News / Nasional
Jum'at, 04 September 2026 | 07:45 WIB
Gabungan massa aksi menuntut pertanggungjawaban terkait narasi palsu Humas Polda DIY dan pembiaran kekerasan oleh aparat di Bundaran UGM, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Mahasiswa dan relawan medis menyebut Polda DIY melakukan penggiringan opini lewat video aksi demonstrasi di Yogyakarta pada 1 September 2026.
  • Perwakilan massa menyatakan botol oranye yang dituding berisi cairan merica sebenarnya berisi air dan Mylanta sebagai alat penetralisir efek gas air mata.
  • Aliansi massa mendesak Kapolda DIY segera meminta maaf dan mengusut tuntas tindakan kekerasan aparat dalam kurun waktu 2x24 jam.

Suara.com - Mahasiswa dan tim relawan medis membongkar dugaan pembingkaian opini oleh Polda DIY melalui unggahan video bertajuk "Fakta di Lapangan" terkait aksi demonstrasi di Simpang Empat Gramedia, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).

Massa menilai video yang dipublikasikan melalui akun resmi Polda DIY tersebut tidak menampilkan rangkaian kejadian secara utuh. Mereka menyoroti audio percakapan yang disebut dikecilkan atau dihilangkan serta potongan video yang dinilai mengubah konteks keberadaan sebuah botol berisi cairan.

Salah satu perwakilan aliansi, Maul, mengatakan dirinya merupakan orang yang berada dalam video tersebut. Saat kejadian, ia mengaku didatangi polisi yang menuding botol berwarna oranye yang dibawanya berisi cairan merica.

"Jadi, pada saat itu polisi mendatangi saya dengan keadaan berteriak bahwasanya dia dituduh membawa sprayer yang berisi cairan merica," ungkap Maul kepada awak media di Bundaran UGM, Kamis (3/9/2026).

Maul kemudian menunjukkan konteks yang menurutnya tidak terlihat dalam unggahan Polda DIY. Ia mengaku telah menjelaskan kepada petugas bahwa botol tersebut merupakan peralatan medis untuk membantu menetralisir efek pepper spray.

"Karena pada saat itu saya mengerti bahwasanya ini adalah alat medis untuk menetralisir dari pepper spray tersebut, maka saya mengambil alat tersebut dan bilang ini punya medis. Namun sayangnya, pada postingan Polda DIY, suara dari video itu dikecilkan atau malah dihilangkan," bebernya.

Menurut Maul, pembingkaian semakin terlihat karena rekaman lanjutan saat dirinya menggunakan cairan tersebut untuk membantu demonstran yang terkena paparan zat kimia tidak ikut ditampilkan.

"Pada aslinya, terdapat video lanjutan bahwasanya saya membantu rekan-rekan massa yang terkena pepper spray dengan menggunakan alat ini, alat penetralisir dari pepper spray ini. Kiranya cukup dari kronologi aslinya," tegasnya.

Tim medis menunjukkan barang bukti semprotan berisi cairan mylanta saat aksi di Simpang Empat Gramedia kemarin di Bundaran UGM, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Hislia]

Air dan Mylanta

Baca Juga: Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa

Perwakilan Tim Medis turut menjelaskan isi botol yang dipersoalkan dalam unggahan Polda DIY. Menurut dia, cairan tersebut hanya campuran air dan obat maag Mylanta.

"Iya, sebenarnya isinya ini tidak lebih dari air dan larutan Mylanta yang dicampur," papar perwakilan Tim Medis.

Cairan tersebut, kata dia, disiapkan untuk membantu mengurangi efek perih akibat paparan gas air mata maupun pepper spray.

"Di beberapa aksi sebelumnya itu cukup terbukti bisa membantu sementara ya, membantu sementara efek perih dari gas air mata atau mungkin dari partikel pepper spray juga, gitu. Jadi tidak lebih dari sekadar air dan Mylanta," tegasnya.

Jumlah botol tersebut juga disebut terbatas dan hanya digunakan oleh relawan medis.

"Itu hanya sekitar tidak lebih dari lima. Kalau saya ingat mungkin dengan tepat itu ada tiga botol, satu botol kayak gini dua bentuk jumlahnya dan satu botol yang lebih besar," ungkapnya.

Load More