Wamensos Dukung Penguatan Literasi Keuangan Generasi Muda Disabilitas

Kamis, 03 September 2026 | 12:30 WIB
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo saat menerima audiensi Institusi Disabilitas Indonesia (INDISI) di Ruang Rapat Lantai 6 Kementerian Sosial RI, Jakarta, Kamis (3/9/2026). (Dok: Kemensos)

Suara.com - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mendukung penguatan literasi keuangan bagi generasi muda penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan memperluas kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Hal itu disampaikan Agus Jabo saat menerima audiensi Institusi Disabilitas Indonesia (INDISI) di Ruang Rapat Lantai 6 Kementerian Sosial RI, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Audiensi tersebut membahas rencana kolaborasi INDISI bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam kegiatan “Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas” yang akan melibatkan sekitar 210 siswa penyandang disabilitas dari tujuh SLB di Jakarta.

Ketua Harian INDISI Citragama Prameswari menjelaskan, INDISI berdiri sejak 2020 dan selama ini telah membangun kolaborasi dengan berbagai instansi dan dunia usaha dalam pengembangan program bagi penyandang disabilitas.

Salah satu fokus INDISI tahun ini adalah program “Disabilitas Menuju Siap Kerja”, yang ditujukan untuk mempersiapkan siswa penyandang disabilitas, khususnya jenjang SMA, agar lebih siap memasuki dunia kerja.

Menurut Citragama, pengalaman berdialog dengan guru-guru SLB menunjukkan bahwa kemampuan akademik siswa sebenarnya telah berkembang dengan baik. Namun, terdapat aspek lain yang perlu diperkuat sebelum mereka memasuki lingkungan kerja, terutama soft skill dan kemampuan interpersonal.

“Anak-anak tidak hanya perlu memiliki keterampilan, tetapi juga perlu memahami budaya organisasi di tempat kerja, mampu berkomunikasi, dan mempersiapkan diri menghadapi wawancara kerja,” ujar Citragama.

Program tersebut dikembangkan agar siswa memiliki kepercayaan diri dan kesiapan yang lebih baik ketika memasuki proses rekrutmen. INDISI juga berupaya memperkenalkan dunia kerja secara lebih konkret sehingga penyandang disabilitas tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang di lingkungan kerja.

Citragama juga menyampaikan bahwa pada 16 Juli 2026, INDISI bersama tujuh SLB di Jakarta mencatat pengalaman penting dengan membuka akses bagi 162 siswa penyandang disabilitas untuk mengunjungi Istana Negara. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang inklusi dan memastikan penyandang disabilitas dapat mengakses ruang-ruang publik secara setara.

Selain kesiapan kerja, INDISI melihat pentingnya memperkenalkan literasi keuangan dan investasi sejak dini. Karena itu, kolaborasi dengan BEI melalui kegiatan “Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas” diarahkan untuk memberikan pemahaman sederhana mengenai pasar modal dan pentingnya perencanaan keuangan kepada generasi muda penyandang disabilitas.

Citragama mengatakan, pengenalan investasi tidak dimaksudkan sekadar untuk mengenalkan produk keuangan, tetapi menjadi bagian dari pendidikan menuju kemandirian finansial.

“Sejak dini anak-anak perlu memahami bahwa mempersiapkan masa depan bukan hanya dengan menabung, tetapi juga mengenal bagaimana mengelola dan mengembangkan keuangan secara bijak,” katanya.

Kegiatan yang direncanakan pada 21 September 2026 itu akan diikuti sekitar 210 siswa dari tujuh SLB di Jakarta bersama guru pendamping. Selain literasi pasar modal, kegiatan juga akan diisi dengan pembekalan “Disabilitas Menuju Siap Kerja”.

Menanggapi hal tersebut, Wamensos Agus Jabo menilai inisiatif tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Sosial dalam memperkuat pemberdayaan penyandang disabilitas.

Agus Jabo menjelaskan, berdasarkan mandat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Kemensos memiliki fungsi dalam tiga bidang utama, yakni perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, serta pemberdayaan sosial. Penyandang disabilitas menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan fungsi tersebut.

“Penanganan penyandang disabilitas tidak berhenti pada perlindungan. Kita juga harus memastikan mereka mendapatkan rehabilitasi, kesempatan berkembang, dan ruang untuk menjadi mandiri,” katanya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com