestinya berdampak pada perbaikan layanan ketika program kembali berjalan.
“Kalau setelah libur panjang, setelah evaluasi, setelah dapur ditutup, kasus keracunan justru kembali marak, maka kita harus berani mengatakan evaluasinya gagal. Pemerintah jangan terus menjual kata ‘evaluasi’ sementara anak-anak terus masuk puskesmas dan rumah sakit. Evaluasi yang tidak mengubah tata kelola hanya menjadi ritual birokrasi setelah korban berjatuhan,” kritiknya, Kamis (3/9/2026).
Catatan JPPI, sepanjang Januari hingga akhir Agustus 2026 terdapat 15.735 korban keracunan MBG. Khusus pada Agustus 2026, jumlah korban yang dicatat mencapai 3.079 orang.
Ubaid menegaskan, persoalan keracunan MBG tidak bisa diselesaikan hanya dengan langkah administratif seperti menutup sementara dapur atau memberikan teguran kepada pengelola.
Organisasi tersebut juga menyoroti praktik sejumlah pihak yang meminta guru mencicipi makanan MBG sebelum makanan tersebut didistribusikan kepada siswa.
Ubaid menyesalkan adanya pihak yang menyalahkan guru karena dianggap gagal mendeteksi makanan basi. Menurut JPPI, guru bukan pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keamanan pangan dalam program tersebut.
“Jangan jadikan lidah guru sebagai alat detektor racun. Guru bukan petugas laboratorium, bukan ahli keamanan pangan, dan bukan tameng bagi kegagalan SPPG. Kalau keamanan makanan bergantung pada guru mencicipi satu sendok sebelum makanan dibagikan, itu justru bukti bahwa sistem pengawasan MBG sangat rapuh," jelas Ubaid.
Baca Juga: Korban Keracunan MBG Mencapai 43.838 Orang, JPPI Heran Tak Ada SPPG yang Diproses Hukum
Ia menilai persoalan MBG tidak semata-mata berkaitan dengan makanan basi yang sudah sampai di sekolah. Menurutnya, persoalan yang perlu diperbaiki berada pada seluruh rantai keamanan pangan, mulai dari dapur hingga makanan diterima siswa.
JPPI kemudian merekomendasikan pemerintah menghentikan sementara pelaksanaan MBG secara nasional sampai keamanan pangan dapat dijamin dan kasus keracunan berulang dapat dihentikan.
Selain itu, praktik guru sebagai pencicip makanan juga diminta untuk dihentikan serta pihak yang dinilai lalai hingga menyebabkan orang sakit diproses secara hukum.
Berita Terkait
-
Korban Keracunan MBG Mencapai 43.838 Orang, JPPI Heran Tak Ada SPPG yang Diproses Hukum
-
Media Internasional Soroti Keracunan Massal MBG, Singgung Reformasi Program Pemerintah
-
MBG Berbahaya: Ketika Nasi, Tempe, dan Telur Berujung Keracunan Massal di Pesantren Sidoarjo
-
Kemenag Buka Suara Soal Ratusan Santri Sidoarjo Diduga Keracunan MBG
-
Cegah Keracunan Massal, BPOM Fokuskan Anggaran Rp509 Miliar untuk Kawal MBG
Terpopuler
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
- Mitchell Baker Cetak 3 Gol dari 4 Laga Bakal Dipanggil John Herdman di FIFA ASEAN Cup 2026?
- Persib Bandung vs Seoul FC dan Melbourne Victory, Mariano Peralta Kirim Psywar
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Kebakaran Hebat Terjadi di TPA Putri Cempo Solo
-
Ujian Berat MBG: Ketika Nasi, Tempe, dan Telur Berujung Keracunan Massal di Pesantren Sidoarjo
-
516 Korban Keracunan, Bupati Sidoarjo Ultimatum BGN Soal Perizinan: Ini Harus Tegas!
-
Kabar Gembira! Mulai 2027 Guru PPPK Paruh Waktu Resmi Diangkat Jadi Penuh Waktu
-
KPK Geledah Perusahaan Tambang Terkait Kasus Pajak Banjarmasin, Nama Adaro Ikut Terseret
Terkini
-
Syarat dan Cara Klaim Promo Diskon Goers Pakai Kartu Debit BRI
-
Fadly Padi Ajak Makassar Bernyanyi untuk NTT Lewat Sound of Humanity
-
Dieng Punya Harta Karun Sejarah, Dua Peninggalan Dibidik Jadi Cagar Budaya Nasional
-
Mobil Termurah Indonesia Mulai 140 Jutaan: Mending Suzuki S-Presso atau Daihatsu Ayla?
-
Apa Penyebab Rem Hidrolik Sepeda Gunung Blong? Ini 8 Cara Bleeding
-
Brantas Abipraya Fokus Jadi Kontraktor, 29 Anak Usaha Dibubarkan
-
Keracunan Terus Terjadi, Evaluasi MBG Saat Libur Sekolah Dinilai Gagal Total
-
Harga New Balance 530 Termurah Berapa? Intip Perbandingannya di Berbagai Toko Resmi Ini
-
Sambut Kampanye Belanja Akhir Tahun, Shopee dan Anteraja Bekali Puluhan Pelaku UMKM Strategi Promosi
-
Review Serial X-Men '97 Season 2: Sebuah Aksi Pertarungan Epik Lintas Waktu